
" Mer..Mana berkas yang saya minta kemarin? Pak Japlin sudah menanyakan nya.."
" Kata Pak Andra, ibu disuruh masuk saja ke dalam..."
"Oke terimakasih!"
Aku memasuki ruangan Andra.Aku melihat ia sedang sibuk dan serius.
"Pagi Pak Andra! apa berkas nya sudah siap?"
"Oh..Pagi Bu Jelita! " jawab ku ,lalu aku mendekati Jelita. "Kamu sangat cantik dan seksi!" bisik ku sambil menggigit telinga Jill.
"Aw!" pekik Jill sangat kaget. Membuat nafasku semakin memburu.
" Sayang kau membuat ku ingin melakukan nya.."Goda ku lagi.
"Andra! ini kantor..kamu jangan macam macam.."
"Aku tidak perduli!" Aku langsung mendekat kan dagu Jill tepat ke dagu ku..
"Sayang..ini kantor?"
"Kata Sayang mu semakin membuat ku semakin tak kuasa.." Langsung saja ku Remat Bukit Milik ny dan ku Lu**mat Bibir manis nya.
" Andra…" Erang Jelita
kamipun saling berpagut dalam Gelora namun sesaat kemudian tiba-tiba Jill menghentikan semua ini.
"Stop! ini kantor!" Jill langsung mengusap mulut nya.
"Sayang kau selalu membuat candu.."
" Aku rapikan dulu penampilanku yang berantakan, Tolong segera siapkan berkasnya Aku minta kemarin Pak Andra".
Hari ini aku datang ke kantor Mas Andra Kebetulan aku lewat dan lama juga aku tidak mampir ke kantornya.
"Mbak..Pak Andra ada?" Tanyaku pada sekretarisnya
"A...da Bu, sebentar saya panggil kan "
" tidak usah biar saya yang masuk saja…"
" tapi Bu???"
aku tak menghiraukan ucapan dari sekretarisnya, aku langsung masuk ke dalam ruangannya Mas Andra.
"Ndra..Mana berkas nya!" ucap perempuan itu terlihat keluar dari toilet yang berada dari ruangan Mas Andra. perempuan itu sangat kaget saat melihatku sudah ada di ruangan suamiku. begitupun juga Mas Andre yang tiba-tiba kaget Saat melihatku datang
"Maaf..Pak Andra mana berkas nya?"
__ADS_1
"Sejak kapan terlihat duluan ini jadi toilet umum??" Tanyaku dengan nada Ketus
" Maaf Ibu.. saya ke sini hanya mengambil berkas yang harus saya ambil karena belum ditandatangani Pak Andra dan tiba-tiba saya ingin buang air kecil…."
"Bu Jelita. silah kan ini berkas nya.."
" Terimakasih pak! permisi"
nama Jelita tidak asing lagi di telinga ku, sambil kuingat terus dan ku ingat …Iya mungkin orang Ini kah yang dimaksud Mama Mertuaku pada malam itu.
" Ada perlu apa kamu kesini Hilda?"
" Aku kan lama nggak kesini mas jadi aku mampir ke sini ,kenapa memang nya nggak boleh?"
" Terserah kamu saja… aku masih ada meeting dan harus segera pergi…"
Lagi-lagi Mas Andra menghindariku hal ini tidak bisa ku biarkan terus menerus.
RUMAH.
Aku menunggu Mas Andra pulang dari kantor dan menyiapkan teh agar ia minum.
" Minum dulu teh nya Mas.. biar badan ku agak rilek?"
"Tidak perlu..aku mau langsung tidur saja.."
"Sedikit saja aku sudah membuat kan nya intuk mu Mas.."
aku merasakan ada sesuatu yang aneh di tubuhku, tiba-tiba tubuhku terasa panas aliran darahku semakin cepat dari biasanya, serta detak jantungku juga semakin berdetak lebih kencang Tidak seperti biasanya.
tiba-tiba aku merasakan puncak daerah yang begitu luar biasa sampai menembus otaku. dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan nya andai saja Jill ada disini.
aku sudah mulai kelimpungan tidur tidak bisa nyenyak, miring ke kanan dan miring ke kiri keringatku pun juga sudah mulai keluar, demi apapun aku mencoba menahan rasa ini dengan sekuat tenaga yang jelas-jelas sangat menyiksa.
