
Lima menit telah berlalu dan suara tangisan di kamar Devan tak juga kunjung mereda.
Gadis itu duduk sambil memeluk lutut sendiri, dengan rambut tergerai yang menutup sebagian wajahnya.
"Udah nggak papa, Sayang." Kembali Devan mencoba menenangkan. Tapi gadis di depannya itu masih menyalahkan diri sendiri.
"Apakah aku menikahmu hanya untuk hal itu?" Devan menyingkap rambut Nayla. Meraih dagu gadis itu, lalu menatap dengan lekat ke arahnya.
"Tapi, kupikir Mas Devan juga, emm," ucap Nayla menggantung.
Astaga! Jadi dia berpikir aku kebelet gitu? Jangan-jangan emak-emak readers juga berpikiran sama!
"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam. Aku bisa menunggu, Sayang," ujar Devan kembali meyakinkan. Nayla mengangguk dengan muka yang masih sembab.
"Bersiaplah, kita harus ke minimarket sekarang." Devan mengecup kening Nayla. Ia lalu menuntun gadis itu menuruni ranjang.
Tarik napas,
Pelan,
Hembuskan!
Huft!
Oke, Pms!
You know lah! Aaargh!!
💕💕💕💕💕
Cafe Carita pukul 14.00
Dua tangan saling menggenggam. Duduk berhadapan, sambil tersenyum dan saling memandang.
"Percayalah, aku sayang banget sama kamu, Ryn." Bagas memandang lekat. Meyakinkan pada gadis di depannya itu jika ia bisa lebih baik dari Devan.
"Aku tau," jawab Eryn sambil tersenyum tipis.
"Aku harus apa biar kamu benar-benar percaya?"
Eryn memandang lekat. Kemudian memberikan senyum menggoda pada Bagas. Di usapnya jemari pemuda yang sedari tadi menggenggamnya itu. Kepalanya sudah terisi penuh dengan banyak rencana. Tapi, ia harus menunggu untuk bisa terealisasi. Sedikit bersabar, tidak mengapalah.
"Udahlah, aku percaya kamu, Beibz," desahnya manja.
💕💕💕💕💕
Denting sendok beradu dengan piring. Makanan yang dari tadi tersaji, rasanya menjadi hambar. Tak selera untuk di sentuh. Pasangan pengantin baru yang malu-malu kucing, membuat pandangan Mamah Devan tergelitik.
Dilihatnya putra kesayangannya itu. Sesuap nasipun tak kunjung dimakannya. Lebih tergelitik lagi, saat putranya itu memasukkan begitu banyak kecap di kuah soto ayamnya.
"Yo nggak enak tho, Van. Itu kecap meni banyak gitu," celetuknya kemudian. Sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya.
Sontak saja semua menoleh. "Emang Devan suka kok, biar manis kaya cinta kita. Iyah kan, Nay?" Devan menaik turunkan alisnya. Sedangkan Nayla merunduk malu, melihat tingkah konyol suaminya itu.
Rani dan Rahman saling pandang. Teringat kembali masa-masa kala pengantin baru. Mereka juga pernah merasakannya. Dan itu, membuat mereka sama-sama tersipu malu.
💕💕💕💕💕
Malam semakin larut, udara dingin khas kota Bandung membuat tubuh Nayla yang berbalut kain tipis menggigil. Berdiri sambil memandang jauh keremangan malam. Di balkon kamar milik Devan, ia mendadak saja teringat rumahnya. Bahkan rasa-rasanya, ini semua seperti sebuah mimpi.
Pemuda itu, meski sudah berkali ia menghindarinya. Ternyata kini, telah resmi menjadi suaminya.
"Dasar keras kepala," lirihnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Angin bertiup pelan, membelai lembut pipi juga untaian rambut yang tergerai milik Nayla. Gadis itu terpejam, ia sangat bahagia sekali. Harapannya, semoga tak ada lagi masalah rumah tangga, yang membuat ia harus kehilangan sang kekasih hati. Ia takut membayangkan itu. Tak ingin kehilangan seperti ia harus kehilangan Ibu dan Bapaknya.
Nafasnya tercekat, saat tiba-tiba merasakan sebuah gerakan halus merengkuhnya dari belakang. Nayla tersenyum dengan tanpa sedikitpun membuka kedua matanya. Membiarkan sang pemilik, mengambil apa yang telah menjadi haknya.
Dua tangan melingkar di perut, di susul dekapan yang menghangatkan.
"I love you," suara itu berbisik. Pemuda yang membuatnya terjatuh dalam kubangan cinta dan kasih sayang.
Dirasakannya sapuan lembut di pelipis kanan. Kemudian turun ke bawah, menuju pipi miliknya yang putih lagi bersemu merah.
Perlahan ia membuka mata. Kemudian mengikuti gerakan tubuh yang membuatnya harus berbalik.
"Makasih banyak, Mas." Dipandanginya lelaki di depannya itu. Kedua matanya memandang lembut penuh kasih sayang.
Detik berikutnya keduanya sama-sama tenggelam dalam sentuhan masing-masing. Bahasa bibir yang mengisyaratkan cinta dan kasih sayang. Dalam hubungan yang indah lagi halal.
"Ummh ... udah malem," Nayla melepas pagutan. Nafasnya tersengal. Angin malam dirasa semakin dingin menusuk tulang.
"Iyah, Sayang." Dituntunnya gadis itu dari balkon menuju ranjang.
"Besok, kita ke Wa Odah yah?"
"Ngapain?" tanya Nayla penasaran.
