
...Pagi hari. Bagas sudah sampai dirumahnya. Setelah semalam dia mendapat kabar bahwa perusahaannya dicabang mengalami trouble. Hingga mengharuskan Bagas turun tangan untuk mengeceknya sendiri....
...Karna kesibukannya, Bagas lupa untuk mengabari Khinan. Ditambah dia lupa untuk mengisi ulang batre ponselnya. Alhasil pagi ini Bagas dari luar kota langsung pulang untuk menemui sang istri....
...Bagas masuk kedalam rumah. Rumah terlihat sangat sepi....
..."Bik. Kemana Khinan ?" Tanya Bagas yg mendapati bik Ijah sedang mengepel lantai....
..."Non masih dikamarnya aden". Jawab Bik Ijah....
...Bagas segera naik kelantai atas dan menuju kamar. Lebih tepatnya kamar Khinan. Mencoba membuka pintu tapi pintu terkunci....
..."Naan". Kata Bagas sambil mengetuk pintu kamar Khinan....
...Khinan dari dalam kamar mendengar Bagas memanggilnya. Khinan segera menghapus air mata dipipinya. Dan bangun membukakan pintu untuk suaminya....
..."Iya kak". Sapanya setelah pintu terbuka....
..."Kamu kenapa ?" Tanya Bagas yg mendapati mata Khinan merah dan bengkak. Khinan menyadarinya....
..."Kemaren Khinan kena debu saat berkebun kak. Ini jadinya mata Khinan sakit". Jawabnya beralasan....
..."Kita kedokter ?" Tanya Bagas....
..."Gak perlu kak. Khinan baik-baik saja". Jawabnya. "Kakak baru pulang ?" Tanya Khinan mengalihkan pembicaraan....
..."Iya. Semalam ada trouble di perusahaan cabang. Dan itu sangat mendadak. Jadi aku lupa mau ngabarin kamu". Jelasnya. "Maaf ya". Imbuh Bagas....
...Khinan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya....
..."Kamu pasti belum makan. Ayo kita makan bareng". Ajak Bagas pada sang istri. Bagas dengan reflek membelai rambut Khinan. Entah kenapa Bagas melakukannya. Dia pun tak sadar jika tangannya saat ini memegang pipi Khinan. Khinan merasakan ketulusan dari diri Bagas. Dia membiarkan tangan Bagas tetap berada dipipinya....
..."Kita gak jadi makan ?" Tanya Khinan membuyarkan lamunan Bagas. Bagas tersadar dan melepas belaian tangannya dipipi Khinan. Setelahnya mereka pergi kebawah untuk sarapan bersama....
...Dilain tempat, Dinda sedang berada didalam mobil bersama kekasihnya....
..."Di. Mama nyuruh kita buat segera tunangan. Kamu gimana ?" Tanya nya pada Ardi....
..."Aku sih ayok aja. Semua tergantung kamu. Apapun yg tuan putri katakan. Hamba siap menjalankannya" Jawab Ardi menggoda sang kekasih....
..."Apaan sih kamu". Jawab Dinda....
...Ardi malah tertawa melihat Dinda yg mukanya memerah. Ardi meraih tangan Dinda dan dibawa kedada bidangnya....
..."Aku bersyukur memilikimu". Kata Ardi sambil memandangi sang kekasih. Dinda tersenyum dengan sikap manis Ardi kepadanya....
..."Aku lebih bersyukur memiliki kamu yg begitu pengertian". Balas Dinda....
...Ardi tersenyum dan kembali fokus pada kemudinya. Memang semenjak Dinda diterima oleh keluarga Ardi, Ardi kini kembali tinggal dirumah besar. Hubungannya dengan sang papa pun kian membaik. Ardi sudah menunjukkan bahwa dia begitu banyak perubahan....
...Dan tanpa sadar mereka sudah sampai ditempat kerja Dinda. Memarkirkan mobilnya didepan butik ternama....
..."Aku turun ya". Kata Dinda yg hendak membuka pintu mobil Ardi....
..."Tunggu". Kata Ardi menarik tangan Dinda dari pintu mobil. Dan secara reflek Dinda menoleh kearah sang kekasih. "Bayar dulu". Tambah Ardi....
__ADS_1
..."Bayar ?" Tanya Dinda dan diikuti anggukan oleh Ardi....
