Kepingan Hati

Kepingan Hati
Seleksi Calon Isteri


__ADS_3

Pov Devan


"Seleksi calon isteri?" Tanyaku setengah terkejut. Nyaris saja makanan yang baru kutelan tersangkut di tenggorokan. Bergegas aku meraih segelas air, meneguknya perlahan hingga tandas tak tersisa.


Mamah menatapku sekilas, kemudian berujar, "Coba aja dulu, Van. Nanti mereka datang ke toko satu persatu."


Dahiku mengernyit, sepertinya mamah tidak sedang bercanda.


"Tapi Mah, Devan masih belum siap, lagian nggak harus ke toko juga kan?" Tolakku halus.


"Emang mau dimana lagi? Seharian kan di toko terus. Coba dulu lah, demi Mamah. Oke?" Ucapnya sebelum akhirnya beranjak pergi ke dapur. Membawa mangkuk bekas sarapan paginya.


"Mamaaaaahhh!" Rengekku manja pada perempuan tuaku itu. Ah, iyah, kepada siapa lagi aku bermanja-manja jika bukan dengan mamah. Mengingat di usia yang sudah matang ini, aku belum juga menikah.


Entahlah, aku hanya ingin menikmati kesendirianku. Walau sebenarnya, tak dapat kupungkiri lagi, belum ada yang membuat jantungku berdetak tak beraturan seperti dulu.


💕💕💕💕💕


Jalanan kota Bandung di pagi ini terasa begitu sesak. Berbagai kendaraan saling berebut, mencari celah agar cepat sampai pada tempat tujuan masing-masing penumpangnya. Jerit klakson bersahutan, disusul teriakan-teriakan dari para pengendara sepeda motor yang tak sabar untuk mendapat giliran. Tak luput para pedagang asongan ikut meramaikan, hiruk pikuk jalanan yang semakin tak beraturan.


Kubuka sedikit jendela pintu mobil, memberi kode kepada salah satu pedagang asongan agar mendekat.


"Mang, mau bacang sama bala-balanya sepuluh," ucapku saat pedagang itu mendekat.


"Di depan ada apa yah? Macet pisan," tanyaku kemudian.


"Oh, itu mah ada kecelakaan A." Di sodorkannya sebuah kresek berwarna hitam, berisi makanan yang tadi kupesan.


"Ambil saja kembaliannya," ucapku setelah memberi selembar uang kertas berwarna merah kepadanya.


Hari jumat pagi. Banyak riwayat yang menyebut, jika hari jum'at adalah penghulu hari.


"Perbanyak doa, perbanyak shalawat, perbanyak sedekah, jangan lupa baca al-kahfi." Aku berusaha mengamalkan salah satu nasehat dari guru ngajiku.


💕💕💕💕💕


Ku amati aneka produk berbahan dasar kulit di etalase depan toko. Mengingat kembali tentang perjuanganku bersama Bagas hingga akhirnya kami bisa sesukses ini. Betapa jungkir balik kehidupan itu benar terasa, terlebih saat berada di titik terendah dan jatuh kebawa.


Teringat saat kami berkali-kali di tipu pembeli, atau saat harus memutar otak, dimana harga bahan baku melejit tinggi, tetapi konsumen meminta dengan harga rendah. Lebih mengenaskannya lagi, jika pembeli menawar sampai harga terendah tapi ujung-ujungnya tak jadi membeli. Ingin sekali ku katakan, sungguh terlalu.


"Pak, maaf, untuk pengiriman barang ke Kalimantan, stok di toko kurang. Pak Bagas hari ini tidak datang, jadi bagaimana Pak?" Pertanyaan Arif, pegawai tokoku, membuat bayangan masa lalu itu berpendar, buyar seketika.


"Oh, iyah. Biar nanti saya urus," jawabku santai.


"Emm ... tapi Pak, konsumen minta barangnya sampai hari ini. Kalau bisa dikirim secepatnya," ujar Arif kembali.


"Sudah minta Pusat buat ngirim ke sini?" Tanyaku memastikan .


"Sudah, tapi belum ada respon. Konsumen minta kepastiannya sekarang. Dari tadi nge WA, belum saya balas. Nanyain dulu ke Bapak."


