
"Tumben Ndra..minta di bawain sarapan?" kataku sambil meletak kan sarapan di atas Meja, karena Andra sudah menunggu di ruangan ku.
"Aku lagi malas sarapan di rumah!" jawab andra sambil mencium kening ku.
" Ya udah..cepetan sarapan..bentar lagi ada meeting.."
"Jill? Apa kamu sakit..."
"Nggak..mungkin kurang tidur aja, wajar lah..semalam kan kita pulang pagi.."
"Selamat pagi! Maaf menganggu..tadi pintu nya terbuka,jadi saya langsung masuk saja.." Kata Pak Japlin.
"Pak Japlin..gabung sama kita Pak..Mari sarapan.." tawar ku.
"Mari Pak..ikut sarapan.." timpal Andra
"Terimakasih..terus kan saja sarapan nya, Bu Jelita nanti langsung saja ke kantor Pusat sama Arhan .. karena Pak Iwan harus menyelesaikan pekerjaan nya terlebih dahulu sebelum di mutasi ke tempat Baru.."
"Kemana Pak Iwan akan di mutasi Pak?"sela Andra sambil makan.
" masih dekat dekat daerah sini juga Pak..Oh ya Bu Jelita, tolong Evaluasi hasil kerja Arhan. karena kata pak iwan arahan sangat berpotensial sekali, kinerja nya sangat bagus dan rapi" imbuh pak Japlin kepadaku.
"Baik Pak.."
" oh ya jangan lupa selesaikan semua pekerjaan yang saya minta semalam… Tolong selesaikan semuanya sebelum Bu Jelita mengambil cuti Lusa..?"
"Siap Pak Japlin..."
"Bagaimana Pak Andra.. Bapak juga jadi mengambil cuti??"tanya Pak japlin pada Andra.
" Jadi Pak.. bapak tinggal menandatangani persetujuan saja..karena sudah saya evaluasi sebelumnya..pekerjaaan tidak terlalu banyak, jadi saya berani mengajukan cuti.."
"Oke..kebetulan sekali Ya Pak Andra juga mengambil cuti di hari yang sama..hanya beda selisih hari saja hahaha"Goda Pak Japlin.
Andra hanya tersenyum menyungginhgkan sudut bibirnya.
" kalau begitu saya permisi dulu pak..Bu Jelita. Mari.."Pamit Pak Japlin.
Andra juga sudah menyelesaikan sarapannya.
"Sayang! aku Berangkat dulu ya!"pamit ku.
"Oke..hati hati Sayang! cup!"Andra mencium kening ku sebelum aku pergi.
Lagi lagi Arhan melihat Hal ini, ternyata Arhan menungguku dan ingin masuk ke ruangan. ku,namun di urung kan nya karena melihat Andra mencium ku.
"Arhan!" panggil ku.
"Maaf Bu..tadi saya..."
__ADS_1
"Tidak apa apa..ayo berangkat sekarang! Oh ya kamu bisa bawa mobil kan?"
"Bisa!"
"Kita bawa mobil kantor saja. "
kami hanya diam dan Canggung saat perjalanan dalam satu mobil.
"Jill? kamu sakit?"
"Enggak Kok Han ..mungkin aku capek aja.. Arhan! kita balik arah bentar ya!"
"Kenapa?"
"File nya ketinggalan di apartemen! aku lupa membawanya"
akhirnya kami memutar arahan akan mengantarku ke apartemen untuk mengambil file yang ketinggalan.
" Kamu tinggal di sini??"
" ya betul sekali!"
kami menemui calon investor di sebuah restoran ,Benar kata pak Japlin,Aku melihat kinerja Arhan mempang cukup bagus sebagai pemula. Tinggal di asah saja agar lebih matang.
"Jill? kamu sakit..." tanya Arhan padaku setelah pekerjaan kami selesai.
"Sedikit pusing saja Han..!" jawabku sambil memijit pangkal hidung ku.
"Nggak usah..aku baik baik saja .. lebih baik kita segera pulang ke kantor.. karena banyak pekerjaanku yang belum terselesaikan,"
"Braaak!!!" Baru saja Jill berdiri dari tempat dudukku aku sudah jatuh tak sadarkan diri.
