
Arhan pulang lebih awal karena selisih waktu jam masuk kerja mereka yang berbeda.
Arhan terlihat santai duduk Di ruang tamu menonton Tv. Tanpa permisi Jill langsung merebah kan tubuh nya di samping Arhan sambil memejam kan mata nya. Seketika mengalihkan perhatian Arhan.
"Kenapa Lo Jill?"
"Capek banget Hari ini.."sambil mangusap usap hidung nya.
"Lo sakit??" Arhan memandangi Jill yang terlihat lesu.
" Kecapek an aja! Gue nggak masak hari ini ya Han?? tapi Gue udah beli nasi Goreng.. tapi lupa masih di dalam mobil."
Arhan memegang kening ,"Demam Lo.."
"Masak sih! tangan Lo aja kali yang salah.., coba sini kening Lo!" Jelita bangun dengan malas untuk memegang kening Arhan.
"Sama aja nya ini.."
"Tangan Lo tu yang salah..Lo mungkin kecapeaan..kerja kayak Kuda." Ledek Arhan
"Iya kali ya..Sumpah badan Gue sakit semua.." Kembali menyenderkan kepala nya di kepala kursi.
"Tunggu bentar,Gue masakin Air dulu..buat mandi..".
Sekita Hati Jill menjadi nyaman karena Arhan sangat perhatian dibalik sifat nya yang terkadang datar.
Setelah Air panas disiap kan, Jill segera mandi dan kini terlihat lebih segar.
kelur dari kamar dengan memakai daster berwarna kuning dengan motif kepala bebek kecil kecil. Lucu dan sangat seksi dibadan Jill.
Jill datang dan langsung duduk di sebelah Arhan dengan rambut yang basah. Arhan hanya bisa menelan air ludah nya.
"Otak lu ngeres ya kan??" tegur Jill sebelum duduk, lalu Arhan mengalih kan pandangan nya.
"Badan kayak ranting kering aja sok kepedean!" balas Arhan tak mau kalah.
"Terus ngapain Lo melototin Gie gitu???"
"Terus ngapan Lo meluk meluk Gue semalem..Lo pikir Gue nggak tersiksa?? sesak napas Gue..."
"Isshh!!" Jelita kalah telak, dan memukul pundak Arhan. "nasi nya udah Lo ambil??"
"Udah. Lo mau makan??"
"Nggak begitu Laper sih..Mulut Gue pait banget nih rasa nya!"
"Dyaaaaaaarrrrrrrr!" lagi lagi suara petir datang dengan keras nya, dan Lampu juga ikut mati seketika.
__ADS_1
Dengan spontanitas Jill melompat kepangkuan dengan tangan mengalung di leher Arhan.Jelita sangat ketakutan.
Tak hanya itu saja, hujan juga ikut datang di iringi Angin yang tidak terlalu kencang.
"JeeeDyaaaaaaaarrrrr" kali ini petir terdengar lebih mengerikan, Jill terlihat sangat ketakutan dan semakin mengerat kan pelukan nya seperti anak kecil.
Menyembunyi kann kan kepala nya di ceruk leher Arhan dengan mata yang terpejam.
Hujan semakin lebat, Arhan pun dengan canggung mengelus pundak Jelita yang saat ini sedang berada di pangkuan nya.
"Jangan Takut..jangan panik..Gue disini..?"
Jill diam seribu bahasa menahan rasa takut nya.
"Jill?? Lo nggak apa apa kan?" sambil di elus lembut punggung nya.
"Takut..." jawab jill dengan posisi yang masih sama.
ini sih juga cobaan buat Arhan, bukan masalah berat badan Jill yang menjadi beban di pangkuan. Tapi menahan hasrat yang menegang.
Sebagai lelaki dewasa dan Normal bagaiamana Arhan bisa menolak kenaluriahan nya ini ,secara MissV nya Jill menyentuh dan kadang menggesek MrP nya Arhan kalau bergerak. Apalagi Daster yang di kenakan juga pas banget untuk nyenagkan mata.
