Kepingan Hati

Kepingan Hati
Pov Rani


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak kejadian kecelakaan itu. Mas Rahman masih saja belum sadar. Bahkan sekadar memastikan pergerakannya saja, belum pernah kulihat sedikitpun.


Aku sangat mencintai suamiku. Menyayanginya sama seperti ia menyayangiku. Namun, kondisi yang seperti ini membuatku tak nyaman. Saat harus berdua bergantian menjaga Mas Rahman bersama Devan.


Aku tahu batasanku. Dan dia juga tahu batasannya. Tapi, bukam berarti hati ini bisa terjaga. Kadang terselip rasa gemuruh saat melihat kembali parasnya.


Allahu Rabbi. Ampuni hamba yang tak mampu menjaga hati.


***


Kuraih gawai di dalam saku gamis. Menghubungi Bibi di rumah untuk menanyakan kabar Cinta. Putriku, permata hatiku. Gelak tawanya menjadi pengobat rindu. Kala sepi melanda dan harus menahan duka saat menjaga Mas Rahman sendiri.


"Assalamualaikum, Bibi."


"Wa alaikumussalam, Nduk. Kebetulan kamu telvon. Ada Ibumu di sini."


Degh!

__ADS_1


Ibu sedang bersama Bibi? Aku bahkan belum mengabarinya.


"Bibi sudah cerita semuanya, Nduk. Kamu kenapa ndak bilang Ibu?" kudengar suara Ibu sambil sesenggukan. Sepertinya beliau habis menangis. Ya Allah, aku tak enak hati.


"Rani ndak papa, Bu," ucapku menenangkan. Biarlah, ini jalan hidupku. Biar kujalani semampu yang kubisa saat ini.


"Ibu minta maaf," katanya lagi menimpali. "Kalau bukan karena Ibu menikahkanmu sama Rahman. Mungkin nasibmu ndak akan seperti ini, Nduk." Masih terdengar sesenggukkan suara Ibu di seberang.


"Sudah, Bu. Sudahlah."


Aku tak ingin kembali membahas masa lalu. Bukan waktu yang tepat. Toh sesal tak ada guna. Tapi, sejujurnya, aku tak sedikitpun menyesal menikah dengan Mas Rahman. Dia adalah imam yang baik.


"Tok! Tok!" terdengar suara pintu diketuk. Menoleh sebentar. Ada satu wajah terbingkai di depan pintu. Devan. Ia mengulas senyum sambil berjalan masuk ke dalam.


"Mengganggu?" tanyanya. Aku menggeleng. Ia menarik kursi di debelahku. Kedua matanya memandang lekat pada Mas Rahman.


"Gimana, Mas Rahman ada perkembangan?" tanyanya masih tetap menatap suamiku.

__ADS_1


"Belum ada," jawabku singkat. Ada yang mencubit di dalam hati. Sakit. Setiap kali membahas Mas Rahman.


"Aku nggak bisa lama-lama di sini." Devan kembali berbicara. Harusnya juga ia tak di sini. Aku telah keterlaluan melibatkannya.


"Maaf sudah merepotkan," kataku menimpali. Ia menoleh sekilas lalu kembali menatap wajah Mas Rahman. Mengalihkan pandang.


"Bukan begitu, Rani. Maaf, aku ada pekerjaan di Bandung. Lusa, aku balik lagi ke sini," ucapnya menjelaskan. Lusa? Tidak. Tidak perlu, sudah banyak hal yang telah ia berikan. Biaya rumah sakit untuk Mas Rahman sudah memberatkannya. Belum lagi kasus ayah mertua.


"Kamu jangan berpikir macam-macam," ucapnya lagi. Mungkin ia melihat kegusaranku. "Aku melakukan semuanya untuk Mas Rahman. Bagaimanapun, dia saudaraku. Juga untuk Ayahku." Kulirik Devan tersenyum.


Kamu sudah terlalu baik, Van.


"Kamu, hubungilah keluarga yang lain. Jika perlu, sewa orang untuk gantian berjaga. Kau butuh istirahat juga. Jangan banyak pikiran." Devan membesarkan hatiku. Rasanya ingin menangis sesenggukkan. Ini terlampau sakit. Saat harus meminta tolong pada orang yang pernah di sakiti. Sangat menyesakkan.


"Terima kasih banyak," ucapku sambil mengusap sudut mata. Setitik air tiba-tiba saja keluar. Hati ini sangat rapuh.


Bukan karena hati yang tak tau diri. Bukan pula tentang rasa yang harus terkubur dalam. Tapi ini karena rasa sungkan. Rasa tak enak diri meski aku tak terlibat dalam keretakan hubungan orang tua Devan.

__ADS_1


Nyatanya aku terlibat dan menjadi bagian di dalamnya.


__ADS_2