"Oke, saya yang ambil sekarang, kamu cek ekspedisi tercepatnya apa, total sekalian ongkir sama barangnya. Jangan lupa balas ke konsumen, hari ini dikirim," jelasku kembali.


Prinsip yang kubangun bersama Bagas ialah kepuasan pelanggan yang harus di utamakan. Meski tak jarang permintaan mereka cukup aneh-aneh.


💕💕💕💕💕


Pukul satu siang, tepat setelah menunaikan shalat dzhuhur. Aku menuju ruangan pribadiku di dalam toko. Menikmati makan siang buatan mamah. Kadang aku merasa, baik aku ataupun mamah, sama-sama seperti anak kecil. Padahal Tokoku dengan kedai makanan jaraknya sangat dekat. Bahkan berjejer warung makan dengan varian menu yang bermacam, tapi mamah selalu saja membawakanku bekal, dan aku tak pernah menolak setiap beliau menyiapkannya.


Pernah sekali Bagas meledekku dengan bekal yang kumakan, "Ciyeee anak Mamah." Begitu ujarnya. Bocah itu sering kali meledek, bahkan tak jarang mengataiku jika sudah berurusan dengan perempuan.


Pernah waktu itu ada pembeli di toko, kebetulan juga ada Bagas di sana. Dia memperhatikan sang pembeli, memberi nilai dari atas kepala hingga ujung kaki. Aku tak tertarik mengomentariya, tapi Bagas selalu saja menggoda.


Kadang aku tertawa sendiri melihat tingkah Bagas. Beruntung saja hari ini dia tidak datang, karena jika dia tahu, Mamah mengirimiku beberapa gadis ke toko, pasti dia semakin gencar meledekku.


💕💕💕💕💕


"Tokk tokk! Maaf Pak, ada tamu yang nyariin Bapak." Terdengar suara Bayu memanggil dari balik daun pintu. Ah, ini pasti gadis-gadis itu.


"Suruh masuk saja," jawabku memerintah sambil merapikan bekas makan juga meja kerjaku.


Mamahku ini aneh-aneh saja. Kenapa juga mesti pakai cara seperti ini. Apakah aku sebegitunya? Sampai-sampai perempuan tuaku itu harus turun tangan memilihkan isteri untukku.


"Huft." Aku menghela nafas. Mengkondisikan hati serta pikiran agar tak berfikir macam-macam. Anggap saja ini seperti interview penerimaan karyawan baru.


Baiklah, ruangan ini akan menjadi saksi. Bagaimana bentuk juga karakter calon-calon isteri pilihan mamah. Mampukah salah satu dari mereka membuatku tertarik.


"Ceklek," suara pintu terbuka.


Seorang gadis masuk. Ia tersenyum sumringah. Berambut hitam sebahu, tubuhnya langsing, kedua matanya juga teduh. Dia memakai atasan berwarna ungu, dengan celana jeans sebagai bawahannya. Gadis itu manis, sayangnya point pertama saja tidak memenuhi kriteriaku, gadis ini tidak menutup aurat. Langsung kublacklist dari daftarku.


Bukankah setiap orang punya kriteria? Dan yang kucari, adalah dia yang tertutup sempurna. You know lah, emm, kriteria.


Lima belas menit kami berbasa-basi, obrolan yang garing tapi dia seperti sedang menikmatinya.


Namanya Dinda, usianya baru menginjak kepala dua. gadis itu ternyata lumayan cerewet. Beruntung setelah tiga puluh menit, akhirnya dia bergegas pergi. Karena aku sendiri tak ingin berlama-lama dengannya di sini. Bosan mulai mendera. Kupikir dia pun tadinya begitu.


Aku melipat kedua tangan di atas meja. Menenggelamkan kepalaku di antara keduanya. Melepas penat, juga hati yang mulai sekarat. Kenapa sekarang aku payah sekali jika berurusan dengan seorang gadis.


"Tok tok!" Kembali suara pintu di ketuk.


"Masuk," kataku setengah berteriak.


Seorang gadis kembali masuk. Tanpa basa-basi, diletakkannya beberapa susun rantang yang kuperkirakan berisi makanan.


