
Semilir angin meniup lembut setiap helai daun pepohonan yang rindang. Tampak sebagian yang berwarna kuning, perlahan jatuh terbawa angin, menimpa pelataran.
Pohon kersen yang rindang, dengan batang yang kokoh lagi bercabang, telah bertahun tertanam di sisi kiri Toko milik Bagas dan Devan. Sengaja tak ditebang, sebab selain teduh, pohon itu lumayan bermanfaat untuk mengurangi polusi lingkungan. Tak jarang pula buahnya yang kecil dan merah menjadi santapan anak-anak kecil atau pelanggan yang berkunjung. Kebanyakan mereka menikmati momennya, saat harus memanjat atau meraih di dahan tertinggi.
Tak jauh dari deretan pohon itu, tampak seorang gadis berkerudung merah marun tengah menenteng tas besar. Berisi beberapa kertas dokumen yang tersusun rapi juga map-map coklat yang cukup banyak.
Sesekali gadis itu melirik jam tangan. Sekadar melihat ada berapa lama ia berdiri menunggu. Ia lalu meraih gawai di saku gamisnya. Memencet beberapa angka, menghubungi seseorang.
Keningnya berkerut. Mendengarkan seksama, suara gawai yang ia tempelkan di dekat telinga. Apakah panggilannya telah tersambung saat ini atau kembali seperti tadi, tak dapat dihubungi sama sekali.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
"Oh, ayolah!" Gadis itu menggerutu. Kembali dimasukkannya gawai ke saku gamis. Ia lalu berjalan mondar-mandir, berusaha menghalau kekesalan. Tak lama ia menghentakkan kaki kiri, kesal.
Tak tahan. Sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya itu, kemudian turun dari dalam mobil berwarna putih dengan merek fortuner keluaran beberapa tahun silam. Awalnya ia ragu, namun, demi melihat pemandangan tak jauh di hadapannya itu, ia jadi penasaran.
"Maaf, ada perlu apa yah?" Devan bertanya. Sesaat setelah ia tiba di depan pintu toko.
__ADS_1
Gadis itu terbelalak. Ia lalu mengalihkan pandangan setelah sepersekian detik tak berkedip.
"Nyari A Bagas," ucap gadis itu kaku.
Bagas? Mau ngapain? Eh, dia mengingatku tidak yah? Batin Devan.
"Oh, oke, masuk saja. Nanti dia datang." Devan membuka pintu dengan tangan kirinya. Mempersilahkan masuk.
"Saya tunggu di sini saja," jawab gadis itu krmbali sambil tersenyum. Menolak ajakan Devan.
Belum sempat ia membuka pintu, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan kirinya cukup kuat.
"Bagas?!" Devan terperanjat. Tak menyangka jika ada Bagas di sini. Kenapa tiba-tiba juga Bagas menghalaunya?
"Van, bantuin dong," ucap Bagas memelas. Mukanya di tekuk, wajah itu pias tak seperti biasanya.
Devan mengernyit, bingung. Sepertinya ia melewatkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa?"
Bagas melirik takut-takut ke arah luar toko. Diikuyinya Devab pandangan sepupunya itu.
"Astaga! Gadis itu nyariin kamu, lha kenapa malah di sini?" Devan menepuk kepala sendiri.
"Aku panggilin yah?" Devan melangkah hendak keluar. Tapi, lagi-lagi tangannya di tarik Bagas. Sepupunya itu kembali menghalangi.
"Plis Van, duh kumaha yah ceritanya." Bagas tampak kalut. Ia bingung harus memulai dari mana. Devan memutar bola mata. Menatap aneh sepupu sekaligus rekan kerjanya itu.
"Kamu mah, aneh pisan! Sama Eryn berani, kenapa sama Aisyah jadi cemen gini?" Mata Devan membulat. Ia keceplosan.
Bagas mengernyit. Kali ini dia yang tak paham.
"Kamu kenal Aish?" tanya Bagas. Bagaimana Devan bisa tahu siapa nama gadis itu? Sedangkan ia sendiri belum bercerita apapun padanya.
***
__ADS_1