
Hari yang selalu disangkal Jill kini telah tiba, padahal diri nya berharap waktu tidak akan cepat datang. Ia duduk persis di depan Meja Rias.
Wajah nya yang ayu kian cantik saat ia memakai pakaian Kebaya putih khas Orang indonesia saat akan melaksanakan ijab Kabul
Jill mengamati dan menatap dirinya sendiri dalam pantulan cermin, Mata cantik nya mulai berkaca kaca..saat ia mengingat semua yang telah terjadi sampai pada hari ini. Dimana ia akan menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak pernah di cintai nya.
Menikah bukan karena cinta, menikah karena ingin menyalamat kan kehormatan dan merubah kehidupan nya yang salah
Pernikahan yang sama sekali tidak pernah di impikan nya. Seklebat bayangan Andra Datang, Pria yang telah menemani masa masa sulit nya selama enam tahun bahkan hampir tujuh tahun. Lagi lagi hati nya terasa sesak dan membuat nya terisak.
Harus nya hari ini ia menikah dengan lelaki yang sebenar nya masih sangat ia cintai yaitu Andra.
"Jelita.. kamu sudah siap!" tanya Papa tiba tiba merangkul Jill.
Jill mendongakan wajah nya ,masih terlihat segar bekas air mata . Lalu Papa meraup wajah cantik itu dan mengusap nya dengan dua ujung ibu jari nya. Kemudian Papa berjongkok mensejajar kan posisinya.
"Jelita...kenapa kamu menangis?? bukan kah Arhan lelaki pilihan mu?" tanya Papa.Lirih sambil mengusap usap pundak Jill.
"Semua ini terlalu cepat Pa..."
"Apa kamu masih mengingat lelaki itu?"
Jill mengeryit dan mendengus sedih.
"Jill..Papa yakin, Arhan yang terbaik untuk mu? Maaf kan Papa..yang salah mendidik mu.."
"Pa? jangan ngomong gitu??" Jill semakin sedih.
"Ayo Jill..penghulu dan keluarga Andra sudah menunggu di depan.."
"Pa..."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Boleh Jill memeluk Papa..."
Papa tersenyum dan langsung memeluk Jill..Suasana haru tak dapat terelakan lagi.
"Papa nangis?" tanya Jill sambil merenggang kan pelukan nya.
"Enggak! seperti nya Papa nggak Rela!kalau anak Papa yang paling badung, yang hobi nya mabuk hari ini akan di ambil orang!" celetuk Papa sambil mengusap air mata nya.
"Ah Papa!"
"Jill! Papa selalu berdoa ,agar kamu bahagia bersama Arhan!"
"Makasih Pa.."
Arhan pun terlihat ganteng dan gagah,ia mampu menyelesaikan janji Ikrar suci dihadapan Tuhan dan Penghulu dengan satu tarikan nafas. Dan Akhir nya mereka resmi menjadi pasangan suami istri.
Jill tidak mengundang teman teman nya, baik Pevita maupun teman kantor. Hanya keluarga Arhan dan tetangga saja.
"Hmmm apa?"
"Awas Lo! jangan macem macem nanti malam!"
"Otak Lo bawaan nya ngeres melulu sih Jill!"
"Gue kan-" Jill terhenti saat melihat mama nya datang untuk menyalami
"Jelita... selamat ya sayang"
"Makasih Ma..."
__ADS_1
Ia tidak akan menyangka jika Hilda juga akan ikut bersama mama menghadiri pernikahan nya.
"Selamat Kak Jelita..." ucap Hilda mencium Pipi Jill.
"Terimakasih"
"Bisa kita ngobrol sebentar.."
"Baik.."
Kemudian Jill memenita izin Pada Arhan.
"Mau ngobrol apa Bu Hilda?"
"Jangan bicara begitu Kak..,aku mau minta maaf..atas semua kekeliruan di antara kita.."
"Sudah lah ,tidak perlu dibahas. Sekarang aku sudah menikah, jangan takut perihal Andra.."
"jangan gitu lah kak? Aku berharap setelah ini..hubungan kita menjadi baik layak nya saudara.. Dan Aku mohon agar Kakak menasehati Mas Andra..Agar Mas Andra mau menerima ku sepenuh nya sebagai istrinya.."
"Hilda. itu bukan urusan ku lagi, Sudah lah..masih banyak tamu.."
"Kak Jelita!? kalau kakak sudah Move On..pasti Kakak.bisa membantu aku untuk mendapat kan hati Mas Andra.."
"Kita lihat saja nanti.."
"Makasih Ya Kak.."
Sedangkan Andra, malam ini sudah duduk tepat di depan Bartander mabuk tidak karuan.
Ia sangat marah dan kecewa atas pernikahan Jelita.
__ADS_1
"Jelitaaaa!" teriak nya beberapa kali.
Smoga suka