"Ini buatanku sendiri lho," ujarnya sambil tersenyum. "Kata Tante, Aa' sukanya sama sayur asem," tambahnya sambil membuka tutup rantang.


"Nggak usah, taruh aja dulu. Barusan udah makan," jawabku menimpali.


Gadis yang kedua ini terlihat pandai memasak, bau harum makanan yang di buatnya membuat cacing-cacing di perutku seketika melilit. Aku sengaja menolaknya, selain masih kenyang, aku juga sungkan jika harus makan berduaan. Nantilah ku ajak karyawanku yang lain ikutan makan.


Wajahnya manis, ia juga memakai kerudung, cekatan juga pandai memasak. Namanya Rara. Usianya sudah menginjak dua puluh empat tahun. Masih di bawaku, tapi ternyata dia sedikit aneh dan terlalu cerewet.


"Duh, ini mejanya nggak pernah di lap yah? Terus kursinya juga berdebu gini." Ia menunjuk-nunjuk ke arah kursi serta tempat dudukku.

__ADS_1


"Nanti kalau menikah, Aku nggak mau kalo Aa jorok yah." Ia mengambil tissu di atas meja, mengelap semua bagian yang dilihatnya kotor dan berdebu.


'Gila, siapa juga yang setuju mau sama dia.' ketusku dalam hati.


"Jendelanya juga harus di buka, biar ada udara masuk." Rara berjalan menuju jendela, membukanya dengan tergesa. Aku melongo, belum nikah saja sudah begini. Apalagi nanti? Bisa-bisa setres mikirin debu dan kotoran. Dia terlalu higienis.


"Haaaaatccciiim..." Ia bersin-bersin. "Ihhh joroknya," cecarnya kemudian.


Aku memutar bola mata, jengah. Tentu saja kotor, emang jendela itu udah ngga pernah di buka. Dekat selokan pembuangan yang airnya bau. Makanya aku malas membukanya.


"Kayaknya kamu harus cepet pulang deh, Ra. Itu hidung kamu merah, nanti makin parah, lho!" Aku memberi titah.


Gadis itu memicingkan mata. Menyudutkanku dengan tatapannya yang tajam, seolah sedang bertanya, "Kamu ngusir Aku?"


Ia lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan sambil mengelap hidungnya yang berair.


Baru saja Rara pergi. Tak selang berapa lama, muncul kembali gadis pilihan mamah yang ketiga. Kenapa pergantiannya begitu tepat. Atau mungkin jangan-jangan diluar sudah ada beberapa yang menunggu?


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Mencoba membuang muka setelah beberapa kali pandangan ini memandang seuatu yang terlalu sensitif.


Gadis ketiga ini, pakaian yang dikenakannya terlihat sangat kurang bahan. Ditambah dandanannya terlalu berlebihan. Aku jengah, juga sangat tidak nyaman. Terlihat leher putih mulus berjenjang itu berkali-kali sengaja ia usap.


"Aa, nikah yuk," ucapnya sambil berdiri dari tempat duduk. Tingginya yang semampai, dengan rok pendek yang memperlihatkan paha mulusnya membuat mukaku seolah kebas. Gadis ini terlampau berani, juga agresif sekali.


Mamah, maaf jika aku durhaka. Sepertinya aku harus segera kabur dari ruang kerjaku ini, atau lebih tepatnya meninggalkan toko. Seleksinya cukup sampai di tiga gadis tadi saja. Aku akan mencari sendiri.


"Maaf yah, emm mau pergi dulu. Ada urusan sebentar. Kamu, jangan seperti tadi lagi. Nggak sopan," ucapku sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Kubiarkan gadis itu sendirian di dalam. Agar sedikit berfikir dan merenungi ucapanku tadi. Dia sudah membuatku ilfeel, bukan hanya dari ucapan tapi juga perbuatannya.


Baru juga kenal, dia sudah berani mendekati se agresif tadi. Bahkan bersedia menyerahkan miliknya yang berharga, katanya. Langsung ku blacklist dari daftarku. You know lah, balik lagi ke kriteria.


💕💕💕💕💕


Mendung hitam menggantung di atas awan. Di arak angin senja, dengan semilir sejuk udara khas hujan akan tiba.


