Kamu Berhak Bahagia

Kamu Berhak Bahagia
kesedihan tiara


__ADS_3

Tiara duduk dilantai dengan lemas, iya tidak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi ditahannya


Hiks...hiks...hiks...


Tiara menangis sampai sesegukan dan sesekali iya menatap ke arah bapaknya yang sedang memperbaiki pintu rumah mereka begitu pula bapaknya yang sesekali menengok kearahnya


"Buat apa bapak hutang uang sebanyak itu?" Tanya tiara membuka pembicaraan


"Bukan urusan kamu ra" jawab bapaknya santai


"Bapak bilang bukan urusan ara? Bapak ga liat gimana mereka memperlakukan kita pak?" Tanya tiara dengan raut wajah kecewa


"Lagian bapak khilaf bapak menghabiskan uang itu untuk judi" jawab bapak hendra


"Judi lagi pak?" Ucap tiara kecewa


"Udah lah ra bapak pusing!" Bentak bapak hendra pada tiara


"Ara sayang sama bapak, ara ga mau ngeliat bapak begini terus" jawab ara bangkit dari duduk nya


"Kalau kamu sayang sama bapak, kamu cari uang yang banyak!" Bentak pak hendra lagi


"Ibu pasti kecewa liat bapak kayak gini!" Ucap tiara sedikit berteriak padahal sebelum nya iya tidak pernah bicara dengan nada keras


Sementara pak hendra menghentikan kerjaannya, dan terdiam beberapa saat lalu berbalik menatap tiara.


Tiara ketakutan melihat bapaknya yang langsung menatapnya, iya takut salah bicara dan menimbulkan amarah bapak nya.


"Maaf pak, ara ga bermaksud buat bapak marah maaf" ucap tiara sambil berjalan mundur


Bapak hendra berjalan menghampiri tiara dan langsung merangkulnya, pak hendra menangis sesegukan dalam pelukan tiara


"Maafkan bapak tiara, bapak selama ini hanya menambah beban mu saja, maaf kan bapak" ucap pak hendra menangis sesegukan


"Ba...ba..pak kenapa?" Tanya tiara yang heran melihat perilaku bapak nya


"Bapak ga perlu minta maaf, ara tau bapak terpukul semenjak ibu meninggal" ucap tiara yang memeluk balik bapaknya


"Bapak menyesal telah menghabis kan waktu dan uang hanya untuk judi" ucap pak hendra penuh penyesalan


Bapak hendra melepaskan pelukannya dan menatap tiara penuh harap, tiara sendiri tersenyum senang melihat bapaknya menyesali apa yang dilakukan bapaknya itu


"Pak, sekarang yang kita pikirin, bagaimana cara nya kita cari uang buat bayar hutang bapak" ucap tiara sambil menatap bapaknya


"Bapak akan cari kerja buat bayar ra, bapak janji" ucap pak hendra meyakinkan tiara


"Ara akan membuat kue lebih banyak pak dan ara akan berusaha menjualnya sampai habis" ucap ara sambil menahan tangis nya


"Bapak emang jahat ra, bapak ga bisa bahagiain kamu" ucap pak hendra yang kembali menangis


"Bapak jangan ngomong gitu, ara bahagia kok pak hidup sama bapak" jawab ara meyakin kan


Ara tidak mungkin bicara jika iya kecewa dengan bapaknya 5 tahun teraghir ini, sedangkan sebelum nya bapak nya sangat baik dan berusaha memberikan apa yang ara ingin kan.


"Bapak, ara mau bapak kembali ke jalan yang benar ya pak, bapak jangan mabuk dan judi lagi ya pak, ara sayang sama bapak", ucap tiara sambil memeluk lelaki berusia 50 tahun itu


"Bapak akan bahagiain ara, bapak janji ra bapak janji" ucap bapak hendra mengelus wajah anak angkatnya itu

__ADS_1


"Iya pak, ara percaya sama bapak" jawa ara yakin


...


Jam dinding sudah menunjukan pukul 23:05, tiara masih belum juga tidur iya sedang menatap foto seorang anak kecil bersama seorang lelaki.


Terlihat seorang lelaki sedang merangkul gadis kecil yang tak lain adalah tiara dalam foto berukuran 5r itu.


Itu adalah satu-satu nya foto tiara dan ayahnya sekaligus kenangan kecilnya dulu.


"Kalau ayah masih ada pasti aku sekarang ga tinggal dirumah ini yah, pasti tiara ga nyusahin orang lain yah, tiara kangen banget sama ayah, tiara kangen masakan ayah. Tiara kangen masalalu tiara sama ayah. Semoga ayah tenang disurga nya allah ya yah" gumam tiara dalam hati sambil menatap foto itu


Tak terasa air mata tiara tidak bisa terbendung lagi, iya memeluk erat foto itu


Flashback on


3 tahun, setelah kepergian ibu kandung tiara ...


Tiara dan ayahnya pindah ke kota jakarta, setelah ayahnya kehilangan pekerjaan karena tempat kerja nya bangkrut dan setelah ayahnya tak mendapatkan kerja proyek pembangunan lagi dikota asal mereka itu, Lampung.


Tiara dan ayah nya ngontrak dikontrakan sepetak yang terletak tak jauh dari proyek pembangunan, sengaja ayah tiara tinggal disana karena dekat dengan tempat kerja nya dan dia baru akan mulai bekerja ditempat itu.


