
Terkadang ada waktu, dimana seseorang mengalami jungkir balik dalam sebuah proses kehidupan.
Seperti pergantian waktu yang senantiasa berputar. Ada siang juga ada malam.
Dan setiap orang pasti memiliki tujuan dalam hidupnya. Selalu ada fase dimana akan di hadapkan dalam berbagai pilihan. Tentang karirnya, pendidikannya, pasangan hidupnya dan pilihan-pilihan lainnya yang akan menjadi awal sebuah titik dalam menjalani takdir kehidupan.
* * * * *
"Ben," Devan memanggil Beni yang terbaring di samping kiri.
"Ben..," kembali Devan memanggil. Sedangkan yang dipanggil tak kunjung juga menyahut.
"Banyak nyamuk, nih." Kali ini Devan menyikut kasar lengan Beni.
Masih tak ada jawaban.
Baru Devan sadari, temannya itu, jika sudah tidur ternyata bisa lupa dengan keadaan. Biarpun nyamuk mengerubungi seluruh badan, Beni sama sekali tak berkutik. Sukses tidur tanpa terganggu meski Devan sudah berisik.
"Plakk, plak...!" Devan menepuk bagian-bagian tubuhnya yang terasa dicubit. Ada nyamuk yang menggigit.
Devan lalu melirik ke samping kiri. Sisi dimana Seno tidur. Teman yang satu fakultas dengannya itu sangat penurut. Pastilah ia bisa sedikit membantu, pikir Devan. Seno sudah biasa ia suruh-suruh saat di kampus, misalnya jika ada tugas kuliah yang tidak dimengerti. Seno akan dengan siap membantu, dengan imbalan beberapa lembar uang.
"Ggrrroookkk...grroookkk...,"
Kening Devan berkerut. Seno mendengkur? gumamnya dalam hati.
"Grrrrooooooggggkkk..." Suara dengkuran Seno semakin keras dan panjang. Membuat Devan teringat pada seseorang di rumahnya. Pak Karyo, satpam penjaga rumah.
Devan terhenyak miring ke kiri, dimana Beni sudah terbuai mimpi. Air liur Seno muncrat kemana-mana. Nyaris mengenai telinga Devan.
"Brrrrtttttt."
Belum sempat Devan mengeluh, terdengar bunyi syahdu melengking dari atas diamana ia berbaring.
Ia lalu bangun dan mengambil posisi duduk.
"Ish, sumpah. Bisa setres lama-lama kek gini. hadeeuuuhh parahh!" Ia berteriak sambil menepuk kepalanya sendiri. Frustasi.
Di atasnya, Amir telah tanpa sadar membuang gas. Bau busuk seketika menyeruak, membuat Devan menutup hidungnya rapat-rapat.
Rasanya lengkap sudah penderitaan. Tugas pengabdian yang melibatkan dirinya ternyata membawa kesengsaraan tersendiri. Betapa teman-temannya memiliki kebiasaan tidur yang tidak wajar, menurutnya.
Dan mau keadaan seperti apapun. Ia tak bisa berkutik. Tak juga bisa mengelak dari kewajibannya. Yang mengharuskan ia tinggal untuk dua bulan kedepan dari sekarang. Di desa terpencil. Dengan akses jalan yang sulit. Ditambah listrik yang hanya bisa menyala dari jam lima pagi hingga jam enam sore.
Berbanding terbalik dengan kemewahan dan kemudahan yang biasa ia dapatkan.
* * * * *
Hembusan angin pagi menerpa kulit muka Devan yang basah. Memberi sensasi sejuk dan dingin yang tertinggal di sana. Akhirnya ia bisa mendapat sensasi kesegaran sendiri, setelah semalaman ia berusaha berkompromi, mencoba berdamai dengan keadaannya saat ini.
Ia akhirnya terlelap ketik adzan subuh berkumandang. Tak sholat, tentu saja. Karena ia terbiasa begitu. Bahkan kedua orang tuanya pun sama.
Sekali lagi ia menangkupkan muka dengan air yang terisi penuh kedalam telapak tangannya. Membasuh perlahan dan menikmati kesegaran air sungai yang jernih di desa Ambengan.
Rasa kantuk masih tersisa, menimbulkan kantung mata panda di bawah kelopak matanya. Hanya dua jam ia mampu terlelap tidur. Selain sudah pagi, ia juga harus bergegas bersama teman yang lain untuk menemui Pak Kades. Akan ada beberapa arahan yang akan mereka dapatkan disana.