Para pedagang sepanjang jalan, mulai memasang tenda-tendanya untuk melindungi dagangan dari rintik hujan.


Dari tempatku duduk menikmati semangkuk batagor kuah, aku melihat seorang gadis sedang berdiri di atas jembatan layang penyebrangan. Kakinya di angkat ke atas sebelah, menaiki pembatas yang menghalangi agar pengguna jalan tak terjatuh ke bawah. Dia, mungkinkah akan bunuh diri? Mendadak fikiranku melayang kesana.


Tak jauh dari tempat gadis itu berdiri, ada dua pria berbadan kekar dengan jaket hitam tebal, memperhatikan ke arahnya dengan awas.


Rambut hitam gadis itu, tergerai kedepan nyaris menutup sebagian mukanya. Gaun berwarna merah yang dikenakan, meliuk-liuk di terpa angin yang lalu lalang.


"Itu ada yang mau bunuh diri!" Teriak seseorang sambil menunjuk ke atas, dimana gadis itu siap menerjunkan diri.


"Neng, jangan Neng!!" Kudengar pula teriakan-teriakan mencegah oleh beberapa pejalanan kaki. Disusul teriakan histeris beberapa yang mrnyaksikannya. Ada pula yang sibuk mengabadikan dalam kamera telfon genggam.


Entah apa yang membuatku yakin, kemudian bergegas pergi menghampiri gadis yang terlihat putus asa itu. Melewati banyaknya kerumunan orang, setelah sebelumnya membayar batagor kuah yang tadi kumakan.


Aku berlari menaiki jembatan layang penyebrangan, membelah dengan cepat kerumunan orang berdesakan. Dari tempatku berdiri, gadis itu menatap nyalang. Beberapa yang melihat tak ada satupun yang berusaha mendekat. Karena takut, gadis itu semakin nekat.


"Jangan ada yang mendekat!" Teriaknya setelah melihatku yang berjarak kurang dari satu meter dengannya.


"Atau apa?" Aku balik bertanya kepadanya. Sengaja kugunakan nada tinggi, justeru untuk membuat nyalinya ciut.


"Lompat mah, lompat aja, nggak usah bikin kegaduhan di sini. Tuh liat dibawah pada ngantri mau lewat!" Bentakku semakin tinggi.


Gadis itu tak bergeming. Bisa kulihat bulir bening melesat di dagunya yang lancip. Dia menangis. Tangannya gemetar, dia sudah bersiap hendak melompat. Kaki satunya bahkan sudah menaiki pembatas jembatan.


Aku berlari meraih tangkai jemari tangan kirinya. Semoga perhitunganku tepat dan tidak salah.


"Grabb!!" Aku meraih gadis itu ke dalam pelukan, kemudian menutup kepala hingga setengah badan dengan jaket yang sengaja ku bawa. Ia memberontak, mencoba melepaskan diri dariku. Ada rasa sakit di ulu hati, saat dengan keras ia menendang bagian sensitifku dengan lututnya.


"Kau diam saja! Ikuti langkah kakiku. Jangan sekali-kali berniat membuka jaketnya. Atau besok wajahmu viral, dengan caption yang lebih mengenaskan!" Bisikku ketus dengan masih menahan rasa sakit. Bisa-bisanya dia seperti ini.


Tapi syukurlah, rencananya berhasil ku gagalkan. Kulihat banyak kilat kamera mulai mengambil gambar-gambar kami. Bagaimana mungkin di tengah kondisi seperti ini, ada yang berniat mengabadikan momen yang harusnya justeru membutuhkan bantuan pertolongan.


Gadis itu kemudian menurut. Ia mulai sesenggukan. Biarlah, biar ia meredakan sendiri tangisnya. Aku mulai berjalan, disusul langkahnya mengikuti dengan bersembunyi dibalik punggungku juga jaket yang di kenakan.


Sepanjang perjalanan menuruni anak tangga, berbagai pandangan menunjukkan jika mereka mencibirku. Mungkin berfikir aku pacarnya, atau suaminya, atau apalah. Aku tak terlalu menanggapi. Kutuntun ia masuk ke dalam mobil. Bagaimana mungkin meninggalkannya sendirian di sini. Setidaknya menjauhi kerumunan orang yang masih bertanya-tanya. Kenapa gadis ini hendak mengakhiri hidupnya.


