
Alvin berangkat ke kampus seperti biasa bersama Rina. Namun, istrinya itu tetap minta turun di dekat halte bus sembarang kampus.
"Jangan kabur! Kelas saya sebentar lagi," kata Alvin sebelum Rina pergi.
"Ya, ya, bawel! Aku juga nggak berniat kabur." Rina kesal. Syarat yang diajukan Alvin terbilang gila. Bagaimana tidak Alvin akan ikut ke study tour. Tentu mereka tetap merahasiakan pernikahan ini.
"Saya bayar semuanya biaya study tour, tapi saya ikut."
Rina tak lagi berkata-kata. Alvin punya hak. "Baik, Mas Alvin yang tampan. Dosenku, suamiku. Istrimu ini menurut.'
Alvin tersenyum penuh kemenangan. "Nah, itu namanya istri baik. Tidak sombong dan pintar menghemat. Jangan lupa bayar tagihan listrik dan wifi bulan ini. Uangnya sudah saya transfer ke rekeningmu."
Rina mengangguk pelan. "Iya, ya. Makasih uangnya."
"Ya sudah, saya duluan. Jangan lirik sana sini kalau nyebrang. Assalamualaikum." Alvin kembali menyetir.
"Kalau nggak lirik sana sini, bisa ketabrak istrimu ini, Mas!' geram Rina. Harus lebih sabar menghadapi sifat asli Alvin yang ternyata menyebalkan. "Kalau ada tempat tukar tambah suami, aku mau ikut."
Rina berjalan ke arah jalur kanan. Berdiri di zebra cross. Menatap mobil hitam itu pergi membawa Alvin ke arah gedung tinggi bernama Universitas Malaya.
Rina menghela napas. Lega. Kini tak lagi berurusan dengan Dani. Semoga saja lelaki itu pergi dari hidupnya.
Mengingat percakapannya dengan Keysa dua hari ke belakang membuat Rina tertawa geli. Sekali pun diberi uang atau ditawarkan beberapa fasilitas terbaik, ia tak sudi kembali pada Dani.
__ADS_1
"Mungkin dia ketakutan," kata Rina.
Rina menyebrang. Jalan teratur ke arah gedung kampus dan bersiap menjalani pelajaran hari ini.
Sementara itu Alvin sudah sampai di ruangan dosen yang langsung disambut permintaan maaf Ronal karena belum bisa membayar hutang.
"Tidak perlu dibayar, Pak. Untuk anaknya beli susu saja," kata Alvin. Bukan dengan alasan kasihan saja yang menggerakan hati Alvin, tetapi juga ia tak suka banyak berurusan dengan orang yang sulit dalam hal kecil. "Sampaikan salam saya ke anak Pak Ronal."
Ronal diam. Tatapan mata Alvin seakan menyindirnya. Mungkinkah lelaki gila ini tahu?
"Maklum, Pak Alvin, anak saya masih kecil. Jadi, masih harus diperhatikan gizinya."
Alvin diam. Membuka laptop dan mengangkat kepala. "Saya mau bekerja, Pak Ronal. Bisa ditinggal sendiri?"
Alvin akan mengecek beberapa tugas mahasiswanya yang belum terjamah kemarin. Belum lagi ada dua kelas yang akan dihadiri serta harus pergi ke butik untuk mengecek beberapa gaun yang tengah dijahit.
Setengah jam berlalu, Alvin berdiri dan keluar ruangan dengan membawa sebuah maps merah di tangan. Berjalan dengan pesonanya yang tak bisa dipungkiri melebihi artis papan atas tersebut.
"Gila Pak Alvin keren banget," komentar seorang mahasiswi memakai dress biru muda.
"Coba deketin. Kali aja masih jomblo," saran temannya yang berambut panjang sebahu.
"Tapi, takutnya ditolak mentah-mentah."
__ADS_1
"Ah, lo, mah gitu aja nyerah. Namanya juga usaha."
Mereka memandangi Alvin dari kejauhan.
Alvin terus berjalan mendekati. Melewati keduanya tanpa sedikit pun menoleh. Pandangan seperti ini bukanlah hal yang biasa. Tak membuatnya gugup juga.
Wanita dengan dress biru muda itu pun tidak berpikir panjang lagi. Menyusul Alvin seraya berkata, "Pak Alvin, tunggu!"
Langkah Alvin terhenti. Berdiri di tempat. Wanita itu butuh beberapa detik untuk bisa ada di depannya.
"Maaf, Pak, saya mengganggu." Sebuah senyuman manis diberikan wanita itu pada Alvin.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alvin tanpa ekspresi.
Wanita itu gugup. Lupa mempersiapkan topik sebelum mendekat.
"Eh, saya mau minta pelajaran tambahan, Pak," jawab si Wanita.
Alvin menatapnya dalam. Berhasil memporak porandakan diri anak muridnya karena merasa ada yang salah.
"Saya masih belum paham. Kalau pelajaran tambahan, kan, cuma berdua. Saya yakin bisa paham," sambung si Wanita.
Alvin belum bereaksi apa pun.
__ADS_1
"Pak Alvin bisa?" Tak peduli seberapa malu dirinya, si Wanita itu tetap saja berpegang teguh pada tekadnya. "Saya yakin kalau Pak Alvin ini dosen yang punya misi mencetak anak bangsa yang berbakat. Masalah seperti ini seharusnya tidak mengganggu. Justru senang karena itu artinya Pak Alvin dibutuhkan."