
Bagaimana mungkin Bagas bisa menceritakan tentang sikap konyolnya ketika bersama Aisyah kepada Devan. Bisa mati kutu dia. Jika dengan Eryn ia bisa terus terang menggoda, bahkan mengakui menyukainya. Beda lagi jika sudah berhubungan dengan Aisyah. Ia serba salah.
"Kalau nggak mau cerita ya udahlah, nggak masalah. Semoga urusan kamu ama Aish cepet kelarnya. Emm, kalau mau mah, aku bisa bantu buat jodohin kamu ama dia." Devan berdiri dari meja kerja Bagas. Ia sudah selesai mengecek satu persatu lamaran kerja yang di bawa Aisyah.
"Serius?" tanya Bagas. Devan mengangguk. Dilihatnya ekspresi Bagas yang bersemangat.
"Tapi, nggak jadi, deh," celetuk Bagas. Ia mendadak saja tak percaya diri. Aneh sekali
"Gimana kamu aja lah." Devan mengangkat kedua bahunya. Ia lalu pergi meninggalkan ruang kerja Bagas, hendak menuju ruang kerjanya sendiri. Sudah waktunya untuk pulang. Devan akan berkemas.
***
"Drrrrrrtttttttt!" gawai Devan bergetar. Gesekan dengan meja kerjanya menimbulkan bunyi berderit. Dilihatnya sebentar, layar berkedap-kedip itu menunjukkan deretan angka sedang memanggil.
Nomer baru? Siapa?
Tak berselang lama, gawai berhasil menempel di telinga kirinya.
__ADS_1
"Hallo, assalamualaykum?" tanya Devan.
"Wa alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh." Suara seorang perempuan menyahut dari seberang sana. Refleks, Devan menelan ludah sendiri. Suara yang telah sangat lama tak di dengarnya. Juga pernah mengisi hari-hari di masa lalunya. Mendadak jantungnya berdegub sangat kencang.
"Ada, apa, Rani?" tanya Devan patah-patah. Ia gugup sekali.
"Kamu sibuk ndak? Aku minta nomer Mamah, ada?" tanya Rani. Suaranya bergetar seperti hendak menangis.
*Ada apa?
Kenapa mencari Mamah*?
"Hallo, Van," panggil Rani lagi. Ia menunggu lama tapi tak ada sahutan. Rani hanya tak tahu, jika Devan sedang berperang melawan deguban hati dan pikirannya.
"Hallo, hallo," panggilnya lagi. Devan masih tak menjawab tadi. Sesaat Rani berpikir hendak mengakhiri panggilan, mungkin sambungan terputus atau sinyalnya sedang tak bersahabat. Tapi, segera saja ia urungkan niatnya. Saat terdengar helaan napas milik Devan dari seberang sana.
"Iya, ada, kamu ... apa kabar?" tanya Devan sambil mencoba tetap berpikir waras.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Van. Ada hal penting yang ingin kubicarakan," ucap Rani. Devan kembali mengempaskan diri di sofa ruang kerjanya.
"Ini, tentang Ayah dan Mas Rahman," tambah Rani lagi. Kening Devan berkerut, ia serius mendengarkan.
"Mereka, kecelakaan," ucap Rani diselingi suara isakan kecil. Hari sudah menjelang senja. Ia terpaksa menghubungi Devan karena ada satu hal perkara.
Ayah? Mas Rahman? Ah, lelaki tua itu kenapa lagi? Tapi, meski begitu. Dia Ayahku.
"Tadi siang mereka sedang berkendara bersama." Rani menghela napas tertahan. Ia mengendalikan hati juga pikirannya. Bagaimanapun ia sedang kalut saat ini. Ayah mertua dan suaminya sedang tak baik-baik saja. Sementara Devan masih fokus dengan penuturan yang akan Rani sampaikan.
"Ayah, ingin berbicara dengan Mamah. Dan aku, ada sedikit perlu ... masalah biaya." Rani mengembuskan napas. Penjelasannya begitu ia ucapkan seperti sedang dalam keadaan terpaksa. Ia sangat buntu.
"Tolong kami, Van," ucap Rani lagi. Mati-matian ia memberanikan diri berbicara kepada Devan. Lelaki yang dulu ia acuhkan. Lelaki yang dulu telah tanpa sengaja ia sakiti hatinya. Lelaki yang dulu menderita karena ulah Ayah mertuanya.
Devan mengembus napas. Sejenak tadi ia berpikir. Lalu dengan satu ucapan, ia mampu menenangkan hati Rani yang tengah sibuk dengan kekalutan sendiri.
"Kamu, jangan khawatir masalah biaya. Kamu, baik-baik saja di sana yah? Inshaa Allah secepatnya aku ke Surabaya."
__ADS_1