Kepingan Hati

Kepingan Hati
Kangen


__ADS_3

Devan pulang dalam keadaan tak tenang. Sepanjang jalan ia berpikir keras. Tentang kecelakaan Ayah, Mas Rahman juga nasib keluarga mereka saat ini.


"Sebegitu bangkrutkah mereka hingga harus meminta bantuanku?" gumam Devan pelan.


Kembali terngiang suara isakan Rani di telinga.


Kenapa keadaannya sekarang begini. Andai saja kau mau menungguku sedikit lebih lama, Rani. Tak mungkin jalan kita seperti ini. Tapi, ah ... sudahlah. Tak penting lagi sekarang.


***


Fortuner putih milik Devan hendak memasuki garasi rumah. Dua kali ia memencet klakson, memberi kode pada Pak Satpam agar membuka pintu gerbang. Ia akhirnya menggunakan jasa satpam dan asisten rumah tangga. Sebab Mamah sudah menua dan Nayla sibuk mengurus buah hati mereka. Toh, pendapatan Devan selalu mencukupi. Bahkan bisa dibilang, ia sudah sangat kaya saat ini.


"Makasih, Pak," ucap Devan pada Mang Agus, satpam rumahnya. Lelaki setengah baya itu mengangguk sambil tersenyum.


Devan bergegas masuk ke dalam rumah. Di edarkannya pandangan ke sekeliling ruang tamu. Sepi tak satupun orang disana. Ia lalu menuju dapur. Barangkali ada Mamah atau Nayla di sana. Tapi, zonk. Tak ada siapapun di dalamnya.


Ia menuju halaman belakang. Lupa belum mencuci tangan dan kaki sepulang ia dari kantor tadi. Pikirannya kembali berkecamuk. Bagaimana cara menyampaikannya pada mamah terkait Ayah dan Mas Rahman?


"Van!"


"Astaghfirullah!" Sebuah tepukan di pundaknya membuat ia gagap dan terkejut. Di usapnya dada sendiri, menenangkan.

__ADS_1


"Mamah ihh," celetuknya.


"Lagian ngapain sih ngelamun gitu?" Mamah bertanya. Devan menggeleng sebentar lalu celingukan mencari sesuatu.


"Nayla sama Hadziq di kamar, baru aja naik. Jagoanmu tuh rewel dari tadi," celetuk Mamah lagi.


"Kenapa?" tanya Devan.


"Mau adek mungkin."


"Ih, Mamah mah, lagi serius juga." Devan nyengir. Perempuan tuanya itu masih saja menggoda. Cita-citanya muluk sekali. Ingin punya tujuh cucu dari Devan. Maklum, anak tunggal. Jadi harapan satu-satunya hanya ada pada pemuda itu.


"Taruh aja, Bi. Nanti sama saya," sahut Mamah seraya pergi berlalu dari hadapan Devan. Segera saja pemuda itu berjalan menaiki anak tangga. Menuju kamar, menemui Hadziq dan Nayla.


"Van, mau makan abis maghrib apa sekarang?" Teriak Mamah melengking.


"Nanti aja, Mah," sahut Devan setengah berteriak. Kembali ia mengayunkan kaki menaiki anak-anak tangga.


Satu, dua, tiga, empat, terus saja pemuda itu menghitung. Menaiki anak tangga menuju lantai dua.


"Tok! Tok! Assalamualaykum," ucap Devan sambil mengetuk pintu. Kepalanya melongok ke dalam kamar. Dilihatnya Nayla sedang melihat ke arah Hadziq. Seketika saja gadis itu menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


"Udah pulang, Mas?" tanya Nayla seraya menghampiri. Ia lalu mencium takzim punggung tangan suaminya.


"Udah, Sayang," jawab Devan.


"Mau mandi sekarang?" tanya Nayla lagi.


"Iya, gerah. Kamu udah mandi?" Devan menggoda.


"Udah, kan tadi pergi sama Mamah." Devan manyun. Padahal bukan itu jawaban yang ingin di dengarnya.


"Mandi lagi, mau?" Devan mengangkat kedua alisnya.


"Ish!"


"Serius!"


Nayla menoleh. Kode suaminya meminta kalau sudah seperti ini. Dilihatnya Hadziq pulas tertidur. Ia diam sejenak, berpikir.


"Kelamaan mikir ih," ucap Devan seraya meraih Nayla ke dalam gendongan. Sekejap saja gadis itu sudah terdampar di atas ranjang kasurnya.


"Mas kangen," bisik Devan lirih.

__ADS_1


__ADS_2