
Pov Nayla
Kehidupan setelah pernikahan itu ternyata lebih berwarna. Ada suka dukanya. Ada haru, tawa juga pilu. Senangnya lagi, ada tempat untuk berbagi kasih. Mencurahkan rasa, juga sandaran yang menenangkan.
Aku selalu menikmati semua proses itu. Sungguh, aku sangat bersyukur Allah menghadirkan Mas Devan untukku. Dia benar lelaki yang baik, juga bertanggung jawab.
Terlebih setelah lahirnya buah hati kami yang pertama, Hadziq. Mas Devan lebih perhatian juga sayang kepadaku.
Seperti saat ini. Meski lelah bekerja masih mendera, dia selalu saja membantuku menidurkan Hadziq.
"Udah bobok?" tanyaku pelan sambil mengusap punggungnya.
Mas Devan mengangguk. Ia lalu dengan hati-hati meletakkan Hadziq yang dari tadi digendongnya ke atas ranjang tempat tidur bayi. Mas Devan sangat cekatan sekali.
"Lucu yah, Mas," lirihku pelan sambil melihat wajah mungil Hadziq yang tampan. Dia mirip sekali dengan Ayahnya.
"Iyah, lucu yah, ngegemesin," jawab Mas Devan.
Kulihat raut wajah suamiku itu. Tampak kantung matanya samar berwarna hitam, dia pasti lelah sekali. Sejak aku melahirkan. Dia lebih sering begadang. Menenangkan Hadziq, yang terkadang rewel tengah malam. Suamiku itu sangat siaga, membangunkanku hanya saat harus memberi Asi pada Hadziq saja.
"Bagaimana mungkin Mas bisa tidur kalau lelah di wajahmu belum juga hilang," ucapnya suatu malam.
💕💕💕💕💕
Tak ada rumah tangga tanpa badai. Tak ada pernikahan tanpa ujian. Semua mengalir alami. Kehidupan kami mengikuti arus. Kadang landai dan tenang, tapi tak jarang curam pula ikut menghadang.
💕💕💕💕💕
Semakin tinggi sebuah pohon. Maka semakin tinggi pula angin kencang menerpa. Usaha sekian tahun dirintis mengalami kendala kecil itu sudah terbiasa. Hasil yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan, itu juga sudah biasa. Namun, jika badai yang timbul karena pecahnya pimpinan. Maka akan sangat sulit untuk dipertahankan.
💕💕💕💕💕
"Ini mau dibawa semua, Mas?" tanya Nayla lembut. Dilihatnya Devan sedang memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koper hitam.
"Iyah, Mas di sana seminggu," jawab Devan masih tetap fokus merapikan.
"Sini sama Nay aja."
Devan menoleh. Melihat wajah kusut istrinya, dia kembali tak tega.
__ADS_1
"Udah, Sayang, Mas bisa sendiri. Sok aja sama Hadziq dulu." Devan menolak.
Semalaman ia harus mengurus pekerjaan di kantor pusat. Ada proyek baru yang harus ia garap. Kembali menjadi delegasi seperti dulu. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Melainkan bersama rekan kerja juga sepupunya, Bagas.
Ia tak pulang kerumah. Itulah sebab ia merasa sangat bersalah. Membiarkan Nayla mengurusi bayi mereka sendiri di malam hari.
Bahkan ketika Devan tiba ke rumah. Sesegera mungkin ia harus menyiapkan perbekalan karena hari ini juga ia harus berangkat bersama Bagas.
💕💕💕💕💕
"Mah, Devan minta doanya yah, semoga dimudahkan segala urusan di sana. Nitip Nayla sama Hadziq juga," lirih Devan berpamitan. Perempuan tuanya itu tersenyum sambil mengangguk, mengiyakan.
Selalu ia meminta restu, setiap kali melakukan tugas atau melangkahkan kaki menuju babak baru. Bagi Devan, tak ada yang mampu menggantikan peran seorang Ibu. Perempuan yang telah mempertaruhkan nyawanya, demi mendengar tangis kala ia dilahirkan ke dunia.
Devan lalu menemui istri dan anak tercinta. Dilihatnya bayi merah usia dua minggu itu, masih terlelap dalam dekapan Nayla.
"Mas, pamit dulu yah." Nanar Devan memandang. Ah, berat sekali rasanya. Karena yang menunggunya di rumah kini bukan hanya Mamah saja. Tapi ada istri dan putra tercinta. Entah mengapa hati mendadak sedih. Ia berat sekali meninggalkan mereka.
