Kepingan Hati

Kepingan Hati
Dia Iparku?


__ADS_3

Bagaimana jadinya jika masa lalu itu datang, tepat di saat engkau mulai membuka hati untuk dia yang sudah halal?


Dan masa lalu itu berhubungan langsung dengan kehidupan yang sekarang?


Tesss...


setitik air menetes dari sudut mataku. Mewakili segudang rasa, yang bergemuruh dalam dada.


Terisak dalam diam. Sakit, juga melelahkan. Karena tak ada yang mendengar jeritan hati. Yang bergejolak tak tau diri.


* * * * *


Canggung.


Itulah yang kurasakan saat ini. Di mana semua seolah memilih bungkam, dan mendadak keadaan menjadi tegang.


Oke, jika ini tentang hubungan masa lalu kami. Aku dan Devan, seharusnya cukup kami yang merasakan begitu. Tapi, di meja makan yang berisi empat orang ini, semua membisu. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Firasatku ada yang aneh, juga sedikit janggal.


Meski sesekali denting sendok dan garpu menyelingi keheningan. Tetap saja keadaan ini sangat tidak nyaman.


"Ehm...," tetiba ayah mertua mendehem cukup keras. Hingga berhasil mengalihkan semua perhatian ke arahnya.


"Jadi, gimana perjalanan tadi kesini?" Ucapnya lagi, dengan pandangan yang lurus menatap Devan. Putra kandungnya.


"Biasa, Yah. Mana ada sih kereta macet," jawabnya santai sambil mengedikkan badannya.


Suara ngebassnya itu, entah kenapa menimbulkan desir-desir halus di dada.


"Ibu sudah kangen banget sama Devan." Kali ini ibu mertua ikut membuka suara.


"Oh yah?" tanyanya ragu seraya memandang ibu.


"Lho, iyah tho, setahun lebih nggak ketemu."


Degh,


Se...ta...hun? Itu waktu yang sama. Saat dia tak memberi kabar padaku. Aku tersenyum getir.


Ck, kamu jahat!


"Kirain udah pada LUPA," ia lalu bersuara, sambil memberi tekanan di kata terakhir.


Ibu dan ayah mertua saling pandang. Aku dan mas Rahman pun begitu.


"Ah, sudahlah. Cuman bercanda. Tak perlu seserius itu hahahaha," ia tertawa renyah, menunjukkan gingsul di giginya. Tawa yang sama saat dulu, saat ia masih bersama denganku. Meski, dalam ikatan yang salah.


"Udah ada calon, belum?" Ku lihat mas Rahman mengacak rambut Devan berantakan.


"Eits, jangan gitu tho, Mas." Devan menampik. Menepis kasar tangan mas Rahman.


"Dibilang ada, tapi nggak ada. Dibilang nggak ada, tapi ternyata ada," ucapnya ambigu. Dengan memandang lekat ke arahku.


"Lhaa, maksudnya piye tho?"

__ADS_1


Devan tak menjawab. Ia menggeleng kepala dan tersenyum simpul menanggapinya.


Ku perhatikan di sisi lain, mas Rahman memandangku. Tanpa sedikitpun berkedip.


* * * * *


Pagi ini pekerjaan rumah terasa sangat menumpuk. Cucian yang kemarin belum kering, terpaksa harus dijemur ulang. Ternyata baru terasa istilah 'clbk' itu setelah aku menikah. Jika dulu semasa di pondok, aku hanya memikirkan pakaianku saja. Jika tidak kering tak terlalu bingung, paling hanya beberapa lembar saja. Tapi setelah menikah, istilah 'clbk' itu sungguh sangat terasa. Cucian lama belum kering. Apalagi pakaian sekeluarga? wewwh. Pasti emak-emak kbm juga pernah merasakannya. Eeaa


Ooppss!


Syukurlah hari ini panas matahari lumayan terik. Semoga semuanya bisa kering hari ini. Karena bau cucian basah itu, sungguh tidak enak. Meski sudah dicampur pewangi. Kalau tidak percaya, cobalah cium bau cucian yang basah seharian. Semoga tidak pingsan!


"Raaan!" Suara ibu mertua melengking, kepalanya menyembul dari balik daun jendela dapur.


Ku hentikan aktivitas menjemurku sebentar, melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang menghubungkan taman belakang dengan dapur.


"Iyah, bu?" Tanyaku begitu sampai di dalam dapur.


"Ehm, ini ibu mau pergi dulu, lupa hari ini ada janji sama bibi Sri," jelasnya sambil meletakkan beberapa bahan masakan di meja dapur.


"Tadi kan udah masak buat sarapan. Nanti siang sama buat makan malam ibu belum masak. Rani yang masak yah? Ibu kayaknya pulang sore. Sebelum Ayahnya Rahman pulang."


Kadang aku bingung, beliau ini sebenarya nyuruh apa bertanya? Habisnya suka sepaket gini.


"Oh, iyah yah. Gampang, biar rani yang masak," jawabku enteng.


"Jangan lupa, pintu rumah di kunci dari dalam yah. Nggak ada orang kok, cuman Rani aja," ucapnya lagi. Aku mengangguk, mengiyakan.


Sedangkan akhir pekan, rasanya seharian inginku bermalas-malasan. Tapi ada rasa sungkan, karena tinggal seatap dengan mertua.


