
Pov Rani
🍁 Biarkanku membingkai rasa. Menyimpannya dalam peti kenangan. Izinkan ia tetap tersimpan. Tentang rasa yang harus terabaikan 🍁
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Nuraeni Maharani binti Samiran dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Saksi, sah?"
"Saaaaaahhhh!!"
"Alhamdulillah ..."
Riuh kudengar sorak bahagia dari ruang tamu, disusul bacaan doa dari penghulu disana. Ya, pagi ini akad nikah telah berlangsung dengan sakralnya. Ibu yang sedari tadi di sampingku, tiba-tiba memeluk erat.
"Alhamdulillah, Nduk, kamu nikah juga. Selamet yo." Ibu menghujamiku dengan ciuman di kening dan kedua pipi.
Aku, entahlah. Harusnya aku bahagia. Tapi, kenyataan ini berkata lain. Ada satu rasa yang sampai detik ini belum juga ada. Walau aku, sungguh sangat menginginkannya. Rasa bahagia.
"Ibu keluar dulu yah, nanti suamimu kesini. Jangan lupa sungkem," tuturnya lagi lalu beranjak pergi.
Untuk sesaat, aku melihat kedua mata ibu masih berkaca-kaca. Ah, andai engkau tahu gejolak di dalam sini. Yang aku sendiri tak tau pada siapa akan berbagi.
Aku menghela nafas berat. Menyadari bahwa kini aku bukan anak kecil lagi. Aku resmi menjadi seorang isteri.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling, menelusuri setiap sudut-sudut kamar. Cantik, dekorasi warna ungu dominan putih. Dengan bunga-bunga hidup yang dirangkai sedemikian rupa sekeliling ruangan.
Mataku menangkap kelopak mawar yang bertebaran di atas kasur. Membentuk sebuah hati yang lumayan besar ditengahnya.
Kupandangi pantulan cermin besar di samping meja rias. Kerudung putih menjuntai menutup dada, gaun putih berbahan satin halus berpadu tile dengan desain yang elegan menutup hingga mata kaki.
Beralih pada riasan wajah. Mencoba tersenyum kepada bayangan sendiri. Aku sengaja tak ingin berdandan berlebihan.
__ADS_1
"Assalamualaikum," terdengar suara salam dari balik pintu.
"Wa alaykumus -" Belum selesai aku menjawab salam.
"Ceklek" Dia menutupnya. Lancang sekali!
Hampir saja ingin mengomelinya panjang lebar, atau melemparnya dengan sapu di ujung kamar. Tapi kesadaran itu kemudian datang, aku lupa bahwa kamar ini kini telah menjadi miliknya. Pun diri ini telah menjadi haknya.
Tetiba aku mendadak ngeri. Ditambah lagi degub jantungku kini berdetak tak beraturan. Gugup, tentu saja, untuk pertama kalinya ada laki-laki yang masuk ruangan ini. Bahkan adik dan bapak, bisa dibilang jarang menginjakkan kakinya disini.
Aku masih mematung membelakangi cermin. Memandangi pria berjas putih itu berjalan menghampiriku. Tidak, bukan memandangi parasnya. Tetapi memandangi langkah kakinya yang semakin mendekat.
Aku merunduk, memilin ujung kerudungku dengan jari tangan. Bisa kurasakan sendiri telapak tanganku sangat dingin. Semoga saja aku tidak pingsan. Atau mungkin pria di depanku ini akan mengambil kesempatan.
Ohh tidak!!
Aku menggeleng-gelengkan kepala sendiri. Pikiran macam-macam seperti ini sungguh sangat menyiksa.
Ekor mataku menangkapnya, ia berbelok. Mengempaskan diri di sisi ranjang. Lalu di tepuknya sisi kanan tempat ia duduk.
Kaki ini tergerak mengikuti perintahnya dengan hati yang penuh gejolak. Kini, aku tepat berdiri di sampingya. Bisa kurasakan ia memandangiku lama. Lalu meraih jemari tanganku, menuntun untuk duduk di sampingnya.
Perlahan ia menyentuh puncak kepalaku. Menempelkan telapak tangannya disana. Aku masih tertunduk, merasakan kecanggungan yang luar biasa. Sayup-sayup kudengar ia sedang merapalkan doa.
"Tenang saja, jangan khawatir. Saya tidak akan menyentuh kamu, sebelum kamu benar-benar bisa menerima dan mencintai saya," ujarnya setelah membaca doa dan menarik tangannya dari puncak kepala.
"Maaf," sahutku dengan suara sedikit bergetar.
Perasaanku berkecamuk. Ada kepedihan yang hanya bisa kurasa. Pernikahan yang tak ku inginkan ini telah terjadi. Semuanya serba tiba-tiba.
"Saya akan keluar, nanti ada yang akan masuk menjemput kamu. Sebentar lagi tamu undangan banyak yang datang. Saya harap, kamu jangan lupa makan, karena seharian ini kita akan sangat lelah." Ia berdiri hendak beranjak pergi.
Sampai akhirnya, "Tap!" Aku menahan tangannya agar ia tidak pergi.
__ADS_1
Lelaki itu menoleh, tepat menangkap kedua mataku. Segera aku berpaling ke bawah. Melihat sepatu hitamnya yang mengkilap.
"Anu mas, mm ... itu, saya belum sungkem," ucapku akhirnya.
"Tidak perlu sungkem."
"Tapi nanti ibu marah," aku berasumsi. Membayangkan ekspresi ibu jika aku tak melakukan perintahnya.
"Yasudah jangan di bilangin ke ibu," jawabnya.
"Pasti nanyain," sahutku cepat.
"Jadi?" Ia bertanya, alis kanannya terangkat sebelah.
"Jadi harus sungkem."
Entahlah, membayangkan ibu marah saja aku tak berani. Akhirnya aku sungkem kepada lelaki di depanku ini.
Tak ada suara, keheningan pun tercipta. Dengan posisi sungkem seperti ini aku jadi mendadak risih dan bingung.
"Mas!"
"Iyah?"
"Kalau sungkem gini, biasanya bilang apa?" Aku mendongak, menatap lekat ke arahnya.
Kulihat pucuk hidung itu begitu runcing, dan tatapan kedua matanya itu. Oh, ya Allah!
Aku beringsut berdiri. Mengingat tatapannya tadi yang sangat intens dan begitu dekat, membuat degub jantungku berdebar tak beraturan. Rasa panas mulai menjalar di kedua pipiku.
Sepertinya ia sedang menahan tawa, kulihat dari pantulan cermin, kedua bahunya berguncang pelan.
"Sudah, tidak apa-apa. Yang penting sudah sungkem," ujarnya seraya berjalan mendekat. Kini, Ia berdiri tepat di depanku. "Kamu cantik, kalo malu gini," ucapnya lagi.
__ADS_1
Whatt?!!