
Sementara Bagas sedang menikmati panas dinginnya. Di rumah besar milik Devan justru mengalami kebalikannya. Suasana penuh canda tawa terdengar keluar dari ruang keluarga. Nayla, Devan, Mamah Devan juga Hadziq sedang berkumpul bersama.
Bayi berusia hampir dua bulan itu seperti menjadi mainan baru bagi orang-orang dewasa di sana.
"Jadi gimana nih, Mamah udah pengen liburan." Mamah Devan mengangkat suara. Di usapnya pipi Hadziq dengan lembut. Bayi itu sedang terlelap di pangkuannya.
"Alun-alun Bandung, mau?" tanya Devan.
"Bosen atulah, Van. Sesekali kemana gitu," celetuk sang Mamah.
"Kapan hari Bagas kerumah. Dia, ngasih dua tiket pesawat buat ke Andalusia." Nayla ikut bersuara. Membuat Devan seketika menoleh ke arahnya. Dia, bahkan belum bilang pada Mamahnya jika dapat hadiah tiket dari Bagas.
"Oh, ya?" Mamah Devan terkejut. Kenapa hal seperti ini dia bahkan tak diberi tahu? tanyanya dalam hati. Diliriknya anaknya itu. Masih saja berkutat dengan game cacingnya. Ish!
Devan merasa tak enak. Ia lalu meletakkan gawainya. Memberi jawaban.
"Iya, Mah. Tapi, Dev nggak jadi ngambil itu." Dipandanginya wajah sang Mamah. Kini giliran Nayla yang berkerut keningnya, kenapa?
__ADS_1
"Nggak mungkin atuh bawa anak bayi dua bulan naik pesawat. Ya, nggak boleh juga ama petugasnya. Minimal satu tahun atau enam bulan," papar Devan sebelum muncul pertanyaan dari Nayla.
"Udah dibalikin da ke Bagas lagi. Serah dia mau dikemanain. Paling juga ke sepupu yang lain." Tambahnya lagi sambil kembali meraih gawai. Dia masih ingin memainkan game cacingnya.
"Ihh, lebar atuh Van, lagian sok aja kalian berdua yang pergi," ujar Mamah Devan. Anaknya masih saja tak bergeming, tersenyum simpul tanpa lagi menanggapi.
Bagaimana mungkin dia dan istrinya bersenang-senang, sedangkan orang yang banyak berjasa dalam hidupnya diam dirumah. Tak sampai hati Devan berbuat begitu. Meski ia tahu, Nayla sangat menginginkannya.
💕💕💕💕💕
"Kamu, sabar dulu yah?" ucap Devan pelan. Ia meyakinkan Nayla. Agar tak salah paham dengan pilihannya.
"Inshaa Allah, nanti kita pergi kalo Hadziq agak gedean."
"Terus tiketnya kmarin?" tanya Nayla lagi.
"Udah dibalikin lagi ke Bagas, Sayang."
__ADS_1
Untuk sesaat, keduanya sama-sama hening. Terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Tapi, kenapa tiketnya ada dua, Mas?" Masih tak puas dengan jawaban suaminya itu. Nayla kembali mengejar pertanyaan.
"Sini, dijelasin dulu yah." Devan menuntun langkah Nayla. Ia berlalu menuju balkon kamar. Sambil menikmati udara malam yang dingin.
"Sebenernya, tiket itu milik Eryn dan Bagas. Mereka mau liburan ke sana. Tapi, karena kejadian hari itu, Bagas sama Eryn ... mereka putus." Devan menjelaskan. Membiarkan Nayla mencerna kalimatnya barusan. Agar istrinya tak terus-terusan salah paham.
"Nah, berhubung mereka udah pisah. Jadi tiketnya dikasih buat kita." Devan tersenyum, dilihatnya wajah Nayla yang sekarang lebih santai. Tak lagi menaruh curiga.
"Waktu itu, Mas pikir bisalah kita pergi bareng-bareng. Ternyata ga boleh bawa bayi di bawah satu tahun, paham kan?"
Nayla mengangguk. Meski ada guratan kecewa disana, ia mencoba untuk tersenyum.
"Jangankan ke Andalusia. Sayang mau kemanapun, Mas mampu beli tiket buat kita. Hanya saja, sekarang bukan waktu yang tepat." Devan menggenggam erat jemari Nayla. Seisi dunia pun bisa ia berikan untuknya.
"Jadi?" Nayla mendongak. Menatap lekat wajah suaminya itu.
__ADS_1
"Sabar dulu, yah."
💕💕💕💕💕