Tinggal dirumah mertua terkadang mendidik seorang menantu untuk lebih mandiri. Itu yang kurasakan saat ini. Ibu mertua begitu telaten mengajariku ilmu rumah tangga. Mulai dari memasak aneka masakan lezat, sampai membersihkan setiap celah dan sudut rumah.


Mertuaku orangnya rajin dan super higienis. Apa-apa harus bersih dan rapi. Meski tinggal di rumah yang bisa dibilang lumayan besar ini, banyak pekerjaan yang tak henti-hentinya. Ibu mertua tak mau menggunakan jasa asisten rumah tangga.


"Selama bisa dikerjakan sendiri, kenapa tidak?" Begitulah yang beliau ucapkan.


Aku tak pernah menganggap beban. Selama ini aku melakukannya dengan senang hati. Aku selalu mengingat satu nasehat ibu. Meski kurasa itu melukai diriku.


"Sukai dulu baru jalani. Nggak akan ada beban setelahnya nanti." Wejangannya masih kuingat. Dan itulah yang membuatku menerima pinangan dari suamiku kala itu. Mau di ingat berapa kali pun, tetap saja. Ada yang selalu mencubit hati ini. Sakit. Saat aku bilang, aku menyukai mas Rahman. Padahal lubuk hatiku yang paling dalam, menjerit tertahan.


"Ehm..." terdengar suara orang berdehem.


Aku terhentak kaget. Bukankah tadi ibu mertua bilang nggak ada siapa-siapa dirumah?


Ingin menoleh ke arah sumber suara. Tapi ada sedikit ketakutan dengan apa yang nanti kulihat. Jangan-jangan hantu, hiiiiy!


Gerakan tangan yang tadinya mengiris wortel, mendadak terhenti. Saat mendengar derap langkah kaki itu mendekat.


"Lagi masak?"


Srrrrrrrrr...


Hatiku berdesir. Oh, tidak! Suara itu.

__ADS_1


Aku menoleh, menatap sosok yang kini berdiri di depan kulkas. Dengan setelan kaos putih dan celana pendek serta rambut acak-acakan. Ia lalu tersenyum hangat. Kedua matanya memandangku begitu lekat. Hidung bangirnya meski tak seruncing milik mas Rahman. Tapi itu mengingatkanku akan sesuatu.


Fikiranku melayang, menembus dimensi ruang dan waktu. Bertahun lalu saat kedua mata itu memandang dengan cara yang sama.


"Mau nggak nikah sama aku?" Ia memajukan muka, mengamati ekspresiku atas ajakannya. Sementara gagang sapu yang kupegang, mendadak lepas dari genggaman.


"Pergi nggak? Pergii!!" Usirku kala itu. Sambil mengibaskan gagang sapu ke arahnya. Mencak-mencak di depan teras rumah mbah kakung.


Ia dengan jaket almamater kampusnya, meringis kesakitan. Menahan setiap pukulan gagang sapu yang kuberikan.


"Hey," ia menjentikkan jemarinya di depanku. Membuat memori yang terlintas tadi seketika menghilang. Dan saat raga kembali sadar, ada sebilah pisau tak kasat mata yang mengiris jantung begitu dalam. Sakit!


"Eh, iyah! Lagi masak," jawabku kaku.


'Kenapa ada dia di sini?membuat mood memasakku jadi tak berselera.'


"Maaf..." ia membuka suaranya lagi.


"Untuk apa?" tanyaku datar. Firasatku berkata, ia ingin mengungkit masa lalu. Aku kembali berkutat dengan aktivitasku. Mengiris-iris wortel.


"Maaf, sudah terlambat datang." Ia mendekat. Berdiri tepat di sampingku.


"Ck!"


"Maaf," sekali lagi ia berucap.


"Sudahlah, nggak penting," aku mendengkus kesal.


"Sungguh aku menyesal, Rani. Pliss dengerin dulu penjelasanku!" Ia setengah berteriak.


"Nggak perlu ada lagi penjelasan. Lagian yang lalu sudah berakhir. Tak ada hubungan lagi di antara kita. Yang ada hanyalah sebatas IPAR!" Jeritku tak mau kalah.


"Tapi, bagiku masih penting," ia membalik tubuhku kasar. Kedua tangannya mencengkeram bahuku erat. Ia lalu memandang tajam dan mendekatkan mukanya padaku.


Tanganku bergetar, gugup dan sedikit takut. Ia terus saja memandang. Bisa kulihat dari pergerakan manik hitamnya, ia menelusuri setiap inci bagian wajahku.


"Apa kau takut?" Ia bertanya dengan tetap memandangku tanpa jeda.


"Raniku belum berubah, masih ada rasa di sana." Ucapnya kemudian. Seolah berhasil mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri.


Salah!


Ini salah!


Sudut-sudut hatiku menjerit.


Sejurus kemudian aku mendorongnya kasar. Berlari menuju kamar. Menguncinya rapat-rapat. Aku takut, sungguh takut jika harus berdua dengannya.


Aku meringkuk memeluk lutut. Mengatur kembali ritme debaran di dada. Letih dengan emosi yang tak terkendali.


Untuk sesaat tadi, aku melihat kilat bayangan wajah mas Rahman.


"Maafkan Rani, mas," lirihku tertahan.

__ADS_1


__ADS_2