"Kak Arhan!!! Pekik Nurida saat melihat pemandangan yang terjadi antara Arhan dan Jill. Kebetulan juga Lampu ikut menyala.
Jill terkaget mendengar pekikan Nurida dan lampu yang sudah menyala.
Jill langsung bangun dari pangkuan Arhan dengan gelagapan.
"Sorry!" jawab Jill merapikan daster nya.
"Kenapa nggak ketuk pintu dulu Nurida?" tanya Arhab tenang, seolah tak terjadi apa apa, padahal sebenar nya setengah mati ia menutupi hasrat yang tidak tertuntaskan.
"Tadi pas mati lampu aku udah di dalam..orang pintu nya aja masih terbuka.. Aku masuk aja!"
Jelita terlihat sangat malu.
"Duduk aja Nurida.. biar aku buat kan minum.." tawar Jill segera ke dapur.
"Tumben malam malam kesini Nur??"
"Papa sama Bunda pergi ke Surabaya Kak?? Nurida kesepian..boleh ya malam ini menginap disini?"
"Uhuuuk! uhuuk!" Jelita tersedak saat mendengar kalau Nurida inginenginap.
"Kamu nggak apa apa.Jill?" Arhan langsung menghapiri Jill yang membawa nampan berisi minuman untuk Nurida. Batin nya pasti akan nggak nyaman banget kalau ada Nurida.
"Nggak tersedak aja.."
__ADS_1
"Nggak keberatan kan Kak Jelita? kalau aku menginap di rumah kakak ku sendiri??" tanya Nurida dengan makna memaksa.
"Sama sekali tidak" jawab Jill.
"Aku tidur di kamar yang mana ni??"
"Tidur dikamar ku saja.."
"Kamar ku saja?? Apa Maksud kak Jill?? apa kalian tidur berbeda kamar alias terpisah??"
Jill mendelik kesal dengan pertanyaan adik sepupunya ini.
"Kamarku terlalu sempit untuk menampung semua barang milik Jill..kamu kan tahu sendiri Nur?? Rumah ini tidak terlalu besar..Kamar Jill hanya dipakai untuk menaruh barang barang nya saja..kalau untuk masalah tidur, Jill tetap tidur di kamar ku.." Jelas Arhan.
"Oh! kirain kalian tidur terpisah kayak di novel novel itu!"
"Aku lagi nggak enak badan Nih Han?? Nurida..aku kemar dulu ya??" pamit Jill yang malas dengan Nurida.
"Aduuh masak sih Kak Jelita manggil Suami hanya dengan sebutan nama aja..Nggak sopan banget?"
Semaki kesini Jelita semakin kesal di buat nya.
"Agar kami lebih Akrab Nur?? itu memang panggilan sayang kami.." sela Arhan
"Mana boleh Kak?? kan Gak sopan..jangan jangan kalian-"
"Sudah Nurida..sana kamu ganti baju dulu!" perintah Arhan.
Jelita langsung pergi, masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal.
"Jangan di ambil Hati?" tegur Arhan sambil membawa nasi Goreng.
"Gimana aku nggak gondok..Ngomong nya aja asal asalan begitu! dia itu emang nggak suka sama aku.."
"Udah..makan dulu"
"Sampai kapan Nurida menginap disini.."
"Belum tahu,Om sama tante ke Surabaya?"
"Terserah deh!"
"Jill..Nurida itu sepupu ku..mohon pengertian nya ya??"
Jill hanya mendelik dengan kesal. Kini mereka tidur dengan saling membelakangi. Arhan harus lebih kuat menahan hasrat nya lagi.
Bagaimana tidak, daster yang dipakai jelita menyibak ke atas.. dengan paha yang menindih nya. Lagi lagi malam ini ia harus menahaan godaan dari Jelita.
__ADS_1