
Jill turun dari mobil dan hendak menali Tali sepatunya yang lepas sebelah. ketika ia membungkuk dan akan berjongkok, Tiba tiba Arhan memegangi pundaknnya
" udah kamu berdiri aja! biar aku yang menali tali sepatunya.." Arhan langsung jongkok menali sepatu Jill, padahal disana banyak orang yang melihat ke arah mereka namun Arhan sedikit pun tidak malu.
Jill merasa di perlakukan dengan baik oleh nya. "Makasih..Gue bisa sendiri kok tadi?? dari Pada Lo di lihatin orang banyak??" ucap nya sambil berjalan mensejajar kan posisinya dengan Andra.
"Emang Lho mau daleman Lo kelihatan??"
"Iya! Lo kalau ngomong suka nggak difilter..gini gini gue pake celana pendek kaliii!" Jill mencebikan bibir nya.
"Ya Walaupun!"
"Arhan..Lo serius ngajakin Gue beli Emas disini??" tanya Jill di depan gerai emas.
"Hmmm ambil lah..sebagai suami Gue belum pernah ngasih sesuatu sama Lo Jill??"
"Lo tau kan selera Gue?! Yakin Lo suruh Gue milih??"
"Yakin! Lo pasti juga tahu kapasitas kemapuan Gue kan??"
Jlebb! kata-kata Arhan mampu meremas hati Jelita seolah menyindirnya. sampai disini jelita bisa mengerti bahwa Tanggung jawab seorang lelaki bukan melulu soal uang, tapi bagaimana dia memperlakukan perempuan dan ingin memenuhi tanggung jawab nya.
walaupun Arhan tidak sekaya Andra, tapi arhan sudah mempunyai niat baik untuk menyenangkan hati istrinya.
Jelita memilih-milih cincin yang sekiranya Arhan dapat dan mampu membelinya.
"Ini gimana??" tanya Jill memperlihat kan cincin tersebut.
"Nggak kalung aja ya Jill??"
"Kalau kalung??" Jill berfikir dua kali,ia takut Arhan merasa Minder karena harga nya lebih mahal dari cincin..
"Kenapa?? ambil aja..."
"Aku..-"
Arhan seperti nya tahu apa yang difikirkan oleh Jill,oleh sebeb itu ia sendiri yang memilih kalung nya
"coba di pake..." pinta Arhan sambil mengalung kan ke leher Jill.
Jelita melotot melihat Arhan yang nekat membeli kalung ini..
"Saya mau yang ini mbak.. berapa?" tanya Arhan pada si penjual.
"9juta tujuh ratus sembilan puluh lima ribu Pak.."
Lalu Arhan mengeluarkan kartu debit dan membayar nya.
"Jangan di lepas..pakai aja terus".
hore hore hati Jelita melunak melihat kebaikan Arhan padanya.
__ADS_1
Baru saja membuka pintu Rumah Hujan tiba tiba turun lebat di iringi dengan angin yang kencang.
Jill ke kamar nya untuk membersih kan diri,begitupun Arhan juga pergi ke kamar nya sendiri
"Arhaaaaaan" teriak Jelita karena mati Lampu. Hujan juga belum reda..ditambah angin yang kian kecang.
Arhan berjalan dengan meraba raba tembok.. ia belum sempat mengambil Lilin karena Jelita sudah berteriak, Akhir nya ia menemukan gagang pintu dan membuka nya.
"Bruggggggkkk!!" Jelita menubruk Arhan. Terjadilah tumpang tindih di antara mereka.
"Awwww!" Pekik Arhan kepalan nya membentur Kaki ranjang.
"Ckleeekkk!" tiba tiba lampu menyala, di iringi angin yang mulai berhenti bertiup, namun masih terdengar gerimis.
Mata Arhan membulat tak percaya,ternyata ia di tindih Jelita yang hanya berbalut handuk saja itupun handuk nya sudah tak berturan lagi.
"Tutup mata Lo!" perintah Jelita dengan hati was was. kemudian bangun membenarkan Handuk yang meliliti tubuh nya.