Setelah memastikan semuanya aman, dia membuka jaket yang menutupi kepala dan setengah badannya. Wajah itu menyembul, melesatkan memori yang telah lama kupendam. Gadis itu, bukankah dia yang pernah kusewa dulu?


💕💕💕💕💕


Dia menatapku lama, hidung kecilnya memerah seperti kedua matanya yang semakin berair. Tanpa isakan, tanpa suara, hanya bulir-bulir air yang mengalir semakin deras di kedua pipinya.


Aku meraih air mineral serta tissue yang biasa tersimpan di belakang kursi mobil. Menyerahkan kepadanya kemudian.


"Boleh sambil jalanin mobilnya?" suara itu keluar bersamaan dengan gerakannya meraih barang yang kuberikan. Suara gadis itu terdengar parau dan berat. Seperti sedang mengalami tekanan.


Aku menghela nafas, enak saja memerintah. Ini mobilku, ngapain juga nyuruh-nyuruh? Aku mengacuhkannya.


Dia memandangku dengan tatapan yang entahlah. Ada perasaan iba di sana, melihat kelopak itu semakin banjir dengan air mata.


"Oke oke, baiklah," ujarku sambil menarik kemudi mobil, lalu mulai menyetir sesuai permintaannya.


Kulihat dari balik kaca spion, dua lelaki yang bertubuh kekar tadi berlari tergesa seperti hendak menghampiri kami. Ekspresi gadis itu juga ketakutan, kedua tangannya meremas lutut sendiri.


"Terima kasih," ucapnya setelah sekian lama kami sama-sama terdiam.


Aku sendiri tak tau, kemana mobil ini akan membawa kami melaju. Dalam fikiranku saat ini hanyalah, semoga dia tidak ingat denganku.


"Ok, sama-sama. Lain kali jangan berbuat nekat seperti tadi. Hargai hidupmu, seperih apapun itu." Aku mencoba menghibur, dengan tetap memandang jalanan di depan.


"Dua kali," ujarnya menimpali.


Dua kali? Apanya? Usaha bunuh diri?


"Sudah dua kali, kamu nolong aku," ucapnya kemudian. Ekor mataku menangkapnya, memandangiku dengan tatapan sendu.


Kupelankan laju mobil, karena di depan, lampu merah sedang menyala. Begitu mobil terhenti, aku berinisiatif untuk meraih sabuk pengaman yang belum ia kenakan.

__ADS_1


Tanganku meraih sisi kiri dimana ia duduk, bayangan masa lalu kembali hadir. Dejavu, seketika aku mengurungkan niatku.


"Pakai sabuk pengamannya," ujarku sambil menghentak kasar. Aku kembali teringat pada gadisku di masa lalu. Sial bukan? sejauh ini ternyata aku belum bisa move on darinya.


"Terima kasih, ini, pertemuan kita yang kedua," ujarnya terbata namun mampu membuyarkan lamunanku pada gadis masa lalu.


Hey, dia ingat padaku? Astaga!


"Kamu ingat?" tanyaku memastikan. Kedua mataku langsung memandang lekat ke arahnya, apa benar dia ingat padaku?


Sial! Anggukan di kepalanya membuktikan bahwa dia mengingatku. Kembali aku merasa bersalah, iyah, bersalah pada diri sendiri. Karena bagiku itu. Aib yang telah lalu, meski aku dan dia tak pernah melakukan apapun.


Ku pilih jalur jalan raya paling kiri, menepikan mobil agar bisa leluasa berbicara padanya.


"Oke, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Jangan mengira aku seperti pria hidung belang yang biasa mengencanimu. Aku saat itu hanya, emm, sedang depresi," ucapku meyakinkan.


Dia menggeleng. Bahkan gelengannya sangat keras. Aku mengernyit bingung, adakah kalimatku yang salah?


"Kamu, sudah salah faham," bantahnya.


Apanya yang salah faham? Bukankah dia perempuan penghibur? You know lah pekerjaannya seperti apa.