"Bro, masih lama nggak?" Beni setengah berteriak dari atas. Ia sudah bersiap dari tadi.
"Bentar lagi deh, masih betah di sini," sahut Devan.
"Aku duluan yah, mau nyari sarapan. Jangan lama-lama," teriak Beni lagi.
Devan tak menyahut. Ia hanya mengacungkan jempol tanda setuju.
Tak selang berapa lama dari kepergian Beni. Devan membalik badan hendak bergegas pergi. Ia menaiki undakan tangga dari tanah, dan batu besar di sisi kanan sebagai pegangannya.
Ia tak melihat, di atas sana ada gadis yang juga berjalan membawa keranjang cucian. Hendak mencuci pakaian di sungai.
"Brukk,"
"Aww...,"
Gadis yang di tubruknya itu terjerembab ke belakang. Cucian di keranjang plastik seketika terjatuh dari pegangan. Untunglah tanah yang mereka pijak tidak basah, karena jika itu terjadi. Keduanya akan sama-sama tergelincir jatuh ke bawah.
Bergegas Devan menolong gadis itu, di raihnya sebuah tangan yang mungil dengan jari lentik yang tersusun rapi.
"Maaf, dek," ucapnya kemudian.
Gadis di depan menyambut uluran tangan Devan. Pandangan matanya mengisyaratkan rasa kagum, seketika debaran menggema di dalam dadanya. Gadis itu, untuk pertama kali, melihat pemuda yang mampu mendebarkan hatinya.
Ia lalu menepuk-nepuk badannya di bagian ia terjatuh.
Kedua mata mereka bersitatap. Devan memandang gadis di depannya itu lekat-lekat. Pergerakan manik hitamnya menelusuri setiap inci, dari atas kepala hingga ke bawah kaki. Kulit kuning langsatnya begitu mulus, dengan hanya memakai kain dan kaos tipis sebagai atasannya. Rambut di ikat kebelakang bak ekor kuda. Meliuk-liuk di terpa angin yang menyibaknya.
"Adek cantik, namanya siapa?" tanya Devan dengan mengerlingkan sebelah matanya, genit.
Gadis di depannya mengulum senyum. Ia tersipu malu di panggil cantik oleh Devan.
Devan lalu mengulurkan kembali tangannya, melihat ekspresi gadis itu yang semakin tersipu malu.
__ADS_1
"Devan," Ucapnya seketika memperkenalkan diri.
Kembali uluran tangannya di terima. Tampak gadis itu menelan saliva. Ia sangat gugup.
"Malika," jawabnya kemudian.
Seketika Devan teringat pada sang kedelai hitam. Yang dirawat seperti anak sendiri. Ehh
* * * * *
"Eh, bro! Gila yah, disini emang kampung, tapi gadisnya cantik-cantik banget," papar Rudi menggebu-gebu ketika mereka tiba di rumah singgah. Rumah yang ditempati khusus untuk delapan laki-laki selama menjalankan program KKN.
"Iyah kan, Sen?" Rudi menyikut Seno yang sedang sibuk mengunyah sarapan paginya.
"Apaan sih," Seno tak terlalu menanggapi. Ia melanjutkan makanannya. Meski dalam hati ia mengiyakan.
"Eh tadi nihh, aku liat cewek-cewek mandi di sungai. Mulus-mulus banget," Rudi masih dengan menggebu-gebu memelankan suaranya.
"Uhukkkk..." Devan tersedak demi mendengar apa yang baru saja Rudi ucapkan. Nyaris ia mengeluarkan makanan dari mulutnya.
Semua kemudian menatap pandangan ke arah Rudi. Fokus mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan berikutnya.
"Tanpa sehelai benangpun, Bro. Aseli, gila!" Pandangan Rudi menerawang. Ia menggerakkan tangannya berangan-angan.
"trus, truss?" Amir mulai memperhatikan, ia memajukan posisi duduknya lebih dekat pada Rudi.
"Pokoknya besok kalian harus ikut deh," ajak Rudi pada yang lain seraya menjentikkan jemari tangan.
Serempak semuanya mengangguk setuju. Tak terkecuali Devan.
Pikirannya langsung melayang. Kalau ada yang gratisan, kenapa enggak?
