
Sejak kedatangan Aisyah di kantor Bagas. Devan mendadak saja menjadi sangat penasaran dengan hubungan keduanya. Kemunculan gadis itu yang secara tiba-tiba. Dengan tas besar yang berisi map pengajuan lamaran pekerjaan.
Sampai saat ini. Terhitung tiga hari lamanya, Bagas tak juga menjelaskan bagaimana ia bisa kenal dengan Aisyah. Justru pertanyaan berbalik pada Devan. Pemuda itu, kenapa bisa mengenal Aisyah detail dengan nama lengkapnya. Aisyah Humairah.
Kini dua lelaki yang memiliki hubungan darah dari orang tua mereka, sedang terduduk berhadapan. Menikmati kudapan yang biasa disajikan Bayu juga mengamati lembaran demi lembaran isi map dalam sampul coklat.
"Ayolah, kenapa kamu jadi tertutup begini?" Devan mengangkat alis sebelah. Ia sungguh penasaran sekali.
"Hey, jangan mengintimidasiku begitu." Bagas melempar kulit kacang ke arah Devan. Entah sejak kapan ia memakannya. Tampak sepiring tumpukan kulit kacang, sisa-sia yang berhasil ia makan.
"Hey!" Devan mendelik.
"Fokuslah! Kenapa jadi kamu yang kepo gini?" Bagas balik bertanya. Sejak menyebut nama Aisyah hari itu ia merasa sangat curiga dengan Devan. Ada hubungan apa di antara mereka? Bukankah sudah ada Nayla di rumah.
"Jangan mikir aneh-aneh," celetuk Devan setelah memperhatikan ekspresi Bagas.
Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Bagas dan Devan. Saling menilai juga saling memikirkan. Satu nama, Aisyah Humairah.
"Kamu, ada hubungan apa sama Aish?" Bagas bertanya. Kali ini ia benar-benar bertanya. Devan tersenyum datar.
"Apakah sebelum Nayla, ada Aisyah setelah Rani?" tanyanya lagi.
"Sembarangan!" Devan menggertak. Ah, ia tak suka di ungkit masa lalunya. Tapi, demi melihat Bagas yang penasaran, ia jadi ingin membuat pemuda itu semakin terkejut.
"Kamu penasaran?" tanya Devan sambil memasukkam kembali lembaran kertas kedalam Map. Bagas mengangguk.
"Sebenarnya ... ada satu lagi perempuan sebelum mereka semua," ucap Devan ambigu.
Sebelum Rani, Aisyah, Nayla?! Wow! Bagas menelan saliva. Ia tak tau sepupunya itu memiliki banyak hubungan dengan wanita.
"Siapa?" Jiwa kepo Bagas semakin meronta. Harusnya ia yang membuka cerita tentang ia dan Aisyah. Bukan sebaliknya.
"Sini." Devan menyuruh Bagas agar mendekat. Memberi kode menarik dua jari. Setelah telinga Bagas mendekat, ia lalu berbisik.
"Mamah," ucapnya.
"Aseeeeemmm!" Bagas menepuk tangan Devan. Dia sudah serius mendengarkan tadi. Kalau saja boleh, ingin ia jitak itu kepala sepupunya.
__ADS_1
"Jawab dulu, kamu ada hubungan apa sama Aisyah?" Devan menarik kembali kursinya untuk duduk.
Bagas menarik napas pelan. Lalu menatap lebih serius ke arah Devan.
"Kami akan menikah," ucapnya mantap.
"What?" Devan terbelalak. Bagaimana bisa Bagas menikah dengan Aisyah?
"Hahahahaha, bercanda tau! Mukamu udah kek kepiting rebus. Merah bro!" Bagas menyentil kembali dengan kulit kacang.
"Masih belum bisa lupa sama Eryn?" tanya Devan menebak. Bukankah cinta pertama memang begitu? sulit untuk dilupakan. Ehh
Bagas mengangguk pelan. Ini untuk pertama kalinya ia benar-benar terbuka dengan Devan. Meski Eryn sudah sangat keterlaluan padanya. Meski Eryn sudah terang-terangan menyakiti hatinya. Juga meski Eryn masih memendam rasa yang dalam terhadap Devan. Bagas, masih saja tak bisa melupakannya.
"Kenapa ada rasa cinta sedalam ini? adakah rasaku salah kepadanya?" Bagas menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Meski sakit hati masih ada, tapi rasa sayang itu tak berubah.
"Dia, pastilah sangat menderita di rehab seorang diri." Bagas mengembus napas panjang.
***
"Saya tidak sengaja, Bu. Dia berdiri tepat di depan mobil saya." Bagas menunjuk ke arah anak laki-laki yang ditabraknya. Dilihatnya juga Aisyah duduk di sebelahnya.
"Saya yang salah, karena meninggalkan Aden sendirian," ucap Aisyah membela.
