
Ini bukan lagi tentang cinta. Ini juga bukan lagi tentang seberapa besar gadis itu menginginkannya. Ini tentang rasa sakit hati, juga penghinaan yang ia dapat berulang kali.
'Dia pikir, dia siapa? Huh! Menolakku dengan sombongnya,' batin Eryn kesal.
Ingin sekali gadis itu ******* bibir Devan yang berkali menghinanya. Tapi, apalah daya? dia bahkan tak dilirik meski sudah berusaha menggoda.
Ouh, Aa Devan, kenapa ada lelaki dingin sepertimu. Awas saja, setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu. Kembali Eryn membatin.
"Kamu Pergilah!" Devan membuka pintu, mengusir paksa Eryn keluar dari kantornya.
"Oh, Oke," sahut Eryn sambil berjalan pelan menuju pintu.
'Sok aja lah, sekarang kamu mah bebas ngusir-ngusir aku. Nanti juga bakalan memohon-mohon!' tukas Eryn dalam hati.
"Ahahahahaha!" Ia tertawa terbahak, membayangkan kelak Devan jatuh dalam pelukannya. Dilihatnya lagi genggaman di tangan. Beberapa helai rambut Devan yang sengaja ia cabut saat memeluknya sampai terjerembab ke belakang.
"Brruuukkk!" Sebuah hantaman membuat Eryn terjatuh.
"Awwwwh!" ia merintih kesakitan. Sekejap kemudian kedua matanya terbelalak. Menyadari sesuatu.
Ya Tuhan! Rambut! mana rambut?!
Eryn meraba-raba ubin lantai dengan kedua tangannya di sekitar ia jatuh.
"Aaaarrrgghh!" gadis itu menjerit. Ia seperti orang yang tidak waras. Meraba-raba ubin di sekitarnya.
"Hey Beibz, nyari paan?" Bagas merunduk. Melipat kaki sambil memegang kedua lengan Eryn.
Eryn mendongak. Tatapannya tajam, nyalang kepada Bagas. Lelaki yang menubruk badannya tadi ternyata dia. Bahkan, helaian rambut milik Devan terjatuh dan sepertinya terbawa angin.
"Aaarrgh! Kamu, mah!" Beringsut Eryn berdiri. Ia lalu bergegas pergi meninggalkan Bagas. Dia sedang emosi.
"Beibz, tunggu!" teriakan Bagas tak digubris. Eryn setengah berlari menuju mobil berwarna merah miliknya.
💕💕💕💕💕
Stasiun Bandung selalu saja penuh. Begitu banyak manusia yang berkerumun di situ. Ada yang tengah mengantri tiket, ada yang tengah duduk di kursi tunggu, ada yang berdiri di tempat kedatangan penumpang dan ada pula yang berkali lalu lalang. Pandangan yang lazim di setiap tempat keramaian.
"Hati-hati yah, Mas," bisik Devan sambil memeluk Mas Rahman. Saudaranya itu akan kembali ke Kota Surabaya.
Rani dan Nayla saling berpelukan. Mereka juga harus mengucap salam perpisahan.
"Mbak mau cetak tiket dulu, nitip Cinta bentar, yah," ucap Rani pada Nayla. Bocah tiga tahun yang berada dalam pelukannya itu, sekejap saja sudah beralih di gendongan Nayla.
"Lucu yah, nanti bikin sendiri yuk," bisik Devan lembut kepada Nayla. Gadis itu mendelik. Masih saja suaminya itu menggoda, disaat banyak orang seperti ini. Untungnya tempat ini berisik, jadi suaranya tak sampai didengar oleh yang lain.
"Kita pulang dulu yah, jangan lupa kasih kabar kalau nanti udah punya anak," celetuk Rahman sebelum meninggalkan Nayla dan Devan.
__ADS_1
"Inshaa Allah, Mas," jawab Devan kemudian. Tak lama kemudian Rani, Rahman dan Cinta menghilang di banyaknya kerumunan orang. Setelah boarding pass mereka lalu masuk kedalam ruangan khusus calon penumpang.
"Gimana mau punya anak, bikinnya aja belom, hahahaha," gelak tawa Devan membuat Nayla tergelitik. Ah, iyah, masih PMS.
💕💕💕💕💕
Dekorasi pelaminan tampak sangat mewah, bernuansa gold dan putih. Berbagai bunga hidup berjajar rapi di sepanjang jalan menuju tempat pelaminan. Harum masakan menyeruak dari hidangan yang telah di sajikan. Para tamu menikmati sambil sesekali bercengkrama, bertanya kabar ataupun basa-basi.
Ruangan pengantin pria dan wanita terpisah. Terdapat hijab penghalang yang saling menjaga.
Devan dengan tuxedo hitam juga pita di kerah kemejanya. Membuat ia terlihat semakin menawan. Hatinya gelisah juga rindu. Sejak pagi tak diberi izin untuk bertemu istrinya. Dia ingin sekali melihat paras Nayla saat memakai gaun pengantin.
"Barakallahu, Akhi," ucapan Ustadz Azzam mengagetkannya. Beliau lalu memeluk Devan kemudian menadahkan kedua tangannya, mendoakan.
Sekelebat bayangan kemudian hadir. Mengingatkan Devan saat Ustadz Azzam hendak mentaarufkannya. Pada Aisyah Humairah, yang juga adalah putrinya sendiri.
💕💕💕💕💕
Di ruangan yang berbeda. Nayla dengan riasan pengantin yang begitu indah. Menggunakan gaun berhijab syar'i, dengan mahkota bunga di atas kepalanya.
Gaun menjuntai indah. Berwarna putih dengan hiasan bunga juga pita. Ia terlihat cantik sekali, terlebih saat tersenyum menunjukkan giginya yang bergingsul.
