
"Awas, pasien kritis!" Dua orang perawat mendorong banker ke arah ruang operasi.
"Siapkan semuanya!" Seorang Dokter pun berteriak. Keadaan sangat genting ketika seorang pasien laki-laki masuk rumah sakit setelah diantar seseorang.
"Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi?' tanya Dokter lelaki.
"Tidak ada, Dok." Salah seorang karyawan menjawab cepat.
"Lakukan saja operasinya. Nyawa orang lebih penting."
Di sinilah hati nurani berperan. Sebagai Dokter tentu ada dilema ketika pasien tak memiliki penjamin, tetapi membutuhkan operasi. Namun, hal ini sama sekali tidak membuat Dokter Hari gentar. Profesinya adalah menolong sesama. Memberikan pelayanan terbaik.
Mereka sampai di ruangan operasi. Perut bagian kanan bekas tusukan pisau itu yang menjadi tokoh utama dan perlu tindakan medis dengan baik. Dua perawat laki-laki dengan Dokter Hari bekerja sama menyelamatkan nyawa pasien. Mencoba sebaik mungkin dan pasrah pada Yang Maha Kuasa.
"Lakukan yang terbaik,' kata Dokter Hari.
Kedua perawat mengangguk secara bersamaan. Mereka membantu semampunya sesuai arahan sang Dokter.
Operasi berjalan sekitar satu jam. Berjalan dengan lancar dan baik. Untung saja pasien itu bisa ditemukan dengan cepat. Inilah keajaibang Sang Maha Kuasa.
__ADS_1
Setelah operasi selesai. Pasien dipindahkan ke ruangan rawat inap VIP. Sesuai identitas dan juga penggeledahan di ponsel korban, ada keluarganya yang bisa dihubungi. Sepertinya wanita yang berjuluk Ibu.
"Kita tunggu keluarganya datang." Dokter Hari segera menangani pasien yang lain. Masih banyak yang butuh uluran tangannya.
Sementara itu, di kamar sebelah Rina sedang disuapi oleh Alvin. Bubur yang baru dibeli tersebut menggoda lidah.
"Saya jadi heran. Sebenarnya kamu itu sakit atau nggak." Alvin mengerutkan kening. Menatap istrinya yang makan dengan lahap.
Dahi Rina ikut berkerut. "Memangnya kenapa, Mas?"
Alvin kembali memberikan suapan kelima pada sang Istri. Bukan kesal, tetapi hanya heran saja. "Biasanya orang sakit itu nggak mau makan, tapi kamu apa saja dilahap." Kepala lelaki itu menggeleng cepat. "Jadi, saya pikir kamu sebenarnya sehat-sehat aja."
"Lagian orang sakit juga butuh nutrisi!" Rina langsung melahap suapan terakhir dari bubur.
Sudut bibir kanan Alvin terangkat ke atas. Senang melihatnya. Kejadian hari ini menjadi pelajaran untuk Alvin supaya lebih berhati-hati menjaga titipan-Nya.
"Mas, aku masih mau ngemil,' kata Rina yang berhasil menambah rasa heran suaminya.
"Bisa beliin martabak, nggak?" tanya Rina lagi.
__ADS_1
Alvin menghela napas kasar. Bukan tak suka, hanya saja heran saja. "Kamu bukannya habis makan bubur?"
"Iya." Rina menjawab cepat.
"Masih mau ngemil?"
Sekarang Rina mengangguk cepat.
"Baiklah." Alvin tak lupa istigfar. Usia segini memang sedang lucu-lucunya. Pria itu berdiri. Terlebih dahulu membuang sampah bekas bubur, lalu berkata, "Aku pergi beli dulu. Assalamualaikum."
Rina mengembangkan senyum manis. "Iya, Suamiku yang baik hati. Wa'alaikum salam. Jangan kenceng-kenceng nyetirnya, nanti martabaknya jatuh." Perempuan itu sedikit tertawa.
Rasanya Alvin ingin tertawa, tetapi ditahan juga. Kelakuan sang Istri memang random. Sebagai seorang suami serta orang yang lebih dewasa. Ia memang perlu memahami.
Alvin keluar ruangan. Melihat dua suster masuk. Rupanya ada pasien baru di sebelah. Mereka lupa menutup pintu.
Baru saja tiga langkah ke depan. Terdengar suara seseorang yang dikenalnya. Alvin terpaksa berhenti. Memang tidak ada kabar sejak pertemuan tadi siang.
"Dia di sini," gumam Alvin penasaran.
__ADS_1