
"Jelita! mana Suami mu?" sapa Mama saat membuka pintu,clingukan mencari keberadaan Arhan.
"Arhan nggak bisa ikut Ma! tadi mendadak anak tante Maya minta di anter ke Dokter? Soal nya Tante Maya pergi Ke Surabaya??" jawab Jelita berbohong, terpaksa harus tersenyum.
"Oh..Ya udah! ayo masuk!" Mama langsung merangkul pundak Jelita dengan sangat senang, karena baru pertama kali nya Jelita mau datang ke Rumah baru nya, setelah perceraian 19tahun yang lalu.
"Pa! Jelita datang..." teriak Mama
Kemudian Suami mama Lidya datang menyambut Jelita.
dengan tersenyum Ramah Jelita menganggukan kepala dan mencium tangan Papa tiri nya dengan sopan.
"Jelita..cantik sekali..." SaPa Papa tiri nya alias Papa Hilda.
"Terimakasih Om.."balas Jelita
"Ayo langsung ke Meja makan..Om sudah lapar,oh ya..Mana Suami mu.."
Mama tersenyum bahagia tak biasa nya Jelita mau datang."Nggak bisa ikut Pa..nganter keponakan nya ke Dokter.." jawab Mama menyela.
"Maaf Ya Om..seharus nya Arhan ikut..tapi karena ada halangan Jadi nggak bisa ikut kesini.."
"Nggak apa apa..Next time kita bisa makan bareng lagi.. sesekali tengok lah kami ..datang lah kemari..Jangan sungkan Ya!"
"Baik Om..Nanti Pasti Jelita akan sering sering mampir.."
Jelita Sudah duduk di meja makan,bersikap tenang seolah tak pernah terjadi apa apa.meski sebenar nya hati nya sakit..teringat dangan Papa kandung nya. Tapi ini lah kenyataan hidup..
Mama sibuk mempersiap kan hidangan makanan di atas meja, dengan telaten melayani suami baru nya.
"Jill..mau makan apa? biar Mama ambil kan untuk mu.."
"Nggak usah Ma..Jelita bisa ngambil sendiri" Jelita memilih mengambil sebuah Jeruk.
"Aduuh Hilda telat ya Ma!" sela Hilda baru datang kemudian mencium Papa kemudian Mama.
"Eh Kak Jelita!" sapa Hilda memeluk Jelita yang masih kaku,kemudian duduk di sebelah nya.
"Mana Andra Hil?" tanya Papa
Seketika Membuat Jelita tersedak saat mendengar kata Andra.
"Pelan pelan Jill!" Mama memberikan air putih kemudian di minum nya.
"Maaf Telat!" suara bariton yang terdengar dari arah tamu,kian terdengar dengan jelas. "Gleegggg" Hati Jelita terasa di hujam pisau,entah perasaan apa itu.
__ADS_1
Lelaki tegap,bermata tajam dan berparas rupawan itu duduk tepat di depan Jelita,
"Apa Kabar Kakak ipar??" Tanya nya menyeringai.
"Baik.." Jawab Jelita dengan canggung.
"Mana Kak Arhan Kak!" tanya Hilda memecah kecanggungan di antara mereka.
"Sedang ada urusan Hil.." jawab Jill
"Kakak ipar tidak sedang berbohoong kan?" pertanyaaan Andra memang sengaja dilontarkan untuk menyudutkan jelita.
"Jangan hiraukan suami ku ya Kak! dia memang suka bercanda.." Hilda mencoba untuk mencair kan suasana.
Mereka berbincang bincang Saling menimpali,Jelita hanya tersenyum karena tidak nyaman dengan kehadiran Papa..
"Jadi apa yang menjadi keinginan kita..harus kita kejar sampai titik terakhir.." pesan Papa.
"Apa termasuk sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain Pa??" tanya Andra, Lagi lagi mampu mengenai hati Jill.
"Ya! Harus Ndra! itu sebab nya Papa selalu mendapatkan tander..!"
"Dengan segala cara Pa??"
"Termasuk Cinta kah Pa???" pertanyaaan andra semakin mengena di hati Jelita dan Hilda.
