
...Malam pun menjelang. Bagas sedang menikmati secangkir kopi ditaman belakang rumahnya. Khinan datang menyusul sang suami. Duduk disamping suaminya dengan membawa beberapa camilan....
..."Sayang. Kita jadi honeymoonnya ?" Tanya Khinan....
..."Kamu mau ?" Kata Bagas malah balik bertanya....
..."Kita perginya setelah selesai Ardi tunangan aja ya". Balas Khinan lagi....
..."Boleh. Trus kamu maunya kemana ?" Tanya Bagas merangkul pinggang sang istri supaya lebih dekat dengannya....
..."Aku ikut aja kemanapun kamu mau". Jawabnya....
..."Baiklah. Aku akan pilihkan tempat yg paling indah untuk kita honeymoon". Balas Bagas sambil mencium pipi Khinan. Mereka menikmati dinginnya malam ditaman kecil itu. Angin semilir berhembus tak membuat mereka kedinginan dibuatnya. Khinan merebahkan kepalanya dibahu Bagas....
..."Aden, non Khinan. Makan malam sudah siap". Kata bik Ijah yg baru saja datang mengganggu mereka yg sedang bermesraan. Khinan dan Bagas pun menoleh kearah sumber suara....
..."Makasih bik". Jawab Khinan sambil melemparkan senyum pada asisten rumah tangganya itu. Khinan dan Bagas pun berdiri dan segera menuju meja makan....
..."Sayang. Tumben malam ini kamu nggak masak ?" Tanya Bagas saat mereka tengah menuju meja makan itu....
..."Iya sayang. Aku lagi nggak pengen masak untuk malam ini. Gak apa-apa kan sayang ?" Balas Khinan pada Bagas....
..."Apa kamu hamil ? Bisa jadi kan rasa malasmu itu bawaan bayi". Kata Bagas penuh harap. Khinan mengerutkan keningnya dan memandang kearah Bagas....
__ADS_1
..."Kayaknya enggak deh sayang. Aku nggak ngrasain apa-apa soalnya". Jawabnya....
..."Ya siapa tau sayang. Coba deh kamu cek dulu". Pinta Bagas pada sang istri. Namun Khinan tak lagi menjawab karna mereka sudah sampai dimeja makan. Bagas duduk dikursinya sedangkan Khinan sibuk dengan mengambilkan Bagas makanan. Dan setelah piring Bagas terisi dengan nasi dan beberapa lauk, gantian Khinan mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Setelah itu mereka menikmati makan malam mereka masing-masing....
...Bagas melihat kearah sang istri. Sedari tadi Khinan hanya diam tak bersuara. Bagas menghentikan aktifitas makannya dan memulai mengajak bicara Khinan....
..."Sayang. Kamu marah ?" Tanya Bagas pada sang istri. Khinan pun memandang kearah suami. Dan dia pun menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali menunduk dan menyelesaikan makan malamnya. Namun Bagas merasa ada yg disembunyikan dari Khinan. Mungkin sekarang bukan saat yg tepat untuk Bagas bertanya-tanya pada Khinan. Mengingat Khinan yg sedang mendiamkannya....
...Dikamar, Khinan masih saja berdiam diri. Dia mengingat beberapa hari yg lalu saat ia memasang alat kb dirahimnya. Hal itu dilakukannya karna Khinan belum siap untuk kembali hamil pasca dia kehilangan calon buah hati pertamanya. Khinan paham bahwa itu bukan anak dari suaminya. Namun semua ibu pasti akan mempertahankan buah hati dan mempertaruhkan nyawanya. Apalagi janin itu masih suci, dan tidak berdosa....
..."Sayang". Sapa Bagas selepas dari kamar mandi dan menyusul sang istri yg duduk diranjangnya....
..."Heemm". Balasnya....
..."Kamu kenapa ?" Tanyanya lagi. Khinan masih belum menjawab. Jika Bagas tau Khinan memasang alat kb dirahimnya, tentunya Bagas akan marah terhadapnya. Khinan pun menggelengkan kepalanya dan menghamburkan dirinya kedalam pelukan sang suami....
..."Maafin aku. Karna ulahku kamu bisa kehilangan bayimu. Seharusnya aku denger dulu penjelasanmu waktu itu". Sesalnya. "Maafin aku sayang". Lanjut Bagas lagi. Khinan tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya kedada bidang Bagas....
..."Aku cinta kamu Khinan". Ucap Bagas lagi dan mencium rambut Khinan....
...Khinan bahagia. Bagas adalah sosok yg tepat untuknya. Khinan merasa bersyukur telah dipertemukan dengan lelaki macam Bagas....
