Kepingan Hati

Kepingan Hati
Melepas Kepergian


__ADS_3

Terkadang seseorang diuji bukan dengan banyak materi atau kumpulan gadis-gadis yang cantik ataupun sexi. Melainkan godaan itu tentang ketetapan hati juga rasa kasihan yang berlebih. Samar memang. Atau bisa juga disebut beda tipis. Antara empati, kasihan, atau rasa sayang.


Gadis itu, saat tengah terpuruk sendiri. Membuat Devan tak lagi mampu mencerna nurani. Meski ia tahu batasannya. Namun, hati yang tersimpan rapi di dalam dada, tak terpungkiri lagi ada debaran yang kembali bertingkah.


Demi gadis bernama Rani, ia memilih untuk pergi.


Pergi kembali ke tanah yang penuh luka. Penuh kepedihan juga masa lalu yang terpendam. Luka yang berhasil ia kubur. Berhasil ia rapatkan. Perlahan kembali terbuka, seiring waktu yang memaksakan keadaannya.


***


"Mas, jadi pergi siang ini?" Nayla bertanya. Berat hati ia melepaskan kepergian suaminya itu. Namun, demi bakti suami kepada Ayahnya. Ia harus rela.


"Iya, Sayang," jawab Devan pelan. Ia pun sama, berat hatinya jika harus jauh dari Nayla.


"Maafin, Mas yah?" Dipandanginya Nayla yang sedang murung. Istrinya itu dari dulu memang tak pandai menyembunyikan perasaan.


Nayla mengangguk. Genggaman jemarinya masih erat memeluk pinggang Devan. Perasaannya tak tenang. Seperti ada yang membisik, disana Devan tak akan baik-baik saja.


"Jangan banyak pikiran," ucap Devan lagi. Ia menenggelamkan kepala Nayla ke dalam pelukannya. Ia sungguh takut, jika kenangan masa lalunya kembali terungkit. Ia bahkan tak bisa menjamin. Apakah kelak hatinya tetap pada Nayla atau berubah kala di Surabaya.


"Perasaan Nay, nggak tenang, Mas." Nayla melepas dekapan.


"Kenapa?"


Nayla tak bergeming. Ia sedang berpikir juga menenangkan hatinya sendiri. Ia hafal betul siapa Rani. Juga hafal betul bagaimana suaminya itu. Meski kepercayaan seratus persen utuh, tetap saja, saat masa lalu itu harus terlibat kembali. Nayla mendadak sedih.


"Kepikiran Ayah?" tanya Devan. Nayla menggeleng.


"Mas Rahman?" tanyanya lagi. Jawaban Nayla masih tetap sama, ia menggeleng.

__ADS_1


"Lalu?" Devan masih bertanya. Dipandanginya manik coklat yang tersimpan rapi dalam kelopak mata Nayla. Ada gurat yang tak bisa digambarkan di sana.


"Rani." Bibir Nayla bergetar. Satu kata yang ia ucapkan, tentu saja membuat jantung Devan berdetak tak karuan. Kekhawatiran mereka sama. Pada satu orang saja.


"Sayang." Devan meraih Nayla kembali dalam pelukan. Kalau saja Hadziq sudah sedikit lebih besar, pasti mereka akan ikut bersama ke Surabaya. Sedangkan saat ini, tak memungkinkan bagi Hadziq untuk dibawa keluar kota. Apalagi naik pesawat menuju Surabaya.


"Nay takut, Mas." Nayla terisak. Ia lalu kembali bersuara, "Nay percaya sama Mas Devan, tapi, nggak menjamin kalau Mas di sana ...." Nayla memeluk erat. Sungguh, hatinya berkata bahwa ini tidak baik. Ada rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Tak dapat di urai dengan kata-kata ataupun lisannya. Nayla cemburu pada sesuatu yang belum pasti terjadi.


"Jangan gini, nanti Mas jadi berat kalau pergi," bisik Devan lirih. Ia lalu melepas dekapannya. Memandang lamat ke arah Nayla. Di usapnya lembut pipi istrinya itu. Ibu menyusui tak boleh banyak pikiran bukan? Ia tak ingin meninggalkan salah paham atau kesedihan ketika jauh dari Nayla.