💕💕💕💕💕


- Flashback on -


3 tahun yang lalu


"Ratih...ratiih..." lirih suara Mukhlis meracau memanggil nama almarhumah isterinya. Di sebuah rumah kayu sederhana, dengan penerangan yang minim, terbaring seorang lelaki bertubuh ringkih, dengan memakai selimut di sekujur tubuhnya. Lelaki itu kedinginan, hembusan angin malam yang masuk melalui celah bilik rumah, membuatnya semakin menggigil.


"Sabar pak, istighfar, huhuhu." Dengan tersedu putri semata wayangnya mencoba menenangkan.


"Bawa atuh Neng, kerumah sakit." Perempuan usia empat puluh tahunan, berdiri di ambang pintu dengan daster batik selutut membuka suara. Tak tega melihat kondisi tetangganya itu.


"Nay nggak ada uang, Uwa." Gadis itu kembali tersedu. Bingung melihat kondisi Bapaknya yang semakin sekarat.


Keputusan kedua orang tuanya merantau dari tanah kelahiran di nilai salah olehnya. Dia tidak memiliki satu saudarapun di sini. Di kota yang terkenal dengan udaranya yang dingin.


Dulu, sehari-hari kedua orang tuanya berdagang di pasar ikan. Nayla yang hanya seorang gadis lulusan smp, hanya membantu keuangan keluarga dengan bekerja sebagai penjaga toko busana. Ia tidak berpendidikan tinggi, sebab kedua orangtuanya tak mampu membiayai.


Ibunya meninggal satu bulan yang lalu, bunuh diri karena depresi menghadapi kenyataan hidup yang semakin membuatnya terpuruk. Terlilit hutang, juga tak tahan dengan gunjingan tetangga di kiri kanan rumahnya.


Sejak isterinya meninggal, Mukhlis jatuh sakit. Tidak pernah sekalipun dibawa berobat. Jangankan untuk biaya rumah sakit atau klinik terdekat. Untuk makan sehari-hari saja, kadang mereka tak punya. Nasib orang miskin selalu seperti ini. Dan hati dipaksa bersabar, untuk menghadapi kondisi yang pelik.


"Huweeeeeekkkk...byurrr!" Mukhlis memuntahkan isi dalam perutnya. Tergopoh Nayla dibantu perempuan tadi yang di sebut Uwa olehnya. Mendudukkan Mukhlis serta mengelap bekas muntahannya. Bau tak sedap menyeruak, di tambah darah turut serta keluar bersamanya.


"Uwa, bantu Nay bawa bapak kerumah sakit." Gadis itu mantap berucap, ia sudah tidak tahan lagi melihat Bapaknya semakin tersiksa seperti ini.


Dia, sepertinya akan menerima tawaran kerja. Dari rekan sesama di toko biasa ia menjaga. Pekerjaan yang sangat laknat menurutnya. Tapi itulah yang kini ia pilih. Karena menurutnya, sudah tak ada jalan pilihan lagi.


Pukul 21.00


Setelah memastikan Bapaknya ditangani di UGD Rumah sakit dengan baik. Nayla bergegas pergi, menuju babak baru kehidupan. Menyelami lembah hitam, demi sesuatu yang bernama rupiah.


Kini ia terdampar, di sebuah kamar dalam bilik ruangan club malam. Gaun yang ia kenakan begitu tipis, membuat siapa yang melihat. pasti darahnya berdesir dalam sekejap.


Ia sadar apa yang dilakukannya salah, tapi ia menipu diri, berusaha menerima apa yang kelak terjadi. Tentang kehormatannya, kemuliaannya, juga tentang masa depannya. Semua tergadai dan dimulai dari malam ini.


Pandangan matanya terbayang wajah sang Bapak. Hanya pria yang tengah kesakitan itu, yang saat ini masih dimilikinya.


Nayla mempersiapkan diri, duduk di bibir ranjang, menyilangkan kedua kaki. "Klek," Pintu kamar dibuka. Degub jantung Nayla berdebar tak terkira. Ia takut, tapi mencoba menutupi.