...Ardi mendekatkan pipinya. Bayar yg dimaksut oleh Ardi adalah bayar dengan sebuah ciuman. Dinda mengulas senyumnya. Dia mulai paham dengan bayaran yg diminta kekasihnya....
..."Di. Itu apa ?" Kata Dinda yg melihat kearah depan mobil....
..."Ada apa ?" Jawab Ardi menoleh kearah yg sama dengan Dinda....
...Namun di depan mobilnya Ardi tak menjumpai apa-apa. Dia pun melihat kearah Dinda. Dan...
..."Cup". Dinda mengecup bibir Ardi saat Ardi menoleh kearahnya. "I Love You". Lanjutnya. Ardi hanya tersenyum dibuatnya. Dan Dinda segera keluar dari mobil Ardi menuju butik tempat kerjanya. Untuk sesaat Ardi mematung dengan bibir yg selalu tersenyum. Sampai suara ponsel membuyarkan semuanya. Dan ternyata Dinda sang kekasih yg melakukan panggilan telfon itu. Ardi kembali tersenyum dan mengangkat panggilan itu....
..."Iya sayang". Sapa Ardi disambungan telfonnya....
..."Buruan berangkat Di. Ini udah siang. Nanti kena marah lagi sama Bagas". Kata Dinda dari dalam butik saat melihat mobil sang kekasih masih terparkir didepan butik....
..."Aku kangen". Balas Ardi menggoda sang kekasih lagi....
..."Kamu ini. Baru juga semenit yg lalu". Jawabnya. "Udah sana". Tambah Dinda lagi....
..."Ya udah iya. Aku berangkat". Balas Ardi lagi. Ardi kemudian mematikan panggilan telfon dari Dinda dan menyalakan mobilnya untuk segera menuju kantor....
...Ardi telah sampai diparkiran kantornya. Ardi yg hendak turun dari mobil, tanpa sengaja melihat Laras yg keluar dari kantor itu....
..."Ngapain dia disini ?" Tanya Ardi pada dirinya sendiri. Ardi hendak menghampiri Laras. Namun langkah Laras begitu cepat hingga Ardi kehilangan jejaknya....
..."Apa dia masih ganggu Bagas ?" Batinnya....
...Ardi segera memasuki kantornya dan menuju ruangan Bagas. Dan ketika sampai diruangan Bagas, dia tidak mendapati Bagas diruangannya. Hanya ada Vera sang sekertaris....
..."Bagas dimana ?" Tanya Ardi....
..."Trus tadi Laras ngapain kesini ?" Tanya Ardi lagi....
..."Laras ?" Tanya Vera balik. Pasalnya dari tadi Vera berada diruangan Bagas tapi tak melihat Laras datang sama sekali....
..."Laras tadi kesini kan ?" Ardi kembali bertanya....
...Vera hanya menggelengkan kepalanya. "Dari tadi pagi gue gak liat Laras sama sekali". Jawab Vera....
..."Oke kalau gitu. Gue balik keruangan". Kata Ardi dan kemudian keluar dari ruangan Bagas....
...Sedangkan Laras saat ini sedang berada disebuah taksi. Didalam taksi Laras hanya berdiam diri. Entah apa yg dirasakannya saat ini. Mengingat semalam dia begitu merasa nyaman. Namun tidak dengan pagi ini. Dia merasa hatinya tak karuan. Entah kenapa Laras pun tak memahaminya....
...Flashback#...
...Semalam dikomplek perumahan Laras terjadi pemadaman listrik akibat salah satu kabel mengalami konsleting. Saat itu Laras sedang bersama Bayu. Bayu yg baru saja membelikan makanan untuk Laras itu kebetulan masih disana saat pemadaman listrik. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lilin....
..."Lo disini dulu ya. Temenin gue". Pinta Laras pada Bayu....
..."Bukannya lo berani ya. Yg gue liat lo mandiri. Masak karna mati lampu doang lo takut". Jawab Bayu....
..."Lo tega ninggalin wanita hamil sendirian dirumah. Mana mati lampu lagi". Kata Laras lagi....
..."Alesan hamil dibawa-bawa. Atau jangan-jangan lo mau nahan gue disini ?" Kata Bayu mencoba menggoda Laras....
__ADS_1
..."Ya udah sana lo balik. Gue gak butuh lo disini". Marah Laras. Mungkin karna bawaan bayi jadi Laras begitu sangat sensitif. Padahal maksut Bayu hanya bercanda....
..."Kok lo jadi sensi gitu sih". Balas Bayu sambil memicingkan matanya....