Arhan langsung menutup mata, namun tidak dengan alat kelelakian nya, siapa sih yang tidak tertarik nafsu nya,jika melihat Tubuh putih mulus jenjang yang dimiliki jelita. Arhan hanya bisa menahan dan menelan Ludah nya.
Arhan berangsur dan bangun.
"Lain kali permisi kek! kalau mau masuk ke kamar orang.."
"Lo yang berteriak manggil manggil Gue!"
"Iya! tapi kenapa Lo berdiri di depan Lemari..Gue kan mau ganti baju.."
"Mana Gue tahu??"
"Ya udah..Gue balik ke kamar Gue.."
"Arhan!" pekik Jelita menarik lengan Arhan "Temenin Gue dulu ya Please....?" pinta nya dengan Memelas.
"Dyaaaaaaaaaarrrrrrrrr!" kilatan petir menyambar lagi, Spontanitas membuat Jill memeluk Arhan dan sial nya, Lampu juga ikut mati lagi.
Padahal Jill belum.sempat memakai baju.
Kali ini Hati Arhan berdegup tak karuan. Ia mencoba menyembunyi kan nya.
"DYAAAAARRRRRR!!" lagi lagi Kilatan petir menyambar tanpa permisi. Jill semakin merekat kan pelukan nya seperti bocah ketakutan.
Lengan Arhan pas tepat menyenggol buah empuk dan kenyal segar milik Jelita. Demi apapun Milik nya sudah dalam tegangan tinggi.
"Gue takut..temenin Gue sampai nggak ada petir lagi ya Han??" rengek nya lagi.
Dan sial nya Hujan kembali lebat.
"Lo nggak mau nemenin Gue Ya Han?? sorry sorry...kalau kata kata Gue bikin Lo tersinggung??"
"Gue nggak tersinggung"
"Dyaaaaarrrrr!" suara petir datang lagi, suasana semakin membuat Arhan menang banyak kali ini.
__ADS_1
"Kalau hujan,mati lampu Gue nggak takut..tapi kalau petir Gue takut...Plesae Ya!"
"Hmmmm! ya udah ganti baju sana.."
"Gelap! baju Gue di Lemari semua"
"Terus Lo mau Handukan terus.."
" Iya! iya! tutup Mata Lo! Gue mau ganti baju dulu!
"ngapain nutup mata..udah Gelap nggak kelihatan!"
Jelita sudah memakai baju saat ini, mereka berdua sudah berada di atas ranjang.
"Han..Lo udah tidur ya?"
"Hmmm hampir" kata Arhan memejam kan mata nya.
"Lo yakin dengan pernikahan ini?"
"Kenapa?Lo teringat sama Andra? pingin balik lagi sama dia??"
"Jahat banget sih mulut Lo??"
"Ngapain Lo tanya?"
" Ya tanya Doang?? Lo nggak apa apa kan?? kalau Gue belum siap berhubungan Sexx sama Lo??"
Arhan mendengus"Udah deh..Gue ngantuk.. omongan Lo jangan kemana mana.."
"Lo punya pacar?? Lo boleh kok jalan sama Dia..kalau Lo ngerasa pernikahan ini hambar.."
"Ya..nanti kalau Gue ketemu..."
" Serius Gue Han?? karena Gue belum tahu kedepan nya gimana perasaan gue??
"Hmmmmnn" jawab arhan datar.
Entah mengapa hujan malam ini begitu awet sekali. Lampu juga tidak menyala, Akhir nya mereka tertidur dengan pulas.
"Jill bangun.." arhan menggoyangkan tubuh Arhan.
"Hmmmmn" masih terpejam.
"Bangun.."
"Nanti! masih dalam posisi wenak Nih..." masih tidak mau bangun,malah berganti posisi dan semakin mengerat kan pelukan nya.
"Bangun sudah siang!"
"Iya! bentar!"
Kemudian Jelita mulai membuka mata, dan mengerjap ngerjap kan nya. Ya Tuhan betapa malu diri nya saat kesadaran nya sudah terkumpul.
__ADS_1
"Udah bangun??" terdengar jelas tepat di telinga nya.
Jelita terontak kaget, saat ia melihat ternyata diri nya sedang berada di caruk leher Arhan sambil memeluk Erat tubuh Arhan.