Kepingan Hati

Kepingan Hati
Gadis Penggoda


__ADS_3

Hujan turun lebat disertai angin kencang sejak dini hari. Terdengar bunyi derit seng melengking nyaring di rumah sederhana milik Nayla. Gadis itu tidur meringkuk dengan balutan kain selimut yang tipis. Sesekali tubuhnya menggigil karena terpaan angin yang masuk melaluli lubang-lubang kecil di rumahnya.


Tidurnya terusik, kedua telinganya menangkap bunyi tetes air yang merembes dari atap rumah. Seketika gadis itu terhenyak, kemudian duduk sambil memijit kening sendiri. Ia lalu melangkahkan kakinya dengan tergesa, mencari ember di kamar mandi juga wadah apa saja yang bisa ia gunakan untuk menampung tetesan air hujan di dalam rumah.


Ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Bahkan, sejak ia masih kecil dulu. Hanya saja, sekarang ia harus lebih extra mengerjakannya. Mengingat lubang-lubang di atap rumah, semakin hari jumlahnya seolah semakin bertambah.


💕💕💕💕💕


"Neng, lagi dimana, Neng?" Seorang perempuan paruh baya tengah berdiri di depan pintu rumah Nayla. Di tangannya terdapat sebuah piring berisi ubi juga kacang tanah yang telah di kukus.


"Iyah, Uwa?" Nayla tergesa menghampiri sambil membuka pintu rumah. Sudah hafal betul suara milik uwa Odah.


"Nih, Uwa ada bikin sedikit makanan buat kamu." Diserahkannya makanan tadi kepada Nayla. Gadis itu tersenyum menerimanya.


"Hatur nuhun pisan, Wa," jawabnya kemudian.


"Eh, Neng, Uwa perhatiin nih, beberapa kali liat Eneng jalan bareng sama laki-laki, hayo siapa?" uwa Odah mulai menginterogasi. Biasa jiwa kepo tetangga melekat juga pada dirinya.


"Bukan siapa-siapa kok," jawab Nayla datar. Ia tak ingin tetangganya berfikir macam-macam.


"Yang bener? Pake mobil bagus lho, pacar yah?" tanyanya lagi.


"Bukan, tapi calon suami!" Suara ngebass terdengar begitu tegas. Nayla dan wa Odah seketika melihat sang pemilik suara. Sosok lelaki yang mereka bicarakan mendadak muncul.


"Mas Devan?" gadis itu menelan saliva. Bisa-bisa ia jantungan, setiap kali melihat pemuda itu tiba-tiba saja datang.


"Udah yah, permisi dulu," wa Odah kemudian melenggang pergi keluar rumah. Merasa tak enak, karena ketahuan sedang ngomongin orang.

__ADS_1


"Mas ngapain kesini?" tanya Nayla di ambang pintu.


Dilihatnya pemuda di depannya itu. Begitu kasual dengan setelan celana jeans dan kaos putih. Tak lupa jaket hitam yang membalut, sengaja ia buka sletingnya di tengah. Rambut jabriknya rancung ke atas, berwarna hitam alami. Begitu kontras dengan kulit wajahnya yang putih bersih.


Kedua kelopak matanya yang dinaungi alis tak terlalu tebal, menyimpan manik hitam yang menatap sayang kepada Nayla. Tatapan yang sudah beberapa hari membuat gadis yang bernama Nayla itu sulit untuk tidur.


"Mau nyulik calon isteri ke KUA," ucap Devan sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda


"Mas!" Nayla mendelik


Devan lalu memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. Meraih sesuatu dari dalam. Ditunjukkannya benda itu kepada Nayla.


"Bolpen?" Nayla mengernyit bingung.


"Iyess betul."


"Buat apa?"


Gadis di depannya merunduk tersipu malu. Merona sudah kedua pipinya yang putih. Ia mengulum senyum di bibir sendiri, sambil kedua matanya melihat sepiring makanan yang dibawa wa Odah tadi.


"Aku, mau ada pekerjaan ke Bogor," lirih Devan bersuara.


Nayla mendongak, ia menatap lurus kedua bola mata pemuda di depannya itu. "Berapa hari, Mas?" tanya Nayla dengan tatapan sedih.


"Tiga hari," kata Devan.


Kepala Nayla seolah dijejali pertanyaan bermacam. Ingin ia utarakan tapi kemudian tertahan.

__ADS_1


"Please, tiga hari waktu yang lama, jangan buatku menunggu lagi," Devan kembali membuka suara.


💕💕💕💕💕


Ada perasaan yang mulai mengalir lembut. Saat tak bisa lagi mendengar suara itu memohon atau memaksanya menikah. Tiga hari waktu yang cukup untuk Nayla memahami apa itu yang di sebut rindu. Ia seperti tersiksa menahan setiap gejolak yang ada. Lelaki yang bernama Devan itu berhasil membuatnya ingin berkata iyah.


Diraihnya selembar undangan dari Devan kala itu. Undangan yang belum di tulis, dengan nama kedua mempelai juga waktu pelaksanaan pernikahannya. Di bukanya selembar kertas itu perlahan, lalu dengan seksama, kedua matanya mulai membaca tiap baris kalimat yang tersusun di sana. Ia terkekeh geli sambil mengulum bibir sendiri, saat melihat nama Devan tertulis di titik-titik atas. Kini, gilirannya mengisi nama sendiri di titik-titik di bawahnya. Lalu. saat pemuda itu datang dari Bogor, ia akan menyerahkannya.


"Mas Devan mah, ada-ada aja," ucap Nayla sendiri sambil tersenyum geli.


Sesaat sebelum ia menuliskan namanya. Terdengar pekikan gawai bertubi-tubi di sampingnya. Nayla kemudian meraih dan membukanya. Beberapa pesan masuk dari nomer tak dikenal, membuat ia tertarik untuk segera membaca.


Kedua matanya terbelalak tak percaya, saat melihat beberapa foto yang berhasil di downloadnya. Foto yang tidak cukup pantas untuk dilihat terpampang jelas di sana. Pemuda yang dikenalnya itu, dengan perempuan lain? Di atas kasur?


Nanar Nayla memandang. Kedua kelopak matanya perlahan mulai berair, di susul rasa sakit hati yang teramat dalam. Ia seperti terbakar.


💕💕💕💕💕


Bogor, pukul dua dini hari.


Gadis bertubuh seksi itu akhirnya menuruni ranjang. Puas sekali rasanya, setelah Ia mendapatkan apa yang dibutuhkan. Selagi pemuda itu pulas tertidur, ia beringsut hendak meninggalkan kamar.


"Setelah ini, awas saja kalau kau berani menolakku lagi," ia menatap nyalang pada sang pemuda. Lelaki yang telah berhasil merendahkannya itu, kelak akan bertekuk lutut kepadanya.


Tap tap tap tap!


Hentakan kaki sepatunya menimbulkan gema bunyi di kamar hotel. Ia kemudian merapikan kembali pakaian juga rambutnya, yang tadinya kusut dan berantakan. Sesaat, sebelum ia benar-benar pergi, di pandanginya kembali paras sang pemuda yang masih lelap dalam pengaruh obatnya.

__ADS_1


"Sudah kubilang bukan, jangan pernah menolakku," ucapnya sambil tersenyum sinis.


💕💕💕💕💕


__ADS_2