
"Jill! dari mana?" tanya Papa yang saat itu tengah duduk di sofa dan Jill melewati nya.
"Biasa Pa! pulang nongkrong" jawab Jelita menghentikan langkah dan membalikan badan nya.
"Kenapa?? kamu sedang ada masalah?? Lihat tu muka mu.."
"Biasa Lah Pa! kebayakan Minum semalam?? udah Ya! Jill capek mau istirahat?"
"Siapa yang bawa mobil mu?"
"Bisa sendiri Pa.. jangan khawatir.."
"Papa itu tahu, kalau kamu bawa mobil pasti ugal ugalan! apa lagi dalam keadaan mabuk.."
"Pa?? yang penting Jill nggak kenapa napa kan??"
"Jelita! Papa kan sering mengingat kan kamu, jangan berkendara disaat kamu mabuk! lagian kamu ini sudah tua? sampai kapan kamu mau seperti ini?? sudah waktu nya kamu berubah Jill? pikir kan masa depan mu.. Papa juga mau liat kamu menikah dan melihat kamu punya anak.."
"Hahah anak Ayam maksud Papa?? pagi pagi nggak usah ngelawak Deh Pa! Papa aja yang udah tua masih suka mabuk..udah Ah Pa! bercanda nya nanti lagi ya.." Jill langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar nya.
Papa tidak tau harus menasehati Jill dengan cara apa lagi..Anak semata wayang nya sungguh keras kepala, masih suka bersenang senang.
"Tok! tok! tok!" suara ketukan terdengar, Papa segera bangkit dari tempat duduknya lalu membuka pintu.
"Mana anakmu Mas!" tanya Mama Lidya tanpa berbasa basi.
"Ada di dalam.." jawab Papa. Mama Lidya langsung nyelonong masuk tanpa permisi dan meneriak Jelita.
__ADS_1
"Jelita! keluar! Mama mau bicara!"
"Lidia..kamu bisa sopan tidak..masuk rumah orang teriak..teriak!" Papa lebih memilih untuk mengalah dan duduk di luar dari pada harus melihat Lidya berdebat dengan jelita.
"Jelita! ini Mama!"
Baru saja mata mau terpejam, Jelita harus terganggu dengan teriakan mama, akhirnya Jelita membuka pintu kamar nya.
"Apa sih Ma!" jelita keluar kamar dengan santai nya
"Plak!" Mama langsung menampar pipi mulus Jelita.
"Awww" Pekik Jelita, ia terlihat sangat kesakitan dengan terus memegangi Pipi mulus nya.
"Keterlaluan Kamu Jelita! ternyata ini pekerjaan kamu selama ini! hah! tidak tahu malu! dari kecil Mama biayai kamu untuk sekolah! tapi ini balasan nya! Iya!" bentak Mama menggebu gebu.
"Apa maksud Mama!" bantah Jill.
"Mama.kenapa sih! datang datang maki maki aku!"
"Masih mau mengelak kamu Jill! Kamu kira Mama nggak tahu! selama ini kamu menjadi simpanan Andra wiryawan kan! kamu tahu siapa Andra Wiryawan! dia suami dari anak Mas Erwin..Jelita! Suami dari adik Tiri kamu!" teriak Mama menggebu gebu.
Jill terdusuk lemas seperti tak bertulang,Hati nya Bagai tersayat Pisau berkarat, saat mendengar pengakuan dan makian yang terlontar dari mulut Mama.
Papa pun segera masuk saat keributan mulai terdengar..
"Lidya! Ada apa ini! keterlaluan kamu! Aku saja yang selama ini yang merawat Jelita tidak pernah membentak apa lagi menampar nya!"
__ADS_1
"Oh..Kamu tidak terima Mas?? Jadi ini hasil didikan mu Mas! membiarkan anak perempuan mu menjual diri! menjual diri dengan Pria yang sudah beristri!"
"apa!" jawab Papa kaget dan tak percaya.
"Bahkan kamu nggak tahu apa pekerjaan anak mu! tapi kamu menikmati hasil pekerjaan anak mu! ini yang kamu sebut merawat dan mendidik anak!"
"Tutup mulut mu Lidya!"
"Kamu yang harus nya menutup Mulut Mas Yuri! Kamu tahu! Anakmu itu telah menjadi simpanan Pria yang sudah beristri! menjual diri! sampai mendapat kan kemewahan ini! sungguh memalukan!"
"Lidya!"
"Apa! tanyakan saja pada anak perempuan yang telah kau didik selama ini! tanyakan dari mana semua ini dia dapat kan! kamu tahu???? dia menjual diri pada menantu Mas Erwin!" teriak Mama berapi api.
Hati Papa hancur seketika mendengar semua penuturan dari mulut Mama lidia. Seketika Papa merasa Lemas. Tubuh nya serasa tak bertulang. Kemudian Papa mendekati dan bertanya pada Jill.
"Katakan pada Papa sejujur nya Jelita!" tanya Papa.
"iya Pa! aku memang menjadi simpanan!"
"Plak!!!" Papa menampar Jelita lagi.
"Tampar lagi Pa! tampar Jelita! Papa lebih percaya perempuan ini" Jelita menunjuk wajah Mama "Ketimbang Jelita! anak yang Papa rawat sejak kecil! Ya aku selama 6tahun ini memang hidup bersama Andra Wiryawan! tinggal satu atap Pa! tanpa sepengetahuan papa! Karena Andra bisa memberikan semua! kasih sayang dan keinginan Jelita! Papa pikir kenaikan jabatan ku, ku dapat dari mana! kalau bukan dari Andra! Mobil! Rumah ! Uang! aku memang mendapat kan nya dari Andra!" tutur Jelita Frustasi.
"Aku tidak pernah menjadi simpanan siapa pun! sebelum Hilda datang! Jika Mama dan Papa nggak berpisah! Hidup Jelita nggak akan seperti ini! Puas kalian!!" Bantah jelita lagi.
Jelita menangis tersedu sedu "Dulu Mama mengambil kebahagiaan Jelita, dengan meninggal kan Jelita demi kehidupan yang mama ingin kan! sekarang Mama juga yang mengambil kebahagiaan Jelita bersama Andra! kalau waktu itu Mama nggak pergi! dan Papa mau berubah! Pasti keluarga Andra bisa nerima Jelita!" teriak nya lagi lalu pergi..
__ADS_1
Papa terduduk lemas mendengar pengakuan Jelita
Sedangkan Mama terlihat menangis mengusap Air mata nya.