Satu gerakan lembut Devan menyentuh bibir Nayla. Bergerak lambat lagi pelan, menyisir setiap inci dengan ritme yang beraturan. Gadis itu mengerjap, tenggelam sebentar untuk menenangkan hati yang bergemuruh. Sampai kapanpun suaminya itu tetap miliknya. Ia percaya dan terus percaya.


Nafas keduanya memburu. Tersengal sebentar lalu kembali beradu. Diselingi air mata tumpah karena rasa yang membuat gejolak hati bergemuruh tanpa lelah. Ketakutan akan sebuah perpisahan. Juga pengkhianatan yang belum pasti terjadi.


Nayla ingin melepas. Tapi suaminya tak mengizinkan ia berhenti. Terus tenggelam dan terbenam dalam keindahan cinta yang tercipta. Beberapa menit sebelum keberangkatan. Masih ada waktu untuk memadu kasih dalam peraduan.


Menuntaskan rasa. Menghilangkan kesalah pahaman. Juga menenangkan hati yang penuh beban juga pikiran.


***


"Devan nitip Nayla, ya?" Devan memandang lekat ke arah perempuan tuanya. Ia tahu persis, mamah tak pernah ikhlas membiarkan ia kembali ke Surabaya. Bahkan saat mengutarakan niatnya itu, Mamah sempat marah dan tak mau mendengarkan.


Bagaimana mungkin dua kali pengkhianatan bisa kau maafkan, Devan. Mamah membatin. Perempuan itu masih menyimpan bara api di dalam dadanya. Tak rela sungguh, melepas kepergian Devan untuk kembali ke Surabaya.


"Mah," lirih Devan memanggil. Mamah masih diam saja, tak sedikitpun mau menjawab permintaannya.


"Pergilah, jangan lama-lama. Inget, kamu punya anak istri di sini," ucap Mamah Devan ketus.


"Jangan gitu, Mah. Ini demi Mas Rahman," lirih Devan lagi. Dipandanginya wajah sang Mamah yang mulai keriput. Ada gurat tak suka terbaca jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Hm," sahut Mamah Devan kesal. Tak lagi banyak bicara, pemuda itu kemudian memeluk erat perempuan tuanya. Devan mencoba mengajari, agar sang Mamah bisa ikhlas untuk membantu mantan suaminya yang juga Ayah dari Devan.


"Bagaimanapun, itu Ayah Devan. Darah Ayah mengalir di dalam tubuh Devan. Jika Mamah cukup sekadar ikatan suami istri saja yang terputus, lalu, darah dalam tubuh ini, bisakah Devan menghilangkannya?" Devan menjelaskan. Di tekannya dagu ke atas kepala Mamah.


Kalau saja bisa kubuang, ingin sekali kubuang darah lelaki keparat itu dari tubuhmu, Van. Mamah Devan membatin.


"Yasudah, pergilah tak mengapa, hati-hati, Mamah belajar ikhlas, maaf," ucap Mamah lirih. Hatinya berat, mengingat kota penuh luka itu. Mengingat pengkhianatan suami dan selingkuhannya. Mengingat anak perempuan ****** itu yang begitu baik membantu. Hubungan macam apa ini?!


"Mamah ikhlas?" tanya Devan sambil melepas pelukan.


"Inshaa Allah," sahut sang Mamah.


***


Mobil hitam keluaran terbaru milik Devan membelah jalanan kota Bandung. Pak Slamet, supir pribadinya mengantar menuju bandara. Ditemani Nayla, Hadziq juga sang Mamah, Devan berangkat dari rumah.


"Kabarin terus di sana," nasehat Mamah Devan.


"Wajib pokoknya mah, harus setiap jam, eh setiap menit, eh setiap detik juga gak papa," timpal Nayla. Devan menoleh menatap ke arah istrinya itu. Bawelnya membuat Devan gemas. Ingin, ingin, ah sudahlah.


Devan tersenyum sambil mengusap puncak hijab Nayla. Di cubitnya pipi istrinya itu penuh kasih sayang.


"Hahahaha, kalau setiap detika, atuh kumaha Non," timpal Pak slamet sambil tertawa. Mereka sudah seperti keluarga sendiri.


Kepergian Devan menuju kota Surabaya akan di mulai.


Masa lalu yang pernah terkubur itu, perlahan akan kembali terbuka.


Rasa hati yang telah berpindah pada sang kekasih halal, akankah tetap tertanam di sana? Ataukah berubah kala masa lalulnya sedang terluka.

__ADS_1


Entahlah.


__ADS_2