..."Serah". Laras acuh dan mencoba bangkit dari duduknya. Laras hendak pergi kekamarnya. Namun kakinya tersandung oleh karpet diruang tamu itu. Alhasil Laras hampir terjatuh. Namun Bayu dengan sigap menangkapnya. Kini Laras berada dipelukan Bayu. Untuk sesaat mereka saling memandang. Entah berapa lama moment itu terjadi....
..."Makanya kalau jalan hati-hati". Kata Bayu setelah sadar akan lamunannya....
..."Iihh. Ambil kesempatan lo ya". Timpal Laras dan berusaha melepaskan diri dari Bayu....
..."Enak aja". Jawab Bayu membiarkan Laras lepas dari pelukannya....
...Laras dan Bayu kembali duduk disofa ruang tamu. Asik mengobrol ditengah gelapnya ruangan itu. Namun tiba-tiba Laras mengalami kram diperutnya....
..."Aduh. Aaww". Keluhnya....
..."Lo kenapa ?" Tanya Bayu panik....
..."Perut gue kram" Jawab Laras sambil mengelus-elus perut yg sudah membuncit itu....
..."Trus gue harus gimana ?" Tanya Bayu yg masih panik. Dia mengira bahwa kram diperut wanita hamil itu bahaya....
...Laras memandangi Bayu yg sedari tadi panik tak karuan karna melihatnya meringis kesakitan. Lalu tiba-tiba dia tersenyum....
..."Kok lo malah senyum-senyum sih ? Katanya sakit perutnya". Tanya Bayu lagi....
...Laras pun tertawa dibuatnya. "Ya biasanya kalau kram gue giniin". Jawabnya sambil melihat kearah tangan yg dari tadi mengelus-elus perutnya sendiri....
...Bayu memicingkan matanya. Ragu untuk melakukan seperti yg Laras lakukan. Namun akhirnya tangan Bayu bergerak menuju perut Laras. Mengelusnya perlahan dan tersenyum....
..."Bini gue aja dulu gak pernah gue giniin". Katanya disela-sela aktifitasnya....
...Laras ikut tersenyum mendengar penuturan Bayu. Laras terus memandangi lelaki disampingnya itu. Dia yg bukan siapa-siapa tapi selalu mau direpotkan olehnya. Karna hampir setiap Laras nyidam, Bayulah yg dengan siaga menurutinya. Pandangan Laras terhenti dibibir tebal Bayu. Entah kenapa hasratnya untuk menyentuh bibir tebal itu tiba-tiba muncul. Apa karna selama hamil Laras belum pernah melakukannya lagi ?. Laras pun memberanikan diri untuk berbicara pada Bayu....
..."Bay. Gue nyidam". Kata Laras....
...Bayupun menghentikan aktifitasnya mengelus perut Laras....
..."Lo mau apa ?" Tanya Bayu terlihat tulus untuk memenuhi keinginan Laras....
..."Gue mau lo". Jawabnya....
...Bayu melihat kearah Laras. Belum paham dengan apa yg dimaksut Laras. Namun setelah mereka saling memandang, barulah Bayu paham dengan apa yg diinginkan Laras....
..."Lo pengen itu sama gue ?" Tanya Bayu mencoba memperjelas pikirannya....
...Laras hanya menganggukkan kepalanya. Dan dengan perlahan Laras memajukan wajahnya untuk mendekati wajah Bayu....
..."Lo lagi hamil. Emang boleh ?" Tanya Bayu lagi....
..."Boleh. Asal pelan-pelan". Timpal Laras....
...Laras kembali memajukan wajahnya. Dan dimenit selanjutnya, Bibir Laras sudah berhasil menyentuh bibir tebal Bayu. Mereka saling *******. Bayu tak menolak apapun perlakuan dari Laras. Karna Bayu pria normal yg akan terbawa suasana saat ada moment seperti ini....
...Kini tangan Laras sudah berusaha membuka kancing kemeja Bayu. Bayu terlihat pasrah dan mempersilahkan wanita hamil ini untuk melakukan apapun sesuka hatinya. Dan Laras sudah berhasil menanggalkan kemeja Bayu. Bayu kini bertelanjang dada....
__ADS_1
...Ciuman Laras turun keleher Bayu. Menyibukkan diri dengan membuat tanda disana....
...Bayu tersenyum dengan ulah Laras. "Lo bener-bener liar". Katanya pada Laras....