...Sedangkan dilain tempat, Malam ini Bayu sedang gusar. Pasalnya Iren tidak berhenti menangis. Bayu bingung dengan apa yg harus dia lakukan. Bayu mencoba menenangkannya lagi, namun Iren tak juga berhenti menangis. Om Rama datang dan memastikan ada apa dengan cucu dari sang kakak itu. Om Rama menempelkan punggung tangannya kedahi Iren. Dan benar saja. Ternyata Iren tengah demam....
__ADS_1
..."Kamu ini gimana sih Bay. Ini tu demam". Teriak om Rama pada Bayu. Bayu mengikuti apa yg dilakukan oleh pamannya tadi. Menempelkan punggung tangannya kedahi Iren. Bayu begitu panik sampai-sampai dia tak bisa membedakan antara demam atau bukan....
..."Bayu kerumah sakit om". Kata Bayu dengan segera menggendong Iren untuk dibawanya kerumah sakit....
..."Aku ikut Bay". Teriak om Rama dan menyusul Bayu menuju mobilnya....
...Setelah mereka sampai dirumah sakit, Iren dengan segera mendapatkan penanganan. Karna kebetulan malam ini sudah sangat larut. Jadi tidak banyak pasien disana....
...Iren segera dibawa keruang pemeriksaan. Karna Iren masih terus menangis, akhirnya Bayu ikut masuk menemani sang anak untuk diperiksa. Terlihat beberapa perawat sedang melakukan tindakan untuk memeriksa Iren. Dan karna hari sudah malam juga dokter baru ada besok pagi, Iren disarankan untuk rawat inap. Bayu pun menyetujui demi kebaikan sang anak....
...Diruang perawatan, terlihat Iren tertidur pulas karna efek dari obat penenang. Bayu pun ikut tidur diranjang pasien menemani sang anak. Bayu mengelus lengan Iren yg terdapat selang infus ditangannya. Dia berjanji untuk menjaga Iren dengan baik. Namun karna hal ini Bayu merasa telah lalai untuk menjaga Iren....
..."Maafin papa sayang. Papa sudah lalai menjagamu". Kata Bayu dan mencium kening Iren. Bayu merebahkan tubuhnya disamping Iren dan mencoba memejamkan matanya....
...Pagi hari, Bayu pergi kekantin untuk membeli sarapan. Kondisi Iren masih demam. Namun karna efek dari penenang, Iren tidak lagi rewel seperti tadi malam....
...Bayu memesan beberapa makanan untuk dirinya dan juga sang paman. Saat akan kembali, Bayu melihat seorang perempuan duduk dikursi roda dengan perut yg membuncit. Bayu menghentikan langkahnya. Bayu mengamati dengan seksama wanita yg tengah duduk dikursi roda menghadap ketaman itu. Dan Bayu pun semakin mendekatinya. Dan saat Bayu sudah berada hampir dekat dengan wanita itu, tiba-tiba om Rama datang dan menghampiri Bayu pula....
..."Bay. Iren muntah-muntah Bay". Kata om Rama dengan panik....
..."Apa ?" Bayu pun segera berlari menuju kamar inap Iren. Melupakan sosok wanita yg dicarinya selama ini. Ya. Wanita tadi ialah Laras. Entah bagaimana Laras bisa berada disana. Laras yg mendengar nama Bayu disebut pun menoleh kearah sumber suara yg memanggilnya tadi. Laras melihat kearah Bayu yg berlari menjauhinya. Namun Laras tak mengenali tubuh Bayu dari belakang. Bayu terlihat sedikit lebih kurus dari yg Laras tau dulu. Laras pun tak yakin bahwa sosok tadi ialah Bayu yg dia kenal. Mungkin hanya kebetulan namanya sama, Batin Laras....
...Bayu pun sampai dikamar inap sang anak. Dan saat ini Iren tengah menangis dipangkuan sang perawat. Iren mengeluarkan semua isi diperutnya. Iren yg mengetahui Bayu datang pun menangis dengan tangannya mengarah kearah Bayu. Bayu segera mendekat dan menggendong sang putri tercinta....
__ADS_1
..."Papa disini sayang". Kata Bayu sambil menggendong dan mengelus punggung sang anak. Iren sudah lebih tenang. Iapun memeluk sang ayah dengan erat....
..."Jika sudah tenang, saya suntikkan vitamin dulu ya pak". Kata perawat yg tadi memeriksa Iren. Bayu pun mengangguk dan menidurkan Iren keranjangnya kembali. Iren sudah berhenti menangis dan perawat itu sudah selesai memberikan vitamin untuk Iren. Bayu kembali merebahkan tubuhnya disamping Iren. Dengan tetap memeluk sang putri supaya lebih tenang....