
Kalian tau rasanya kehilangan seorang kekasihi? sakit! Lebih sakit lagi kalau ternyata yang kita cintai itu, hanya berpura mencinta, demi memanfaatkan kita. Uh, sadis!
But, itu yang terjadi sama aku. Gadis yang kukira bisa move on itu ternyata sakit jiwa. Eryna. Iyah, gadis itu, E-R-Y-N-A.
Dia mematahkan hati ini, tapi, bukan hanya hati sih, bahkan hubungan yang kujalin bersama keluarganya terpaksa harus kandas tak berbekas.
Aku mencintainya, itu fakta!
Kita berpacaran, itu juga fakta!
Tapi, dia tak mencintaiku, dia tak benar tulus ingin bersamaku, dia tak mengerti betapa aku sangat ingin bersamanya. Itu juga Fakta!
Devan! Devan! Devan terus yang ia sebut!
Tapi, meski begitu, kenapa hati ini tak juga berhenti mengharapkannya. Selalu yakin bahwa kelak ia akan menerimaku. Maksudku benar-benar menerimaku.
"Aaaaarrrrggghhh!"
Kenapa, sekarang aku hanya dilihat sebagai bayangan Devan saja?
Mamah selalu membanggakan keponakannya itu, tapi terhadapku? Tidak sama sekali.
__ADS_1
tirulah Devan, dia bisa bangun dari keterpurukan.
lihatlah Devan, dia mampu berdiri meski tanpa Ayah di sisinya!
belajarlah dari Devan, dia berhasil dalam karir juga rumah tangganya!
Devan terus! Devan lagi! lagi-lagi Devan yang disebut! Hey, dia bisa begitu juga karena aku! karena modalku! mereka seolah lupa, bahwa di balik kesuksesannya ada aku yang membantu.
Kesal sekali rasanya. Ingin kutumpahkan segalanya. Aku pengecut, memang. Tak berani mengatakan terus terang. Entahlah, aku tak suka dengan keadaan ini. Setiap hari, selalu saja dia yang bersinar. Aku hanya bayangannya. Benar-benar bayangannya. Tak terlihat dimata siapapun.
***
Kulajukan mobil secepat mungkin. Sejak putus dengan Eryn, aku jadi sering keluyuran. Entah nge Gym, entah futsal, atau sekadar berjalan-jalan diluar menghabiskan bensin. Lumayan, cuci mata.
Aku malas kalau sudah dikantor. Melihat Devan, rasanya memuakkan sekali. Jika dibilang benci, enggak juga. Tapi dibilang tak suka, Iyah, itu benar sekali. Dia selalu lebih dipandang di atasku. Entahlah, aku sepertinya cemburu.
"Tinn! Tinnn!" kupencet bel mobil berkali-kali. Aku baru saja keluar membeli makanan untuk kubawa pulang. Saat mobil hendak bergerak, kulihat ada seorang pemuda sedang berdiri mematung tepat di depan mobilku.
"Tinn!!! Tin!" kembali kupencet berulang. Ya Tuhan, lelaki ini tak juga mau menepi.
Tak sabar, aku harus segera pulang. Ini sudah lewat jam lima sore. Emosi rasanya! Bergegas aku menuruni mobil. Sialnya lagi, justru tanpa sengaja tangan ini membuat mobil bergerak kedepan.
__ADS_1
"Braaaakkkk!" Aku terperanjat. langsung kumatikan mesin dan berlari keluar mobil.
"Ya Allah, Astaghfirullah!" kudengar suara orang memekik. Aku tak fokus melihat karena tangan ini sibuk membantu berdiri orang yang tak sengaja kutabrak tadi.
"Ya Allah! Aden!" Lagi-lagi suara itu menjerit histeris. lalu sigap meraih pemuda yang kutabrak tadi.
"What the-"
Ish, cantiknya ....
"Denger gak sih!" suara itu kembali membentak.
Gadis berkerudung biru, dia ... cantik sekali.
"Mentang-mentang orang kaya!" Ia mendengus kesal. Ya Tuhan, dia tadi ngomong apa aja?! Aku sama sekali tak mendengar. Fokus dengan wajah mungil itu, dia ... Eh, dimana yang kutabrak tadi? Astaghfirullah.
"Maaf, teh," ucapku. Lalu dengan secepat kilat berlari menuju mobil, kembali.
"Hey! Tanggung jawab!" kudenggar ia masih berteriak.
Dan aku justru kabur meninggalkan mereka. Ya Allah! Aku takut sekali!
__ADS_1