Kepingan Hati

Kepingan Hati
Gadis Polos, Masih Saja!


__ADS_3

Malam yang syahdu telah berlalu dengan sangat indah. Menyisakan senyum, kala mata berbulu lentik itu memandangiku penuh cinta.


"Pagi, Sayangku," bisik Nayla lembut.


"Hari ini mau sarapan sama apa? Nay, mau masakin buat Mas Devan," ujarnya lagi.


Aku masih terlalu nyaman untuk bangkit dari peraduan. Rasanya masih ingin berlama-lama di sini. Bergelung dengan selimut tebal sebagai penghangat diri.


"Udah jam berapa?" tanyaku.


"Udah mau subuh, ayo bangun, ntar ga dapet bidadari surga hayo," goda Nayla lagi. Ia menyibak lembut selimut yang tengah kupakai. Merentangkannya dengan dua tangan, kemudian melipat rapi untuk ia simpan.


"Nggak mau dapet bidadari surga, maunya dapet Nay aja disana," ujarku menimpali. Nayla tersenyum. Ish! manis sekali.


Aku menggeliat pelan, menurunkan kaki untuk menapaki dinginnya lantai kamar.


"Mandi dulu sebelum ke mesjid."


Aku menoleh, melihat wajah istriku itu masih sibuk merapikan ranjang kamar. Ingin kembali menggodanya, mengacak mungkin? tapi, sepertinya ada ide yang lebih menarik lagi.


"Masih ada waktu beberapa menit, kita acak lagi, bagaimana?" godaku sambil menggelitik perutnya. "Seperti semalam," bisikku lagi.


"Ish! Mas Devan, mah! buruan ihh, keburu adzan." Nayla mendorongku ke arah kamar mandi. Melihat ekspresinya malu-malu begitu, menggemaskan sekali.

__ADS_1


***


Sarapan pagi tersaji. Formasi lengkap dengan Mamah yang selalu sibuk menggendong cucunya. Senang sekali melihat mamah seperti ini. Betapa ia menikmati peran barunya sebagai Nenek.


"Mah," panggilku pada mamah.


"Iya, kenapa?" tanyanya sambil mengalihkan padang padaku.


"Devan cemburu."


"Cemburu? kenapa?" Mamah mengernyit. Senyum tipis tergambar di wajah keriputnya. Ah, mamah, sudah semakin menua saja. Membuatku semakin sayang padanya.


"Mas Devan cemburu apa?" Nayla mendongak. Ia yang sedari tadi sibuk mengoles selai di atas roti ternyata mendengarkan juga pembicaraanku dengan mamah.


"Ahahahahahaha, kamu ini ada-ada aja, Van." Mamah tertawa renyah. Ia lalu berjalan mendekat ke arahku. Mengacak rambutku kasar kemudian.


"Ahahahahah, masa cemburu sama anak sendiri." Nayla ikut tertawa. Ia menjulurkan lidahnya, meledek. Meski hanya bercanda, tapi aku malu juga.


Aku menatap jagoan kecilku itu. Ia masih bermain dengan dunianya. Tersenyum sendiri, mengemut jemari, menjulurkan lidah, menggemaskan pokoknya. Aku berdiri mencium lembut pipi Hadziq.


"Anak Ayah seneng yah, banyak yang ngetawain Ayah pagi-pagi gini," ujarku sambil menatap lekat ke arahnya. Wajah itu, kenapa membuatku teringat pada seseorang? Ada secuil rasa sakit tiba-tiba mendera. Teringat kembali pada Ayah. Harusnya ia ada di sini.


"Kenapa, Van?" Mamah menghentakkanku.

__ADS_1


"Nggak papa, Mah. Oh, ya, kunci mobil ada dimana?" tanyaku menatap mamah.


"Tuh, di atas kulkas." Mamah memberi kode menatap kulkas di dapur.


"Mas Devan, kenapa pagi-pagi berangkatnya? tumben ihh," tanya Nayla.


"Mau manasin si putih dulu," jawabku santai sambil berjalan menuju kulkas. Mengambil kunci.


"Nay masakin air dulu, tunggu." Nayla beringsut berdiri. Ia menyusul berjalan menuju dapur.


Eh, apa? air panas? buat apa?


"Buat apa, Nay?" tanyaku sambil meraih pergelangan tangannya. Menahan.


"Katanya mau manasih mobil? berarti pake air panas kan?" Dia menatapku. Astaga! Dia masih saja polos begini.


"Bukan gitu maksudnya, Sayang." Ingin tertawa takut dosa. Nggak tertawa, kok yah lucu sekali istriku ini.


"Hahahahaha, duh Nayla, bukan begitu." Tawa mamah berderai. Nyaris terpingkal mendapati menantunya berucap seperti itu barusan.


"Hehe, Nayla salah yah." Nayla menggaruk kepalanya sendiri yang tak gatal. Malu, mungkin? Kalau tak ada mamah, sudah kucium dia karena ekspresinya itu. Akhirnya aku hanya bisa mengacak rambutnya saja.


"Nayla, Nayla ...."

__ADS_1


***


__ADS_2