* * * * *
Seperti janji kemarin, akhirnya Rudi mengajak teman-temannya menyisir sungai. Mengendap perlahan. Sembunyi di balik semak dedaunan. Mereka kemudian mengintip dari celah bebatuan. Perempuan-perempuan yang mulai menanggalkan pakaian.
Ada yang menelan saliva. Ada pula yang berdebar di dada. Dan ada pula yang mulai risih sendiri, takut akan konsekuensi jika kemudian aksi mereka di ketahui.
"Ssstttt.. Pak Kades, woy!" Devan berbisik, mencoba menghentikan aksi teman-temannya.
"Haah?"
"Apa?"
"Dih, mateng bro! pak Kades kesini, buru... buru... cepetan, ayo pergi," ucap Devan lagi.
Devan menyusul dari belakang. Puas sekali ia menahan tawa melihat teman-temannya.
Ia sengaja berbohong, setidaknya masih berfikir waras. Bagaimana mungkin mereka bisa berbuat mesum seperti itu. Dengan membawa nama besar Universitasnya. Karena tugas mereka di sini adalah KKN. Ia tak ingin jika program yang mulia ini tercoreng.
* * * * *
Hari ketiga di desa Ambengan. Ada peringatan sedekah bumi yang tengah berlangsung. Kegiatan yang baru Devan saksikan. Karena sepanjang hidupnya ia dibesarkan dikota, baru kali ini ia melihat. Warga berbondong-bondong satu sama lain. Saling membantu.
Sebuah tradisi berbagi antar warga. Membawa hasil panen yang di olah menjadi makanan. Setelah terkumpul, semua di bagi rata ke tiap-tiap rumah warga.
Devan dan ke sembilan belas temannya, baik laki maupun perempuan mendapat tugas masing-masing. Mereka mau atau tidak harus terlibat dalam acara tersebut.
Ada keharuan tersendiri saat Devan melihat, warga yang tidak mampu mendapat jatah pembagian. Tak jarang ada bulir bening bagi mereka yang menerima. Dan di sana, ada sedikit ruang bahagia yang menggema.
Betapa ia sangat tidak bersyukur selama ini.
Nuraninya basah, ia sadar bahwa jauh di bawahnya. Ada kehidupan yang berbeda.
* * * * *
Selesai menjalankan tugas. Ia memilih berbaur dengan yang lain. Menikmati pasar dadakan yang berlangsung saat acara sedekah bumi hari ini.
Beberapa gadis yang ia kenal tampak lalu lalang di depannya.Dalam tiga hari ini, sudah ada beberapa nama gadis yang dikenalnya. Hanya di kenal, tapi gadis-gadis itu seperti memberi perhatian lebih.
Dan Devan, mulai sedikit bosan. Ia acuh tak acuh terhadap mereka. Membalas sapaan dengan senyum yang dipaksakan.
"Bro, udahan dulu yah. Mau kemasjid," celetuk Devan.
Beni melongo hampir tak percaya, demi apa yang di dengar dari mulut Devan.
"Kalem, Bro! cuman mo liatin si putih," jawabnya seraya mengatupkan mulut Beni yang membulat sempurna.
"Kirain kesambet, hahahaha," gelak tawa riuh terdengar dari Rudi dan Seno.
Tak lama Ia lalu melambai kepada teman-temannya. Rindu dengan mobil yang sudah tiga hari ini tak ia sentuh. Ia ingin memastikan, apakah mobilnya tersimpan dengan baik dan dalam keadaan aman.
Dilihatnya mobil fortuner putih miliknya, sedikit berdebu padahal baru tiga hari tak berjumpa.
Ia lalu meraih kunci dari saku celananya. Ada beberapa kunci yang ikut bergantung disana.
"Kruncing,," tanpa sengaja ia menjatuhkan. Tepat di samping mobilnya.
"Srreekkk," gesekan sepatunya tanpa sengaja malah membuat kunci masuk lebih dalam, tepat di bawah kolong mobil.
__ADS_1
"Ish, sial!" pekiknya tertahan.
Ia lalu menunduk, mengulurkan tangan kanannya masuk kedalam kolong mobil. Sedangkan tangan kirinya bertumpu pada sisi mobil.
Kedua alisnya beradu, memacu konsentrasi lebih dalam lagi. Demi meraih kunci yang terjatuh.