"Mas Kamu kenapa?"
"Hilda..singkir kan tangan mu..?"
"Kamu kenap Sih..? " Lalu Hilda membuka selimut nya, Sial! entah sengaja atau tidak..Hilda hanya memakai Lingery yang sangat tipis.
"Tidur lah.."
bukannya berhenti malah tangannya semakin kemana-mana menyentuh tubuhku.
"Aku pijit ya..mungkin kamu capek?"
" sudah aku mohon menjauh lah…" pintaku dengan nada mengerang.
bukannya menjauh Hilda justru duduk di pangkuanku jelas sebagai lelaki normal kelelakian dan gairah aku semakin menggebu-gebu.
__ADS_1
"Hilda..jangan begitu, turun lah.."
"Aku akan menyelesaikan nua..aku tahu saat ini kamu sedang membutuh kan nya.." sambil membuka kancing baju ku.
"Hentikan Hilda!"
"Tidak! Aku ini istri mu..tidak ada yang salah..!"
aku sudah tidak bisa menahan nya lagi karena dari tadi Hilda terus sama mancing ku..., Hilda bermain dengan cukup apik dan mampu menyelesaikan apa yang sangat menyiksaku. Hilda lebih dominan dalam hubungan ini .Sampai aku hasratku tertuntaskan.
Dan tiba-tiba aku sadar ternyata perempuan yang menuntaskan hasrat ku bukanlah Jil tapi Hilda aku segera bangun dan membersihkan diriku...
"Gimana sayang?? Makasih ya.. sekarang aku sudah sempurna karena sudah menjalan kan kwajiban ku sebagai istri.." ucap Hilda memeluk ku dari belakang dan mencium pundak ku.
"Aku tidak menyangka..kita akan benar benar melaku kan nya.."
"Maaf kan aku Hilda.."
"No! kamu tidak bersalah Mas..malam ini kita sama sama mengingin kan dan menik mati nya..."
"Anggap saja ini tidak pernah terjadi...Maaf kan aku.."
"Tidak apa apa..aku bahagia banget. "
" Tapi Hilda??"
" Nanti kita akan terbiasa Mas..."
" Sudah lah.. jangan kamu fikir lan lagi tentang hal ini.." lalu kulepaskan tangan Hilda yang melingkar di perutku.
" Aku mau cari angin..tidur lah" imbuh ku lagi, aku Aku sangat merasa bersalah kepada Hilda dan juga jelita. Bagaimana jika Jelita tahu jika Malam ini aku berhubungan dengan Hilda.
aku langsung pergi menuju apartemen untuk menemui Hilda," Kenapa ini semua bisa terjadi Andra…! bodoh !bodoh: kamu bodoh !gimana dengan jelita?" geruti ku pada diri ku sendiri.
aku melihat Jill yang tidur berada di bawah selimut meringkuk seperti bayi, semakin besar rasa bersalahku. lalu aku ikut tidur di sebelahnya dan ku peluk dirinya. Dengan sayup sayup Jill membuka mata nya,
"Ndra..ngapain kamu kesini?"
" Aku kangen sama kamu…" terus kuciumi rambutnya dan tidak pernah kurenggangkan pelukan ku.
" ini masih jam 2 pagi ngaapain kamu kesini …itu istri kamu gimana?? Kamu berantem ya sama dia!"
" Enggak! aku tuh tiba-tiba kangen Teringat sama kamu …makanya aku ke sini Jill?"
" Thank you sayang"
" Ayo tidur lagi… Kamu pasti capek nanti pagi kita kerja lagi oke!
" Maafkan aku Jill..."ucap ku dalam hati penuh sesal.
__ADS_1
Aku tidur bersama Jill dan kupeluk erat Iya sampai pagi. Aku sangat menyesal Bagaimana jika Jill tahu dengan semua ini.