
Perjalanan bisnis yang dilakukan Devan berbuah manis. Seperti biasa, ia selalu saja memenangkan tender. Tak sulit untuknya mengambil peluang besar dari para investor. Dia memang mahir berbicara kepada siapapun.
Dia bekerja secara profesional. Melakukan tugas sesuai tuntutan pekerjaan. Meski ada kesalah pahaman dengan Bagas yang terjadi. Tapi, dia tak mengambil hati. Yang terpenting tugasnya telah selesai. Untuk kedepan, terserah apa dikata nanti.
💕💕💕💕💕
Hotel bintang lima tersedia. Aneka kebutuhan makan minum terpenuhi. Ingin hiburan, tinggal panggil sopir dari perusahaan. Devan dan Bagas sudah terjamin keperluannya. Disediakan langsung oleh rekan kerja mereka di Jawa Tengah.
Kecuali satu orang. Yang cukup membuat banyak kegaduhan, Eryn. Dia dengan drama-drama yang diciptakannya. Membuat Devan sangat jengah.
Sedangkan dengan Bagas, gadis itu menempel lekat ibarat perangko. Tak segan ia bergelayut manja. Meski begitu, pandangan matanya masih saja menggoda pada Devan .
Lelaki menawan itu sengaja tak mengaktivkan gawai sejak ia tiba. Kejadian tahun lalu membuatnya sangat berhati-hati. Takut jika Eryn kembali berulah seperti dulu. Ia tak ingin Nayla salah paham dengannya.
💕💕💕💕💕
"Renang yuk?" Pertanyaan Bagas disambut gelengan kepala oleh Devan.
Hotel tempat mereka menginap, menyediakan kolam renang khusus untuk tamu. Letaknya tidak jauh dari restoran hotel. Kebetulan hari ini mereka sedang tak ada kunjungan. Jadi bisa menghabiskan waktu sebentar untuk bersenang-senang.
Devan sedang menikmati sarapan paginya. Sampai akhirnya kedua matanya menangkap bayangan Bagas sedang duduk di bibir kolam bersama Eryn. Sungguh, kedekatan mereka terlalu intim. Ingin Devan menegur, tapi tak pernah ada kesempatan untuk sekadar mengobrol bersama sepupunya itu. Selalu ada Eryn di antara mereka. Devan tak ingin terlalu ikut campur.
__ADS_1
💕💕💕💕💕
Menghabiskan sepotong sandwich yang berisi daging asap juga telur. Membuat Devan cukup kenyang untuk melanjutkan hari. Ia berjalan hendak kembali ke kamar hotel. Mumpung Eryn sedang di kolam renang bawah. Ia ingin menelvon istrinya, Nayla .
Saat hendak berlalu, kedua matanya tanpa sengaja melihat pergerakan air kolam yang tak wajar. Sesuatu berpusar di trngah. Menimbulkan bunyi kecipak nyaring dan menggema. Seperti ada seseorang yang tengah tenggelam.
Dilihatnya ada dua tangan menyembul ke atas, menggapai-gapai permukaan.
Panik, Devan lalu bergegas melihat sekitaran kolam. Kosong, tak ada siapapun yang bisa dimintai tolong.
Tanpa aba-aba Devan kemudian menceburkan diri. Gerakannya cepat, jiwa kemanusiaannya tinggi. Ia berharap semoga siapapun ini akan selamat.
"Eryn!" terdengar suara teriakan memekik lantang. Bagas menjerit. Tergopoh ia lalu berjalan. Pias panik di mukanya mendominasi.
Di bibir kolam, Devan meletakkan tubuh Eryn yang tak sadarkan diri. Di susul beberapa pegawai hotel ikut berdatangan.
"Kasih nafas buatan! cepat!" riuh orang-orang memerintah. Devan canggung, ia tidak mau melakukannya.
Kebingungan yang membuatnya tak suka ialah saat melihat ada nyawa yang harus ia selamatkan. Sedangkan Devan sendiri sangat tak ingin melakukannya. Artinya secara tidak langsung, ia akan menyentuh bibir gadis penggoda itu.
'A burukeun atuh! Ihh cepetan!' Eryn membatin. Ah, iyah hanya pura-pura saja tak sadarkan diri.
__ADS_1
Kalut dan panik bercampur menjadi satu. Devan mulai menekan kuat-kuat kedua pipi Eryn yang memucat.
Sedetik.
Dua detik.
Gerakannya semakin dekat. Bayangan wajah Nayla terlihat jelas, membuatnya semakin merasa tidak nyaman. Tapi, ini harus dilakukan. Karena pegawai hotel tak akan mau melakukannya.
Eryn masih bisa mendengar dengan jelas. Suara deru nafas Devan yang semakin mendekat. Ia tidak sabar mendapat sentuhan itu. Tapi kemudian,
"Berhenti!"
Devan menoleh. Saking paniknya dia tadi hingga melupakan seseorang yang harusnya berada di sini.
'Bagas? Alhamdulillah ya Allah' Devan membatin. Ia lalu beringsut berdiri menjauhi Eryn dan kerumunan orang.
Bagas panik, dilihatnya Eryn yang tak sadarkan diri. Tanpa menunggu lama, ia lalu mencoba memberi bantuan nafas. Saat hendak melakukannya. Tiba-tiba saja Eryn tersedak. Ia membelalakkan kedua matanya.
'Aaarg, sialan!' Eryn memaki dalam hati.
💕💕💕💕💕
__ADS_1