Tetiba ada sesuatu yang tumpul dan cukup keras menusuk punggungnya. Sakit.
Ia menoleh melihat apa yang barusan menempel di punggungnya.
"Mas, maling yah?"
Seorang gadis dengan hijab berwarna hitam dan gamis berwarna birel menodongkan gagang sapu ke arahnya.
Devan meringis, menahan sakit di punggungnya.
"Dasar gadis kampung!" ia mendengkus kesal. Lalu kembali meraih kunci yang belum juga berhasil ia ambil dari kolong mobil.
"Mas, maling yah! hayo ngaku, atau saya teriak ini!!" gadis itu kembali berisik.
"Srrek..,Shit!" Kunci berhasil di raihnya.
Devan masih acuh pada gadis itu, ia lalu membuka kunci mobil.
Gadis itu menatap tajam, sejurus kemudian ia berteriak kencang,
Maliiiinggggg!!!"
"Tap!!"
"Bruaakkkk...!!"
Devan menarik tangan gadis itu, memasukkannya ke dalam mobil dengan paksa. Kesal di tuduh yang tidak-tidak. Ia lalu menyalakan mesin setelah sebelumnya mengunci otomatis pintunya.
Seperti kesetanan ia lalu menjalankan mobilnya. Sangat kencang meninggalkan halaman masjid. Yang kebetulan sedang tidak ada seorangpun di sana. Semua warga sedang berpusat di Balai Desa. Mengikuti acara sedekah bumi yang berlangsung meriah.
"Turunkan saya, Mas!" gadis itu berteriak.
Pikirannya kacau, apakah ia akan di bunuh lalau di buang di semak belukar? seperti berita yang selama ini ia dengar?
Jantungnya berdegub kencang. Ia takut.
Wajahnya pias, ia juga sangat panik.
Ia memukul-mukul kaca mobil. Berteriak keluar. Ia tidak tahu jika teriakannya percuma, suaranya akan tertahan di dalam.
Mobil melesat cepat. Meninggalkan jalan desa. Devan kalut, bagaimana jika tadi ada yang mendengar? dan ia dituduh maling atas mobilnya sendiri?
Ia tidak bisa membayangkan jika harus babak belur di hakimi massa. Begitulah yang tergambar di pikirannya.
"Mas, brenti!!!!"
"Diam!" Devan membentak kasar.
Dilihatnya kedua mata gadis itu, begitu merah dan berair. Mukanya juga pias. Gadis itu ketakutan.
Devan menghela nafas panjang dan berat. Ia tak tau kemana sekarang tujuannya. Ia hanya tak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"Ini mobil saya mbak, makanya jangan asal teriak," ujar Devan kemudian.
Diliriknya gadis itu, kembali ada perasaan bersalah disana. Gadis itu meragukan ucapan Devan.
Sejurus kemudian mobil fortuner berwarna putih itu menepi. Tepat di sisi jalan yang banyak pepohonan rindang.
Gadis itu merinding. Ia mendadak ngeri.
Apakah akan dibunuh dan dibuang di sini?
Bahkan suaranya tercekat di tenggorokan.
Devan mendekat, ia meraih karet di sisi gadis itu. Lupa jika sabuk pengamannya belum terpasang.
Gadis itu memjamkan matanya. Ia hanya bisa pasrah, mungkin ajalnya sudah tiba. pikirnya sendiri.
Fasih ia membaca dua kalimat syahadat dengan dua mata terpejam. Kadang orang bisa nekat jika sudah gelap mata.
Devan berhenti tepat di depan muka gadis itu.
"Deg...degg...deggg..." Ia, untuk pertama kali, bisa merasakan sendiri jantungnya berdegup sangat kencang.
Wajah yang sedang terpejam itu, dengan bibir yang komat kamit membaca syahadat. Membuatnya sangat tertarik.
Ia menelan saliva, deguban di dadanya kian membuncah. Semua ukiran yang tergambar di depannya begitu indah. Waktu terasa melambat, ia sedang terpesona. Ada rasa yang menyeruak di dalam hati.
"Klik," bunyi sabuk pengaman terpasang begitu nyaring.
Devan menetralkan hati, diliriknya gadis itu yang tengah kebingungan sendiri. Lalu dengan sedikit garis senyuman, ia bergumam pelan bahkan nyaris tak terdengar,
"cantik."
__ADS_1