
Sejak kejadian mendebarkan tadi pagi. Dimana suamiku itu mulai senang dengan yang namanya tiba-tiba. Mas Rahman jadi sering curi-curi pandang terhadapku. Meski berada di meja makan keluarga saat ini. Tetap saja tatapannya tak luput dari memandangku.
Nyendok nasi, ngelirik lagi.
Nyendok lagi, ngelirik lagi.
Nyendok,
Lirik.
Nyendok.
Lirik.
Sampai dia tidak sadar yang di sendokinnya telah habis.
"Nyendok apa tho, Man? Kalo masih lapar nambah lagi gih," celetuk ibu mertua melihat tingkah konyol Mas Rahman.
"Mau nambah kok, tapi pake cintanya Rani," jawab Mas Rahman kemudian.
"Heeeeh...?" Semua pandangan mengarah padanya. Termasuk aku.
"Welehh-weleh, kamu ini godain istri di depan ibu sama bapak. Ndak malu apa?"
Kulihat ibu mertua menggelengkan kepala. Sedang Ayah Mas Rahman, ekspresinya lebih cenderung datar.
Memang sejak pernikahanku dengan Mas Rahmah, Ayah mertuaku ini sangat jarang bicara. Bahkan bisa dikatakan irit. Hanya seperlunya saja. Berbeda dengan ibu mertua yang lebih akrab denganku dan sangat senang sekali bicara. Kuperhatikan ayah mertua sedang mengatur nafas, ingin mengutarakan sesuatu tapi tidak jadi. Berkali ia terlihat gusar, membenarkan posisi duduk yang tidak salah.
"Minggu depan, Devan mau datang," celetuknya tiba-tiba. Setelah sempat melirik pada mas Rahman.
Benarkah? Alhamdulillah dia mau pulang. Ibu sudah kangen banget sama dia." Tampak kedua mata Ibu Mas Rahman berkaca-kaca.
__ADS_1
*Devan?
Devan siapa yah*?
Walau namanya baru kudengar dari keluarga Mas Rahman, tapi nama itu tidaklah asing. Ada banyak kenangan yang bersanding dengan nama itu.
Nama yang beberapa tahun silam sempat menjadi pusat dari pikiran dan duniaku. Nama salah satu mahasiswa yang KKN di Desa Mbah Kakung. Yang sangat ku kagumi, tapi juga menyakiti hati.
Utuk sesaat ada rasa sakit yang kembali mencubit, di sini, dalam dada ini. Segera kutepis perasaan itu. Tidak mungkin jika itu dia. Tapi aku butuh penjelasan untuk sosok Devan disini itu sebagai siapa.
"Devan? Siapa yah?" Lidahku kelu. Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa bisa ku atur sendiri. Saking penasarannya.
"Rani belum tau?" Tanya ibu mertua.
Aku menggeleng pelan sebagai jawaban. Ibu mertua melirik ke mas Rahman. Sedangkan yang di lirik masih saja sibuk memandang. Memandangku dengan tatapan, entahlah. Seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Nanti sama Rahman dijelasin," jawabnya enteng. Sembari menarik kerah bajunya, gerah.
Sejak pukul empat sore, tepatnya setelah shalat ashar. Ibu dan ayah mertua pergi ke rumah saudara yang tinggal di dekat taman pahlawan. Mereka bilang ada beberapa urusan. Jadi mungkin malam ini pulang agak terlambat. Ibu mertua berpesan agar aku tak menunggu, karena kunci rumah sudah ada satu yang dibawanya.
Tinggalah aku berdua dengan suamiku, mas Rahman dan kali ini peasaanku menjadi sangat tidak nyaman.
Pikiranku terus melayang, pada sosok Devan yang disebut Mas Rahman tadi. Baru aku tau, ternyata Ayah mertuaku adalah Ayah tiri Mas Rahman, dan Devan?
Ada kegusaran di hati. Semoga saja hanya kebetulan bernama sama. Aku kalut juga bingung. Bagaimana jika Devan yang dimaksud adalah dia masa laluku? Devan yang hilang tanpa jejak lalu kini menjadi Iparku. Ah, semoga saja tidak. Tak ingin itu terjadi, bahkan sekadar membayangkannya sendiri.
"Kok bengong?" Pertanyaan mas Rahman seketika membuyarkan lamunanku. Ia berjalan menghampiri, ikut duduk di depan Tv.
Aku menggeleng. Menutupi kegusaran hatiku.
"Sudah malam, ayo tidur." Ajaknya padaku.
__ADS_1
Kulihat jarum kecil jam dinding menunjuk ke angka sembilan. Itu artinya aku sudah lama berkutat dengan pikiranku sendiri selama dua jam.
"Nanti mas, belum shalat Isya." Aku menyanggahnya.
"Udah shalat? Berarti udahan yah?" Ia memberondongiku dengan pertanyaan yang terus saja di ulang.
"Iyah Mas," jawabku datar. Hatiku sedang berkecamuk, tak lagi fokus dengan Mas Rahman.
Dia lalu mematikan Televisi. Menyuruhku segera shalat isya. Salahku memang tak langsung bergegas sejak adzan tadi. Yang aku tahu, Mas Rahman rajin shalat tepat waktu. Mungkin ia tidak suka jika aku menunda waktu shalat.
Selesai shalat aku tak langsung tidur. Membenahi serakan barang yang tergeletak sembarang di dapur. Ada beberapa piring dan gelas kotor. Tanpa pikir panjang aku segera mencucinya. Sampai kemudian ada dua tangan yang kembali melingkar di depan perut.
'Ish, kebiasaan.' Aku tersenyum sendiri.
"Masih belum selesai?" bisik mas Rahman.
"Sebentar lagi, Mas."
Bisa kurasakan ia menekan bahu kananku dengan dagunya dan seperti biasa dengan tiba-tiba ia mencium pipi. Tanda sayangnya padaku.
Dia suamiku, sejak tiga minggu menikah telah dengan sabar menungguku. Tulus cinta dan perhatiannya membuatku luluh. Ia lelaki yang baik. Aku telah berdosa menunda-nunda, memberi apa yang seharusnya menjadi haknya.
"Boleh?" Ia meminta izin. Kedua matanya begitu hangat memandang. Aku mengangguk mengiyakan.
Tangannya mulai bergerak. Melepas kain penutup kepala. Memandangiku dengan penuh rasa cinta. Sesekali ia berbisik, Cantik.
Tak ada jeda. Ku biarkan ia menggunakan haknya, dan kewajibanku sebagai isteri telah berhasil kupenuhi.
Berkali ia membenamkan muka, menikmati setiap ukiran wajah yang ada. Kadang aku tak tau diri, sebagai tuan yang tak menyambut dengan baik setiap undangannya. Deru nafasnya kian beradu. Menimbulkan irama bahagia yang tercipta.
*****
__ADS_1