Bagas mengernyit. 'Baguslah kalau dia mengaku salah,' batinnya kemudian dalam hati.
"Tetap saja, apa nggak liat ada orang di depan? kenapa justru di tabrak." Kepala panti mendekat ke arah Bagas. Masih tak puas dengan jawaban barusan yang diberikan.
Aden berdiri. Lalu menatap Aisyah dan berbicara menggunakan bahasa isyarat.
"Aku tak apa, jangan dipermasalahkan lagi, ini sudah berakhir. Biarkan dia pergi," ucapnya pada Aisyah. Gadis itu lalu menterjemahkan kepada Bagas dan kepala panti.
"Baiklah, jika begitu anda boleh pergi, silahkan."
***
Bagas, Aden dan Aisyah berjalan beriringan meninggalkan ruangan kepala panti. Kalau saja tadi Bagas nurut kata Asiyah agar langsung pulang. Ia tak mungkin terpergok oleh Ibu kepala.
__ADS_1
"Maaf atas ucapanku tadi," ucap Bagas lirih. Membuat langkah Aisyah seketika terhenti.
"Tadi sudah dibilang, tak perlu lagi dipermasalahkan." Gadis itu kembali berjalan, mengacuhkan ucapan Bagas.
"Bukan tentang itu. Tapi, soal aku menafkahimu." Bagas mengejar, berjalan mendekat ke arah Aisyah. Gadis itu seketika membuang muka. Tak suka dengan sikap Bagas yang berbicara asal.
"Aisyah Humairah, bisa kita berteman?" Muka Aish mendadak merah mendengarnya. Ia semakin cepat berjalan menyeret tangan Aden agar mengikuti langkahnya.
"Jangan salah paham dulu, ini tentang kerja sama. Mungkin perusahaan tempatku bekerja bisa membantu anak-anak berkebutuhan khusus di sini." Bagas mengeluarkan selembar kartu nama miliknya. Memberi pada Aisyah yang masih terpaku tak percaya.
"Aku tak memiliki maksud apapun, kamu bisa berpikir terlebih dahulu. Kalau sudah yakin bisa datang ke kantorku sekalian bawa surat lamaran pekerjaan." Bagas berbicara dengan sangat yakin. Ia memang tulus membantu. Ditambah melihat paras cantik Aisyah, ia ingin mengenal gadis itu lebih dekat saja. Hanya mengenal, tak lebih dari itu. Jika ada lebihnya mungkin karena kasihan semata.
"Benarkah? Bukan karena bercanda?" tanya Aisyah ragu. Bagas menganggukkan kepala sambil tersenyum. Gadis di depannya itu tampak senang sekali.
Kesempatan bagus bagi Aisyah. Sebab adik-adik di panti asuhan sangat membutuhkan pekerjaan. Dilihatnya dengan seksama kartu nama yang diberikan Bagas padanya. Sedikit terhenyak saat mendapati bahwa Bagas adalah foundernya. Ia tak menyangka pemuda yang terlihat tak punya sopan-santun itu rupanya memiki perusahaan tersendiri. Ia lalu memandang ke arah Bagas. Pemuda itu ternyata sedari tadi memperhatikannya. Membuat Aisyah kembali memerah kedua pipinya.
"Benar, aku serius. Nggak bercanda kok, kamu bisa datang ke kantorku. Besok juga boleh," ucap Bagas mantap.
"Tapi, ini bukan penipuan kan?" tanya Aisyah lagi. Meski ia tadi sempat percaya, mendadak sekarang ia jadi dilema. Setengah-setengah.
"Masih nggak percaya?" Bagas bertanya sambil mengeluarkan beberapa kartu lagi untuk ditunjukkan kepada Aisyah.
"Bukan begitu," timpal Aisyah. Ia hanya ingin berhati-hati saja. Takut jika justru ia di tipu.
Aden menepuk tangan Aisyah lalu berbicara menggunakan bahasa isyarat.
"Coba aja dulu teh, nggak masalah kan kalau kita mencobanya?" ucap Aden. Aisyah lalu mengangguk.
"Nih, lihat punyaku semua. aku nggak bohong. Memang ini kartu namaku," ucap Bagas.
"Iya, maaf tadi kukira penipuan, bukankah banyak kasus seperti ini? Inshaa Allah saya serius besok akan kesana." Aisyah tersenyum sambik menganggukkan kepala mengiyakan. Membuat Bagas tak konsen pikirannya.
"Aku juga serius, mau kerumahmu buat ngelamar," ucap Bagas seketika. Ia lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan sendiri saat menyadari kalimatnya salah. Ia sungguh tak konsen.
"Apa??!!!" Aisyah mendelik.
Bagas ikut mendelik, pandangannya mengitari jalanan di depan. Ia lalu berlari meninggalkan Aisyah dan Aden. Kalimatnya sudah keceplosan. Lagi dan lagi.
__ADS_1