Ayah tiara bernama almalik rahman atau biasa dipanggil pak malik.


Suatu pagi,


"Ayah mau kemana?" Tanya tiara polos


"Ayah mau kerja sayang" ucap pak malik sambil bersiap-siap


"Ara dirumah aja ya, nanti ayah pulang ayah beliin jajan deh" goda ayah tiara


"Ayaah, ara ikut yaa" rengek tiara memelas didepan ayahnya


"Ayah kan mau kerja, ara dirumah aja yaa" rayu ayah tiara yang hendak pergi bekerja


"Ara takut dirumah sendirian ayah, ara mau ikut ayah yaa" ucap tiara memohon agar diboleh kan ikut


Beberapa saat pak malik berpikir...


"Yaudah boleh, tapi ara janji jangan nakal ya" jawab ayah tiara karena takut juga jika meninggalkan tiara sendirian dan mereka baru pindah ke tempat itu


"Iya ayah ara janji" saut tiara dengan wajah yang gembira


Mereka berjalan menuju proyek itu dan pak malik mulai bekerja bersama yang lainnya, sedangkan tiara duduk dibatas aman pembangunan itu sambil melihat ayahnya.


"Tiara duduk sini ya, jangan kemana-mana" ucap pak malik sambil memegang bahu tiara


"Iya ayah ara janji" jawab ara meyakinkan


"Beneran ya? Pokoknya ara disini aja"


"Janji ayaah" jawab ara tersenyum


"Yaudah ayah kerja dulu ya, ara duduk disini aja, oke?" Tanya pak malik ragu


"Oke ayah, siap" jawab gadis kecil itu riang

__ADS_1


Setelah hari menjelang zuhur, terlihat para pekerja mulai kelelahan termasuk ayah tiara. Pak malik berjalan menuju tempat dimana tiara duduk untuk mengambil minum. Namun, tak disangka sebuah tiang yang terbuat dari coran semen terjatuh menimpa pak malik tepat mengenai kepala nya.


"Aghhhh" terdengar jelas suara pak malik merasakan sakit


"Ayaaaah!" Pekik tiara melihat ayahnya sudah berlumuran darah


Tiara berlari menghampiri ayahnya yang sudah dikerumuni orang-orang yang membantu mengangkat benda itu dan mengangkat pak malik


"Araaa, araaa" panggil pak malik lemas


"Ayah jangan tinggalin ara ayah, om tolongin ayah om" ucap tiara sambil menangis


Beberapa orang mengangkat tubuh pak malik menuju tepi, dan salah satu dari mereka menghubungi ambulance. Mandor bangunan segera membantu pak malik untuk naik ambulance itu, dan ikut sambil menggandeng tangan tiara.


Didalam ambulance tiara menangis sesegukan memeluk erat ayah nya yang terbaring lemas


"Ayah jangan tinggalin ara ayaah" ucap tiara


"Ayaaah, hiks...hiks...hiks..." ucap ara sambil memeluk ayah nya yang sudah lemas itu


"Kamu tenang ya dek kita akan obati ayahmu" saut mandor bangunan itu menenangkan tiara


"Araaa, maafin ayaah... ayaaah... ga bisa temenin kamu..." ucap pak malik sambil memegangi tangan tiara


"Ayah ga boleh tinggalin ara ayaah..." ucap tiara sambil menggenggsm tangan pak mslik dengan tangan kecilnya


"Ka..mu jadi anak baik ya saya..ng, ayaah... yakin ka..mu pasti bi..sa maa..n..diri.." ucap pak malik yang sudah sekarat


"Ara ga mau sendirian ayaaah hiks...hiks..." ucap tiara yang terlarut dalam kesedihan


Beberapa menit setelahnya terdengar pak malik mengucap kan


"Laa...ilaa..haillallaaah... muhamaddarrosullulloooh.." ucap pak malik sudah tak berdaya


Belum sampai mereka dirumah sakit pak malik sudah dinyatakan meninggal dunia


"Ayaaah!, jangan tinggalin ara ayah, ara janji ga bakal nakal lagi" ucap tiara sambil menangis membuat seisi mobil merasa kasihan melihat tiara kecil harus kehilangan ayahnya.


"Ayaaah hiks...hiks...hiks..."


...


Ayah tiara dimakamkan dipemakaman umum, setelah pemakaman selesai para pelayat meninggalkan tiara sendirian dikuburan itu.


Entah apa yang mereka pikirkan sehingga tega meninggalkan tiara kecil dan salah seorang ibu memberikan tas ransel pada ara berisi baju-baju ara.


Sejak saat itu lah ara terombang ambing dijalanan dan bertemu dengan bapak hendra dan ibu dewi.


Flashback off


Tak terasa air mata tiara tak bisa lagi terbendung, iya selalu menangis mengingat kejadian yang menimpa ayah nya itu, bagaimana tidak, iya melihat sendiri hembusan nafas teraghir ayahnya yang menjadi kenangan teraghir tiara dan ayahnya.


Tiara melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 23:55


"Lebih baik aku tidur, aku harus bangun subuh untuk membuat kue lebih banyak hari ini" gumam tiara dalam hati


Tak lama tiara tertidur lelap dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan penuh beban itu.

__ADS_1


__ADS_2