"Jill!" aku langsung menggendong nya ,dan membawa nya masuk ke dalam mobil untuk ku bawa ke Rumah Sakit.
jelita terlihat sangat pucat.
" Gimana keadaan teman saya Dok?"
" Teman Anda kelelahan Pak..kalau terus terusan begini bisa merusak kesehatan nya..dan sistem pencernaan nya dan organ lain nya.."
"Jadi Dok..harus bagaimana?"
" Pasien kurang istrihat..,saya harap Pasien mengganti pola hidup yang lebih sehat..untuk tidur lebih teratur..kurangi begadang dan mengurangi minuman yang bersoda dan beralkhol.."
" Terima kasih ya Dok atas sarannya"
"Sama sama Pak.."
Aku tidak menyangka, ternyata banyak sisi lain yang tidak ku ketahui pada diri Jelita. Jelita adalah perempuan yang sangat cantik dan smart. Aku tidak menyangka kalau dirinya juga suka mengonsumsi minuman yang beralkohol.
__ADS_1
"Udah enakan Jill..?
"Lumayan Han? makasih ya..udah nolongin aku.."
"Pesan Dokter, kurangi begadang dan juga kurangi minuman yang beralkohol.."
Jelita hanya tersenyum padaku.
aku mengantarkan Jelita pulang agar bisa beristirahat.
KAMPUS.
Aku tidak melihat kedatangan Jill malam ini di kampus , mungkin keadaan Jill belum membaik. Aku berinisiatif untuk mengantarkan Tugas dari dosen ke Apartemen nya, sekaligus ingin menengok nya. Entah, seperti nya aku kagum dengan sosok Jelita.
"Ting Tong!" Aku memencet Bel.
"Cklek!!" pintu terbuka, aku sangat kaget saat melihat Siapa yang membuka pintu.
Pak Andra lah yang membuka pintu kamar Apartemen Jelita, Aku melihat Pak Andra hanya mengenakan handuk kimono dengan rambut nya yang masih basah,ku pikir aku salah masuk kamar,
Ternyata tak lama kemudian, Ada Jelita yang keluar dari dalam "Siapa Ndra???" tanya nya.
Jelita juga kaget saat melihat kedatangan ku, "Arhan!" kata nya. Aku juga melihat Jill hanya mengenakan handuk kimono dengan rambut yang sama sama basah. Tak hanya itu, aku juga melihat bekas bekas warna ungu kehitaman di leher Jelita.
"Silah kan Masuk.." ucap Pak Andra mempersilah kan ku.
"Terimakasih Pak..lain kali saja, saya kesini hanya ingin memberikan tugas dari kampus pada Bu Jelita.."
"Oh kalian satu kampus?? kenapa kamu nggak cerita Jill?" jawab Pak Andra ,tanpa malu nya mencium pucuk kepala Jelita Di depan ku, Lalu masuk kedalam meninggal kan kami di depan pintu.
Beda dengan Jelita yang terlihat sangat tidak nyaman."Makasih Ya Han...kamu nggak mamapir masuk dulu?"
"Sudah malam..lain kalo saja..Aku pamit dulu.."
"Arhan!" panggil Jelita saat aku melangkah pergi.
"Ya!" aku menoleh pada nya, dan Jill berjala. mendekati ku.
"Memang hidup ku seperti ini Arhan..Aku harap...."
"Tidak masalah..santai saja,Life is choise bukan? Aku balik dulu ya! lekas sembuh Jelita.."
"Oke..terimakasih!"
Lagi-lagii aku menemukan sisi yang lain pada diri Jelita. Tidak bisa ku pungkiri memang siapa saja yang melihat Jelita pasti akan jatuh hati padanya.
Apalagi Pak Andra lelaki kaya yang punya segalanya, Mudah Saja Ia mendapatkan perempuan ,termasuk Jelita.
selain kaya raya Pak Andre juga memiliki Face yang sangat menawan,semua kaum Hawa pasti tergila gila pada nya.
__ADS_1
Meski begitu aku tetap kagum pada Jelita.