"Benar!"
"Kalau sudah jadi milik orang lain gimana Pa??"
"Trobos saja! hahahah" Papa tertawa karena menganggap pertanyaan Andra adalah Lelucon.
"Jelita ke toilet Dulu ya Ma..Om.." Jelita langsung menggeser kursi.
Mama kemudian memberikan Arah menuju toilet.
"Aku ke toilet dulu ya Pa!" pamit Andra kemudian meninggal kan meja makan.
Hilda ingin mengikuti Kemana Andra pergi,mata Mama berkedip luga sebagai Isyarat agar tetap tinggal di tempat.
Andra sengaja menunggu Jelita keluar dari Toilet di Minie taman.
"Jelita!" Arhan meraih tangan Jill
"Andra!" jelita memberontak.
__ADS_1
Andra semakin menarik tangan Jelita dengan Kuat sehingga jatuh kepelukan nya. "Andra! jangan gila kamu!"
"Aku nggak perduli!" Andra mendekap Jelita dengan kuat. Jelita terus memberotak
"Aku kangem sama kamu Jill..Aku nggak bisa jauh dari kamu!"
"Plakkk!" tangan Jelita menampar Pipi Andra
"Keterlaluan!" Jill berusaha pergi.
Lagi lagi Andra berhasil menarik tangan Jelita.
"Aku nggak akan nglepasin kamu! biar mereka semua tahu! kalau aku hanya mencintai kamu!"
"Plakk!" tangan jelita menampar Andra.
"Ayo tampar lagi Jelita! Ayo tampar jika itu membuat mu puas! jika itu membuat mu melupakan semua kesalahan ku!"
"Plak!!!" Jelita menampar nya lagi dengan berkaca kaca.
"Hahha aku tahu kamu sendir masih mencintai ku.. ceraikan sAja suami mu! Aku juga akan menceraikan Hilda!"
"Tidak akan pernah!" Jelita tak mampu lagi membendung air mataya, sehingga membuat Andra melemah. Ia paling tidak bisa melihat Jelita menangis. Perempuan yang 6 tahun lama nya, pernah hidup dan mengisi hati nya Seperti sepasang suami Istri namun tanpa ikatan.
"Jelita..aku selalu menunggu mu pulang..aku berharap kamu pulang ke Apartement..Percayalah pada ku! kali ini aku tidak akan mengecewakan mu Jill..Aku memang bodoh,dulu tidak bisa mempertahan kan mu..dan kini hanya penyesalan yang ku dapat kan.." sambil membelai rambut Jill.
Jelita menghempas kan tangan Andra "Kamu nggak ngerti kan??? gimana aku berjuang sampai sejauh ini! untuk melupakan semua kenangan yang pernah kita lewati bersama! Aku sakit Ndra! bahkan aku hampir Gila! Kamu juga nggak tahu gimana sakit nya di hina?? aku mati matian menyembuhkan luka ku sendiri karena penghinaan keluarga mu!" Airmata Jelita berlinangan , seolah membuka Luka lama.
Andra merasa sangat bersalah kemudian memeluk Jelita.
"Jill demi Tuhan! aku sangat mencintaimu..aku ingin mengulangi nya lagi dari awal.."pinta Andra memelas.
"Lupakan semua nya Ndra!" Jelita melepaskan pelukan Andra dan mengusap air mata nya. Jelas terlihat guratan kesedihan di wajah ayu nya.
"Jelita!"
"Aku tidak akan peenah bercerai dari Arhan! Karena aku harus tahu dan sadar diri..dimana seharus nya aku berada!"
"Lupakan semua. ya Ndra!" Jelita meninggal kan Andra.
Kemudian berpamitan untuk pulang.
Disisi lain ternyata dari tadi Hilda melihat dean mendengarkan semua nya di balik Tiang Rumah. Hilda merasakan sakit yang luar biasa, tubuh nya bergetar, menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkan nya dengan halus.
Tapi ia tetap memilih untuk sabar menanti Andra membuka hati untuk nya.
__ADS_1