
"Dia, direhabilitasi?" tanyaku memastikan. Bagas menganggukkan kepala. Ia lalu menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Semoga dia bisa sembuh," lirih Bagas.
"Udahlah, ga usah terlalu dipikir. Masih banyak gadis lain. Bukankah patah satu tumbuh seribu?" Aku berjalan mendekati Bagas. Mengepalkan tangan kanan ke atas, memberinya semangat.
Dia mengernyit. Tatapannya itu memandang cukup aneh.
"Oke, fine! Aku baik kok," ujarnya kemudian.
Ah lega sekali kalau sudah begini. Mungkin akan lebih baik jika kucarikan dia calon kali yah.
***
Rasa lelah seharian bekerja terbayar sudah dengan kembali beristirahat di rumah. Senangnya hati kala melihat jagoanku itu semakin gemas dan gembul saja.
Wajah imutnya membuatku selalu rindu. Ingin mencubit, tapi nggak tega. Ingin menggigit, tapi dia anak sendiri. Ya sudah, gemasnya lari ke Mamahnya saja. Ehh
"Dek," panggilku lirih. Ah rindu sekali rasanya.
Nayla menoleh, gerakan melipat bajunya terhenti saat aku mencubit gemas pipinya. Dia sibuk merapikan baju Hadziq di dalam lemari. Sementara jagoanku sedang tertidur, aku ingin menghabiskan waktu berdua saja bersama Nayla.
"Ihh Mas Devan mah!" Ia mengusapnya.
__ADS_1
"Gemes ihh, makin chubhy gini," godaku. Nayla cemberut. Kukira dia akan tersipu malu, tapi sepertinya ekspresinya menunjukkan dia sedang tersinggung.
"Nay gendutan yah," ujarnya kemudian menepuk pipi sendiri.
"Eh, apa?" tanyaku bingung.
"Mas Devan nggak suka yah? atau udah nggak sayang lagi sama Nay?"
Tak lagi kubiarkan ia bicara. Dia semakin saja berpikir macam-macam. Sungguh, setiap hari bahkan setiap detik aku semakin merindukannya.
"Mas rindu," bisikku lembut di telinga kanannya. Nayla mengangguk. Tanpa lagi menunggu izin darinya. Kuraih istriku itu ke dalam gendongan. Menuju tempat peraduan kami, yang telah satu bulan lebih tak tersentuh.
Istriku masih saja pemalu. Mungkin karena telah lama kami tak memadu kasih seperti ini, ia tampak canggung sekali.
"Makasih banyak yah," bisiknya lirih. Suaranya membuatku semakin tergoda. Semakin tak ingin melepasnya. Semakin ingin menikmati malam ini berdua saja dengannya.
"I love you, Sayang."
***
Kulihat dua lembar tiket yang kapan hari Bagas berikan. Harusnya ini miliknya, tiket pesawat untuk liburan bersama Eryn keluar negeri. Tapi, dia tak bisa. Karena hubungan yang kandas. Membuat ia tak lagi ingin memperbaikinya.
Tapi, tiket ini hanya berdua saja. Tentu tak mungkin jika aku hanya mengajak Nayla. Harus ada Mamah juga Hadziq, jagoan kecilku. Sepertinya aku akan membooking tiket pesawat lagi untuk mereka. Yeay! Holiday tiba! Sudah tak sabar lagi rasanya.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum sendiri ihh." Nayla mencubit lembut tanganku. Ia masih saja tak menyadari bahwa ini tiket pesawat. Padahal dulu sudah pernah bersamaku, ke Balikpapan, demi mengejar niat yang tulus untuk bersanding bersama.
"Kita akan liburan, Sayang," ucapku sambil mengelus lembut kepalanya. Nayla tersenyum, ia merespon baik sekali perkataanku. Mungkin, dia juga butuh liburan.
"Tapi, kemana Mas?" tanyanya antusias.
"Andalusia."
"Andalusia? itu dimana? di Kota apa?" tanyanya tanpa jeda.
Astaga! Istriku ini, sejak menjadi ibu lebih cerewet sekali. Tapi, aku sungguh menyukainya. Ia tak lagi canggung, tak lagi takut mengutarakan segala keinginannya. Tak lagi takut akan kebahagiaan sendiri. Sayang, teruslah seperti ini. Jangan pernah menganggap diri sendiri rendah. Dimanapun, kepada siapapun.
"Mas!" tegurnya lagi. Ah, iyah aku bahkan belum menjelaskannya.
"Nanti, Mas jelaskan kalau mau berangkat. Anggap saja ini kejutan," jawabku sambil menatap lekat kedua matanya. Cantik sekali.
"Yaudah, sekarang Mas mau apa?" tanyanya.
"Mau menikmati malam ini bersama-sama, hingga pagi menjelang dan surya menyapa keremangan ..."
"Eh."
__ADS_1