💕💕💕💕💕
Kereta melaju cepat meninggalkan kota yang dikenal dengan kesejukannya. Devan risih juga tak suka. Beberapa kali pandangan matanya menangkap Eryn kembali mencoba menggoda. Meski di sampingnya sudah ada Bagas. Gadis itu sepertinya masih saja tidak puas.
Bagas mengambil keputusan sendiri. Mengajak Eryn ikut bersama ke jawa tengah. Gadis itu bosan, ia ingin hiburan jalan-jalan.
Sejak menjalin hubungan dengan Eryn. Bagas sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Manut tanpa sedikitpun menolak permintaan gadis itu. Meski status mereka belum menyandang suami istri. Keduanya tak segan menunjukkan rasa cinta kasih. Membuat Devan jengah dan tak suka.
Eryn kembali menoleh ke belakang. Memandang paras Devan yang terpejam, dengan sebagian penutup jaket yang membalut kepala. Ia tertidur dengan kedua earphone yang masih terpasang. Membuat gadis itu mengkhayal sesuatu, menimbulkan kembali desiran halus dalam dada.
"Kenapa Beibz?" suara Bagas menarik kembali pandangannya.
"Nggak papa," jawab Eryn sambil menyandarkan kepala di bahu Bagas. Harapannya semoga Bagas tidak menyadari, jika sedari tadi ia menatap lekat kearah kursi belakang. Tempat dimana Devan duduk.
Perjalanan panjang nan melelahkan harus ia lewati. Misinya kali ini tak boleh gagal. Ia membawa misi baru, bukan lagi sekadar menginginkan pemuda yang bernama Devan itu.
💕💕💕💕💕
Pov Nayla
Seminggu telah berlalu. Sungguh, aku tak pernah mengeluh selama ditinggal Mas Devan keluar kota. Hanya saja, begitu banyak tanya yang kusimpan saat ini. Kenapa tak sekalipun ia memberi kabar.
__ADS_1
Khawatir tentu saja. Bukan hanya aku, tapi mamah mertua pun berpikir begitu. Mas Devan, semoga kamu baik-baik saja, Nay Rindu.
"Sudah ada kabar?" kembali Mamah bertanya. Entah ini pertanyaan yang keberapa dan jawabanku selalu sama.
"Belum, Mah."
Mamah menghela nafas berat. Dia sama kepikirannya sepertiku. Gawai Mas Bagas juga tidak bisa dihubungi. Lalu, kepada siapa lagi kami harus mencari jawaban?
Mereka semoga baik-baik saja.
Aku mencoba menenangkan Hadziq. Mungkin faktor kepikiran ini membuat Asi yang kuhasilkan tak cukup membuatnya tenang. Ia gelisah sepertiku.
"Assalamualaykum." Terdengar suara salam dari luar. Seketika mamah tergesa membuka pintu. Suara seseorang yang telah lama kami tunggu.
Seraut wajah itu kemudian masuk ke dalam rumah. Kulihat lelakiku tampak sangat lelah. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan. Tapi tertahan karena mengingat waktu yang belum tepat. Juga Mas Devan yang baru saja datang.
💕💕💕💕💕
Sejak pulang, Devan tampak murung. Dia lebih sering terlihat diam dan termenung.
"Nay," lirihnya memanggil Nayla. Gelisah dalam hatinya seperti tak dapat lagi ia bendung.
"Kenapa, Mas?" Nayla mendongak. Menatap lekat wajah lelaki yang berbaring di sampingnya.
"Jangan tinggalin, Mas, yah?" Devan mengelus lembut pipi Nayla. Ia sudah sangat rindu pada istirnya itu.
"Kenapa ngomong gitu, Mas?" Nayla mendekap lebih erat.
Diam.
Devan tak lagi bersuara. Pikirannya sungguh sangat terbebani. Ia sendiri tak tau harus memulai dari mana.
"Mas ada masalah sama kerjaan?" Nayla menebak.
"Jika suatu saat Mas jatuh di bawah, Nay masih mau nemenin nggak? Meski kita hidup pas-pasan, atau bahkan, serba kekurangan," ujar Devan terbata. Ia berulang kali harus menahan nafas.
"Ya Allah, apa Nay mencintai Mas Devan hanya karena materi? Mas masih ragu?" Nayla kembali mendongak. Melihat mata Devan yang tampak sayu tak bersemangat.
Kembali dipeluknya Nayla, erat dalam dekapan. Hatinya menjadi lebih tenang sekarang.
__ADS_1
💕💕💕💕💕