Kepingan Hati

Kepingan Hati
Kembali Bersabar


__ADS_3

Pagi hari adalah waktu yang sangat sibuk bagi setiap orang. Khususnya perempuan yang sudah berumah tangga. Terlebih jika tinggalnya satu atap dengan mertua. Tentu tak ingin jika dicap sebagai menantu yang suka bermalas-malasan.


Akhir-akhir ini setiap menjelang adzan subuh. Aku melihat mas Rahman tengah terpekur lama di atas sajadah. Terkadang kedua bahunya ikut berguncang, seperti sedang menangisi sesuatu.


Sebelumnya aku pernah ikut beberapa kali shalat membersamainya. Hanya saja saat ini aku sedang berhalangan. Jadi ku putuskan untuk segera bergegas ke kamar mandi dan membantu ibu mertua memasak di dapur. Kebiasaan di rumah mas Rahman memang berbeda dengan di rumahku. Jika biasanya ibuku memasak setelah shalat subuh, beda dengan ibu mertuaku yang jadwal memasaknya sebelum subuh.


"Lho ngapain di sini, Rani?" tanya ibu mertua begitu melihatku berjalan ke dapur.


"Rani boleh bantuin nggak?" tanyaku menawarkan diri.


"Boleh, ayo sini." Beliau tersenyum ramah. menunjukkan barisan putih giginya yang terawat.


Beliau menyodorkan beberapa bumbu dapur untuk ku kupas. Seperti bawang merah dan bawang putih. Sedangkan sisanya, memetik bayam dan memipil jagung di kerjakan ibu mertua sendiri.


"Rahman sudah bangun?" tanyanya sembari memetik tangkai bayam.


"Sudah, ibu. Tadi udah tahajud langsung berangkat ke mesjid mau shalat subuh."


"Oh baguslah, ehm ... Rani nggak shalat subuh?" tanyanya lagi.


Aku menggeleng dan beliau pun tersenyum.


"Kasihan Rahman," celetuknya kemudian.

__ADS_1


What?!


* * * * *


Setelah menyiapakan bekal mas Rahman untuk dibawa ke kantor, aku bergegas mengambil pakaian di lemari untuk di kenakannya hari ini.


Seperti biasa setiap ia hendak bekerja, pakaian yang akan dikenakan sudah tertata rapi di atas kasur. Aku selalu memadu padankan, atasan dan bawahan yang akan ia pakai setiap harinya. Aku masih belajar untuk menjadi isteri yang baik untuk mas Rahman.


Sementara kedua tanganku sedang mencari-cari kaos kaki di lemari mas Rahman. Terdengar bunyi dari arah pintu kamar. Bunyi 'klik' tanda pintu sedang di kunci dari dalam.


Ku alihkan pandangan, sekadar memastikan apakah itu benar mas Rahman. Kulihat ia berjalan menghampiri. Dengan hanya memakai celana boxer panjang dan handuk yang di usapkan ke atas kepala. Sepertinya ia selesai keramas. Aku pun kembali berkutat dengan lemari. Mengulurkan tangan lebih dalam lagi, dengan ekspresi kedua alis berkerut tanda serius mencari.


Eh, tunggu. Biasanya aku melarikan diri lebih dulu sebelum ia selesai mandi. Kenapa otakku jadi lambat bekerja gini. Nggak sadar saat tadi dia mengunci pintu. Malah sibuk mencari pasangan kaos kaki yang belum ketemu.


Dia tersenyum dan mengerling nakal. Ish, Menggoda.


"Nyari apa?" tanyanya dengan masih menggosok kain handuk ke rambutnya yang basah.


"I...ini mas, anu kaos kaki yang sebelah nggak ada." jawabku terbata. Dan tanpa sadar menyerahkan sebuah kain kepadanya, yang kukira itu kaos kaki.


Ia menatap heran. kulihat kedua alisnya mengernyit.


"Kamu serius itu kaos kaki?"

__ADS_1


"Iyah, Mas, eh," mataku terbelalak saat melihat lipatan kain yang tadi kuraih. Ternyata celana pendek milik Mas Rahman.


"Jadi?" Dia bertanya dengan sedikit menahan tawa.


"Maaf salah hehe." Kuletakkan kembali kain milik Mas Rahman ke dalam lemari. Tergesa-gesa tanpa melipatnya lagi.


'Dih, kenapa musti salah gini!'


"Dek," panggilnya lembut. Di ikuti desiran hangat yang menjalar dalam hati. Belum sempat aku berbalik tiba-tiba kurasakan suara Mas Rahman begitu dekat. Persis di belakangku.


Sejurus kemudian kedua tangannya melingkar di depan perut. Memelukku dari belakang. Sangat erat, hingga ada kehangatan yang tercipta.


Aku berbalik, menatap ke arahnya. Menelisik lebih dalam, kedua matanya yang meneduhkan pandangan. Ada kebahagiaan di situ, dan tatapan mendamba di bening kelopak matanya.


'Cup'


Dia tersenyum. Sedangkan kedua pandangaku terbelalak. Membulat sempurna sampai lupa bagaimana caranya untuk berkedip. Kurasakan seperti waktu sedang terlambat berjalan.


Ia begitu menikmati ekspresiku, yang terkaget dengan aksinya barusan. Detik berikutnya ia kembali membenamkan muka. Tepat di depanku. Mengulangi aksinya lagi seraya merengkuh tubuhku.


Sesaat aku mengalir bersamanya, hingga kemudian aku mendorong tubuhnya kasar. Kesadaran yang tersisa membuatku takut jika kemudian kebablasan.


Ia mengernyit, bingung.

__ADS_1


"Anu, Mas, masih halangan," ucapku lirih sembari merapikan kerudung yang sedikit berantakan.


Kulihat ia menghela nafas berat. Semoga saja tidak depresi.


__ADS_2