Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Keysa lagi


__ADS_3

"Jadi suamimu beneran nggak masuk nih?" tanya Caca sedikit kencang.


Rina menginjak kaki kanan Caca cepat seraya berkata, "Hus, jangan kenceng-kenceng ngomongnya!" Sudut mata kanan Rina melirik sekitar. Aman. 


Keduanya berada di tengah lautan manusia yang sedang makan. Kantin kampus memang selalu penuh menjelang makan siang.


"Aduh, sakit!" Caca mengangkat kaki kanan dan mengelusnya. "Ya, maaf."


Rina menghela napas. "Dia capek katanya."


"Ya, pasti capek. Kan, pulang pergi luar kota. Aku mah nggak sanggup."


Rina memahami. Namun, ada hal yang paling menyenangkan lebih dari itu. "Oh, ya, Ca. Soal study tour bareng teman seangkatan. Memangnya jadi?" 


Caca baru ingat. "Ah, Iya. Jadi dong. Katanya mereka bilang akhir bulan ini."


Rina diam.


"Kenapa?" Caca mengendus sesuatu yang aneh. "Nggak dapat izin?" Pastinya begitu.


Rina menggelengkan kepala. "Bukan."


"Terus?" 


"Aku belum izin malahan, tapi masih bingung nyari dananya." Rina terhalang keuangan.


Caca melotot. Menggelengkan kepala dua kali. "Astagfirullah, Rin. Punya suami kaya masih aja bingung. Tinggal bilang doang."


Rina bergeming. Belum bisa ke tahap tersebut. Selama ini Alvin hanya memberinya uang nafkah, itu pun Rina belanjakan dengan sebaik mungkin untuk kebutuhan rumah dan hidup mereka.


"Jangan ragu. Sudah sewajarnya suami itu memenuhi kebutuhan istri." Caca mulai ceramah.


"In syaa Allah, nanti bilang."

__ADS_1


"Nah, gitu dong."


Keduanya terlibat percakapan sampai masuk waktu Duzhur. Salat lebih dahulu di masjid kampus, lalu menyusun rencana untuk hari ini.


Mengingat kelas Alvin kosong. Mereka memilih pergi ke sebuah mall. Tentu bukan untuk belanja, melainkan bermain saja mengisi waktu. Kajian pun sedang kosong hari ini.


Rina dan Caca berjalan di lantai dasar. Melihat-lihat toko baju yang ada. Beberapa kali Caca berhenti di depan toko pakaian, mengamati desaian mereka.


"Bajunya pada bagus-bagus. Kapan, ya, aku bisa bikin gaun secantik itu?" tanya Caca.


Rina tersenyun manis. "Nanti bisa. Yang penting terus aja usaha. Lihat aja Mas Alvin buktinya. Kata bundanya, Mas Alvin itu belajar tanpa henti. Nggak ngenal lelah sambil cari rezeki. Sekarang jadi desainer terkenal. Sayang … dia itu kadang nyebelin juga."


Caca terkekeh geli. "Jangan suka kesel sama suami sendiri. Nanti jatuh cinta lagi. Eh, kan, udah."


Rina menarik lengan Caca dan membawanya berjalan. "Kamu itu kalau ngomong suka seenaknya aja."


"Tapi, fakta." Caca tertawa.


"Lumayan tau," kata Desi yang lebih dulu memberi ide.


Bagus juga. Rina setuju. Mereka duduk di salah satu meja dan memesan menu yang harganya standar. Pas dengan kantong masing-masing.


Baru saja tiga menit duduk, perut Rina mulai terasa mulas. Ia pamit ke kamar mandi mall yang berada di bagian kanan. Cukup jauh dari toko.


Suasana toilet perempuan sepi pengunjung. Rina masuk ke salah satunya. Setelah selesai, ia keluar secepat mungkin. 


Kedua kaki perempuan itu baru saja keluar dari ambang pintu ketika suara Dani menyapa di toilet pria.


"Kamu di sini," katanya.


Rina tersentak. Hampir tak percaya. Menoleh ke samping kanan.


Dani tersenyum penuh kemenangan. Mendekati Rina dan berkata, "Di rumah mungkin aku nggak berkutik, tapi di luar aku bisa bebas melihatmu."

__ADS_1


Dada Rina naik turun menahan amarah.


"Sekuat apa pun Alvin mempertahankanmu, pasti ada celah buat narik kamu kembali," lanjut Dani dengan sorot mata sulit diartikan.


"Andai saja bukan karena Mas Alvin, aku sama sekali nggak mau ada orang lain di rumah. Apalagi itu kamu!" Dengan tegas Kamila mengutarakan isi hatinya.


Dani tak segan menarik lengan kanan Rina, membantingkan punggung perempuan itu ke tembok toilet. "Kamu berani?" 


Mata Rina terbelalak. Berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh Dani dari hadapannya. "Jangan pernah sentuh aku lagi. Kita berpisah atas keinginanmu, jadi jangan berharap bisa bersama lagi. Cukup ibuku yang menangis di depanmu dulu, jangan harap aku bakal sama!" Kekesalan Rina meningkat. Kehadiran Dani di kehidupannya yang tenang berdampak pada keadaan mentalnya.


Rina berjalan melewati Dani dua langkah ke depan. 


"Malam ini sepertinya akan ada tamu ke rumah. Sebaiknya kamu jangan pulang terlalu malam," imbuh Rina.


Dani mengerutkan kening. "Tamu? Siapa?" Rasa penasarannya menggebu. Berdiri di belakang Rina. 


"Seseorang yang pastinya kamu kenal."


Kerutan di kening Dani kian kencang. Tak berapa lama suara lantang Keysa terdengar dari arah depan.


"Sayang!" teriak Keysa sambil berjalan mendekati Rina dan Dani. Matanya menyorot tajam penuh kekesalan. "Siapa dia?" 


Rina diam. Muak mendengar pertanyaan gila dari wanita ini.


"Dia temanku," jawab Dani.


Syukurlah Dani tidak mengakui Rina bagian hidupnya. Rina pun tak sudi.


Keysa bergerak mengeliling Rina, berhenti di samping kanan Rina dan berbisik, "Ternyata teman, ya."


Rina memejamkan mata. Terlalu hanyut dalam drama ini memang tidak baik. Terseretnya ia ke sebuah permainan gila Dani bisa membahayakan keberadaannya.


"Saya permisi." Rina mengambil langkah ke depan empat kali. Tak disangka Keysa menyusul. Menahan perempuan itu sambil berkata, "Bisa bicara berdua besok? Di tempat lain."

__ADS_1


__ADS_2