Kedua pandangannya menyapu para tamu. Saudara, kolega, rekan bisnis dan tetangga Devan yang di Bandung cukup Banyak. Tak henti ia menyalami dan menerima begitu banyak ucapan selamat. Mamah Devan di sampingya tampak sangat bahagia. Berkali di genggamnya jemari menantunya itu, menunjukkan bahwa Mamah Devan sangat sayang kepadanya.
Pandangan mata Nayla mendadak saja membulat. Jantungnya seakan berhenti. Saat dari jauh ia mendapatkan tatapan tak mengenakkan dari dua mata yang tajam.
'Teh Eryn?' Nayla menelan saliva. Tatapan gadis itu seolah mengisyaratkan bahwa ia membawa sebilah pedang yang siap menghunus ke jantung Nayla.
Eryn menarik kepala Nayla. Ia menjambak kerudung putihnya dan mencakar riasan muka Nayla dengan sangat bringas. Gadis itu kesurupan. Hatinya terbakar seolah menyimpan bara api juga dendam. Sebentar lagi ia akan mencekik Nayla. Hingga gadis itu terkapar dan tak sadarkan diri.
"Nay, Nayla," panggilan Mamah Devan membuat Nayla terkesiap. Ia lalu gelagapan menarik napas. Baru saja kepalanya memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Selamat, yah, Nayla," lirih Eryn bersuara. Tampak sangat lesu dan tak berselera. Jika saja bukan karena Bagas, dia tak mungkin mau datang kesini.
Resepsi pernikahan Devan membuatnya hilang harapan. Karena sudah jelas, Devan telah menyandang status sebagai suami orang. Eryn tak suka menjadi perebut suami orang. Karena pandangan orang-orang akan mencibirnya sebelah mata. Jika kemarin ia masih bersikukuh, maka beda lagi dengan sekarang. Karena orang-orang telah melihat. Bahwa Devan telah resmi menjadi milik orang. Dimata agama juga Negara. Nayla istrinya yang sah.
💕💕💕💕💕
Kepingan hati, bukan hanya menceritakan tentang romansa sebuah jalan menuju pernikahan. Tapi tentang bagaimana kita menjalani sebuah proses pengendalian hati. Juga penilaian, terhadap baik buruk kepada setiap orang.
Tak pernah ada yang salah dengan jawaban Allah. Jika Dia menunjuki Devan bahwa Nayla adalah gadis yang harus dipilihnya, bukan berarti Aisyah Humairah bukan gadis yang baik. Mungkin, dia memiliki jodohnya sendiri. Dan Devan sadar diri atas semua pilihan yang telah ia tentukan.
Kriteria yang Devan tentukan, ternyata tak satupun melekat pada diri Nayla kala pertama mereka bertemu. Namun, perjalanan takdir membuat mereka ternyata berjodoh. Hingga resmi menyandang status sebagai suami istri.
Kepingan hati, memandang seseorang tak hanya dari sebelah mata saja. Awal mendapat petunjuk mimpi, Devan pernah beranya dalam hati sendiri. Kenapa harus Nayla? Bukankah dia perempuan penghibur? Perempuan yang tak pandai menjaga diri, juga kehormatan.
Tapi Devan meyakini, bahwa sekali lagi jawaban Allah tak pernah salah. Jika ada kesempatan untuk mencari kebenaran, kenapa tidak?
__ADS_1
Penelusuran dan penantian hati berbuah manis. Meski rintangan masih mendera, ia berusaha membuktikan, bahwa ia meyakini jawaban Allah sepenuhnya.
Dan disinilah dia. Bersiap menemui sang kekasih hati. Di ambang pintu kamar. Berdekorasi warna putih juga emas menyilaukan pandangan.
"Assalamualaykum istriku."
Langkahnya masuk. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Nuansa khas kamar pengantin dengan berbagai taburan bunga juga roncean.
Nayla menjawab salam. Ia menunggu sambil terduduk dengan gaun pengantin yang panjang. Senyumnya terkembang. Kala sentuhan lembut kembali ia dapatkan.
Diraihnya dagu Nayla yang lancip. Detik berikutnya, tanpa menunggu izin Devan mengecup lembut sesuatu di sana. Berkali, menyatakan lewat gerakan pelan, jika ia sangat menyayangi Nayla.
"Istriku cantik sekali," bisiknya lembut di telinga Nayla yang terhalang hijab.
Dipandanginya kedua bola mata jernih dengan manik kecoklatan itu. Tampak semakin cantik dengan riasan yang ada.
Gerakannya membelai perlahan, lembut menyentuh pipi istrinya.
"Mas," lirih Nayla memanggil.
"Iyah, kenapa?" tanya Devan sambil merebahkan Nayla di atas pembaringan.
"Terima kasih banyak," ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.
Detik berikutnya Devan kembali membenamkan muka. Menikmati setiap inci keindahan di depannya.
"Boleh kuminta sekarang?" tanyanya.
Nayla mengangguk, tapi kemudian mendorong pelan.
"Kenapa?" Devan mengernyit.
"Belum dikunci," ucap Nayla.
"Udah," jawab Devan sambil mencuri kembali bibir berwarna merah milik Nayla.
"Mas, ada emak-emak readers ngintip," sergah Nayla lagi.
"Sayang, mereka sedang sibuk memasak!" Devan gemas sekali.
"Tapi-" Kalimat Nayla terpotong. Lagi, Devan tak mengizinkannya berbicara.
Perlahan, gerakan tangannya melepas lembut kerudung yang menutup kepala Nayla. Membaca doa dengan lirih.
Jemarinya bergerak semakin liar, sampai kemudian ia berhenti melakukan gerakannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Nayla bingung.
__ADS_1
"Ada emak-emak readers yang nguping!"
💕💕💕💕💕