Sosok lelaki berjalan mendekat, setengah terhuyung bahkan nyaris jatuh di depannya. Sigap, Nayla bangkit menahan beban pria di depannya itu. Bau minuman menyeruak, membuat perut gadis itu seketika terasa di aduk.


"Kau menikmati malam pertamamu bukan? Baiklah, mari kita selesaikan," ujar sang pemuda. Nayla bingung, ia tak mengerti sama sekali. Pemuda itu mendorong kasar tubuh Nayla, membuatnya terjerembab ke atas ranjang. Ada rasa sakit dalam hati, tapi ia berusaha menerima. Ia telah menerima upah, maka tugasnya harus terlaksana.


"Iyah! Gila karenamu Rani!" Pemuda itu kembali berteriak kasar. Semakin bingunglah Nayla. Di pandanginya lelaki di depannya itu. Kedua mata sang pemuda memerah, ada bening yang mengalir hangat saat Nayla mencoba menyentuh pipinya. Pemuda itu menangis.


"Pergilah!!" Kini suara lantang sang pemuda berteriak semakin tinggi. "Pergilah cepat!" Tambahnya sambil menunjuk ke arah pintu, menyuruh Nayla bergegas pergi.


'Tapi, aku bahkan belum kau apa-apakan,' Nayla membatin. Ia tak tau harus bagaimana, antara senang atau bingung.


Senang karena ia tak harus mengoyak kehormatannya meski uang tebal telah terisi dalam tas merahnya.


Bingung jika harus keluar sekarang, karena 'Nyonya' akan bertanya kenapa secepat ini Nayla meninggalkan kamar.


Akhirnya gadis itu memilih menyembunyikan diri, memeluk lutut di sudut ruangan kamar. Pemuda itu juga tidak sadar, jika Nayla belum benar-benar pergi. Pukul sebelas malam Nayla meninggalkan ruangan. Dua jam bersembunyi di sudut kamar, membuatnya berfikir, jika dia tidak akan pernah mau lagi melakukan pekerjaan seperti ini. Beruntung pria yang datang, tidak berniat sedikitpun menyentuhnya.


-Flashback off-


💕💕💕💕💕


"Salah faham apanya?" Aku bertanya menyelidik. Melihat gadis di depanku ini, tiba-tiba saja seperti ada perasaan iba mendera. Bukankah seseorang yang melakukan aksi bunuh diri, memiliki tingkat depresi yang sangat tinggi.


"Drrrrrrttttttttt," gawaiku bergetar, kulirik nama mamah memanggil di layar.


Firasatku mendadak tidak enak, mengingat tadi mamah menyuruhku menseleksi para calon isteri pilihannya. Sedangkan sampai gadis yang ketiga pun aku sama sekali tak berselera. Bahkan aku memilih kabur dari toko dan tak lagi kembali kesana.


Sedikit takut saat mengangkat telvon, bisa kubayangkan mamah pasti marah-marah. Meski aku sama sekali tak keberatan jika harus dimarahi perempuan tuaku itu. Tapi tetap saja, kondisinya saat ini berbeda. Ada gadis bersamaku di dalam mobil. Meski kami tak terlalu mengenal, yang namanya cowok harus terlihat gentle walau sama mamah sendiri.


Aku mengangkat telvon, setelah sebelumnya memberi kode agar gadis di sebelahku diam saja.


"Hallo, Mah..."


"........................"


A few moments later.


Kupingku panas, tapi tak juga bisa membantah. Dugaanku benar, mamah marah dan kecewa atas sikapku terhadap para gadis calon pilihannya. Mamah mengakhiri telvon setelah aku mencoba berkelit, mencari cara agar tak di perpanjang lagi masalah seleksi calon isterinya. Ini hanya untuk menyelamatkan diri, setidaknya mamah tak akan banyak bertanya-tanya lagi.


Aku menghembuskan nafas perlahan. "Kamu, mau nggak jadi calon isteriku? Cuman pura-pura aja. Hanya seminggu," ucapku akhirnya pada gadis di sebelahku, yang aku sendiri bahkan tidak tahu namanya.


"Ada fee nya, tenang aja. Cuman pura-pura. Aku bisa memberimu lebih, dari pekerjaanmu yang sebelumnya, bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2