
Bela yang sedang menunggu Ibrahim melihat banyak suster sedang mendorong sesorang lalu mendekat dan melihat ada apa setelah tahu siapa yang didorong Bela sangat terkejut.
"Akang,,Ya Allah ada apa ,ini kenapa sus suami saya?"Panik Bela sambil berjalan mengikuti para suster yang mendorong Ibrahim ke ICU.
"Dia korban kecelakaan bu,,ibu tunggu disini dulu ya"Suster lalu menutup pintu ruangan ICU.
Bela tertunduk sedih dan menangis melihatt suaminya kepalanya banyak mengeluarkan darah,seseorang menepuk pundak Bela,dia adalah Harun,yah,,yang menyrempet Ibrahim adalah Harun sahabatnya sendiri.
"Maafkan saya,saya sudah menabrak suami kamu"Harun menepuk pundak Bela dan Bela berdiri melihat siapa yang berbicara padanya.
"Kamu!!kamu yang waktu itu ketemu direstoran kan?"
"Iya saya Harun sahabat Gibran,maksud saya sahabat saya yang wajahnya mirip suami kamu"Jelas Harun.
"Oh iya gak apa apa kang,auhhh perutku"Tiba tiba Bela kesakitan memegangi perutnya.
"Kamu mau melahirkan nona?"
"Tidak,seharusnya besak jadwal cesar aku karena bayi aku sungsang kang,,mungkin ini efek aku menangis jadi sedikit nyeri"Bela berusaha tetap tersenyum meski menahan sakit.
Saat Harun akan mengajak Bela duduk dokter sudah keluar,Bela buru buru menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan suaminya.
"Dok bagaimana keadaan suami saya?".
"Suami anda baek baek saja nona,luka dikepalanya juga sudah saya jahit,dia segera dipindahkan ke ruang perawatan".
"Terima kasih dok,,boleh saya masuk dok?".
"Iya silahkan,pasien belum sadar pengaruh obat bius mungkin sebentar lagi akan sadar".
"Kalau begitu saya permisi dan tolong urus administrasinya dulu ya?".
"Baek dok"Bela menghela nafas dia bingung dia takut uangnya tidak cukup karena besak dia juga harus melahirkan cesar Harun yang mengerti arah pikiran Bela lalu angkat bicara.
__ADS_1
"Maaf nona,saya yang akan bertanggung jawab sama suami nona,karena saya yang bersalah disini,jadi nona tenang saja".
"Tapi kang,pasti mahal biayanya".
"Nona tenang saja,silahkan nona ke dalam saya akan keadministrasi dulu"Tanpa persetujuan Bela Harun meninggalkan Bela yang masih berdiri didepan pintu.
Bela perlahan masuk dan membuka pintu,dia melihat suaminya terbaring lemah membuat hati Bela sakit,dia mendekati ranjang Ibrahim dan duduk disampingnya.
"Kang,cepat sadar kang,anak kita akan segera lahir apa akang gak mau melihat dan mengadzankan anak kita?"".
Ibrahim yang mulai sadar teringat tentang Oliv,bayangan dia bersama Oliv selalu terlintas dalam ingatanya.
"Ooliivvvv"Ibrahim sadar lalu memanggil nama Oliv Bela yang kaget sangat terkejut kenapa suaaminya memanggil perempuan laen tetapi Bela sebisa mungkin untuk tenang mungkin Ibrahim sedang bermimpi.
"Alhamdulilah akang sudah sadar,aku panggilkan dokter ya kang"Bela berdiri akan memanggil dokter Ibrahim masih bengong di tempat tidur.
Harun masuk kedalam ruangan Ibrahim dia celingak celinguk mencari Bela tetapi tidak ada lalu dia mendekati Ibrahim.
"Hae,kamu baek baek saja"Tanya Harun karena Ibrahim memiringkan kepalanya.
"I iya saya Harun,,kamu tahu darimana namaku?".
"Ya elah Run,kita kan temenan,,lo lupa kita satu kampus hah".
"Gibran,,ka kamu Gibran,ini benar kamu"Harun lalu berhambur memeluk Gibran alias Ibrahim dia antara shock dan juga kaget.
"Iya lah ini gue,emang sapa lagi,,maafin aku,aku baru ingat siapa diriku Run,aku sudah ingat semuanya,aku inget Oliv,inget bokap,nyokap"Ibrahim sedih.
"Ja jadi lo hilang ingatan selama ini!"Kaget Harun lalu Gibran menceritakan semuanya sama Hrun termasuk hubunganya dengan Bela,,dia juga meminta Harun merahasiakan ini semua dari Bela maupun Oliv.Dia sadar akan posisi mereka saat ini Gibran juga tak ingin membuat Bela sedih karena bagaimanapun anak yang dikandung Bela adalah darah dagingnya.
"Loh akang kalian kok akrab sekali"Bela masuk bersama dokter lalu dokter memeriksanya dan Ibrahim dinyatakan sembuh dan baek baek saja.
"Iya tadi kami mengobrol nona,maaf saya lancang masuk tadi saya mencari nona"Jawab Harun berbohong.
__ADS_1
"Panggil Bela aja kang biar enak didengarnya".
"Kang,akang makan dulu ya Bela suapin terus minum obat"Bela meengambil mangkuk bubur yang tadi dia beli dikantin rumah sakit.
"Enggak Bel,saya makan sendiri saja".
Harun pamit pulang dulu dia akan memberi tahu Raka walau bagaimanapun mereka sahabatan.
...****************...
Ditempat laen Oliv sedang termenung ditaman belakang,dia teringat dengan cincin yang dipakai Ibrahim tadi,cincin itu sama persis dengan cincin pertunangan mereka dulu bersama Gibran,apakah hanya kebetulan mirip atau memang mereka orang yang sama.
Oliv melamun setetes aer mata jatuh,,dia kembali teringat dengan Gibran entah kenapa dia merasa sangat rindu dengan Gibran,lalu dia memutuskan akan kerumah Gibran karena disana ada ayah dan ibunya Gibran.
"tok tok"
"Assalamualaikum bu,,"Salam Oliv ketika didepan rumah Gibran.
"Walaikumsalam,eh neng Oliv mari neng maasuk nyonya ada didalam"Ajak bi Asih asisten rumah tangga Gibran.
"Iya bi makasih"Lalu Oliv masuk menemui ibunya.
"Assalamualaikum bu"Sapa Oliv.
"Walaikumsalam sayang,ya ampun kamu kesini juga ibu kangen banget Liv!"Mereka berpelukan erat melepas kangen karena selama menikah Oliv belum pernah datang berkunjung lagi.
"Aku juga kangen bu,ibu sehat kan,?".
"Iya nak,ibu sehat gimana calon cucu ibu disini sehat kan"Ibunya Gibran mengelus elus perut Oliv yang sudah mulai terlihat.
"Alhamduliah sehat bu doain ya bu lancar sampai lahiraan nanti"
"Pasti dong sayang,yuk kita ngobrol dikamar ibu saja".
__ADS_1
Akhirnya mereka masuk kamar dan saling bertukar cerita kepada ibunya Gibran,Oliv sudah menganggap seperti ibunya sendiri.