Devan tersenyum, dibelainya rambut hitam lurus milik Nayla dengan lembut.
"Sudah besok saja. Sekarang waktunya tidur."
"Eh tapi, kan mau fitting baju pengantin?"
"Bisa di atur, Sayang."
💕💕💕💕💕
Pagi hari di sambut dengan ceria. Langkah kaki terasa ringan. Pundak yang lapang, tanpa merasa sedikitpun ada beban.
Hari ini akan terasa sangat sibuk. Karena Devan dan Nayla, harus mengurusi begitu banyak persiapan untuk resepsi akhir pekan.
Devan selalu ingin memberikan yang terbaik, terspesial, juga terindah untuk Nayla, istrinya.
"Beneran mau ditinggalin di sini?" tanya Devan.
"Iyah, Mas. Ini kan rumah Nay," jawab Nayla.
"Yasudah, Mas pergi kerja dulu yah?"
"Muhun," sahut Nayla lirih. Ia lalu mencium punggung tangan suaminya sebelum turun dari mobil.
"Eh, tunggu!" seru Devan kemudian mengecup pipi Nayla pelan.
"Ihh, Mas Devan mah!" Gadis itu tersipu malu. Selalu saja mencuri kesempatan.
💕💕💕💕💕
Devan sedang sibuk menyiapkan berkas laporan. Ia harus membuat format baru untuk dikirim ke pusat. Data penjualan akhir-akhir ini merangkak tajam. Kadang ia berpikir bahwa ini terlalu menakjubkan untuk bisnisnya, yang dulu sempat dinilai receh.
"Permisi!" terdengar suara seseorang masuk. Seketika ia menghentikan aktivitasnya. Kepalanya mendongak, menatap dari arah pintu kantor yang lupa belum ditutup.
Astaga! Eryn? pekiknya dalam hati.
"Sibuk nggak A?" tanya gadis itu kemudian tanpa diberi izin duduk di sofa depan meja kerja Devan.
"Sibuk," jawab Devan cuek. Ia lalu kembali berkutat dengan laptop juga laporannya.
__ADS_1
"Aa," panggil Eryn lirih.
"Kenapa? Bagas gak ke kantor hari ini. Kamu pergilah! Aku sedang sibuk!" ketus Devan mengusir.
Bukannya pergi. Eryn justru mendekat. Ia melenggak-lenggok dengan menurunkan syal yang membelit lehernya. Sebentar saja dia sudah berada di samping Devan.
"Aa, tau nggak sih, betapa aku sangat menginginkan Aa," lirih Eryn bersuara. Jemarinya mengelus lembut krah kemeja milik Devan.
"Gak sopan!" Devan menepis kasar. Ia sungguh tidak nyaman bersama gadis yang sangat agresif seperti Eryn. Ia lalu berdiri dari tempat duduknya. Namun, pelukan Eryn yang tiba-tiba justru membutnya terjerembab ke belakang.
"Eryn!" Merah muka Devan karena marah. Di dorongnya tubuh sintal milik Eryn kemudian dengan cepat ia berjalan ke arah pintu.
"Kamu pergilah!" titah Devan sambil membukakan pintu.
"Oh, Ok!" Eryn berjalan keluar. Jemari tangannya menggenggam sesuatu. Helaian rambut Devan yang tercerabut.
Gadis itu berjalan tenang sambil kemudian tersenyum sinis meninggalkan ruangan.
💕💕💕💕💕
Pulang kerja Devan tak langsung menuju rumah. Ia harus menjemput dulu istrinya di rumah lama. Devan tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepala. Ia lalu berjalan pelan melewati gang yang selalu mengingatkan akan kenangannya bersama Nayla.
"Assalamualaykum," ucap Devan sebelum masuk ke dalam rumah. Sepi, kosong, tak ada jawaban.
"Mas! Di sini!" Suara Nayla memanggil dari rumah sebelah. Yang tak lain adalah rumah Uwa Odah.
Dilihatnya wa Odah tersenyum menggoda di samping Nayla.
"Ciyeeee, udah resmi nihh yee," ujar perempuan setengah baya itu.
Devan tersenyum salah tingkah. Ah, beruntung sekali ia. Perempuan itu telah begitu banyak membantu. Menjadi sumber informasi yang dulu tak dimengertinya tentang Nayla.
"Mas Devan jahat!"
Nanar Nayla memandang. Kedua matanya telah basah sejak tadi. Mendengar penuturan Wa Odah, sebelum Devan terlebih dulu melamarnya.
💕💕💕💕💕
Kamar adalah tempat pribadi yang paling nyaman. Tempat berbagi kasih. Tempat bercerita bersama sang kekasih hati. Tempat menghilangkan penat juga lelah yang ada.
"Mas," panggil Nayla lembut. Sambil memainkan jemari tangan Devan yang memilin tangannya.
"Iyah?"
"Nanti pas kita nikahan, Mbak Rani sama Mas Rahman udah pulang, yah?" tanya gadis itu lagi.
Devan diam tak menjawab. Ia melepas pilinan tangan kemudian membelai lembut rambut Nayla.
"Mas, naha ihh ngga jawab," protes Nayla sambil mendongakkan kepala. Menatap lekat wajah suaminya itu.
"Iyah, mereka udah pulang. Udah dua minggu disini. Mas Rahman kan harus balik kerja," papar Devan menjelaskan.
"Nay mau nanya boleh?" tanya Nayla lagi.
"Iyah, apa?" Devan mengernyit. Ditatapnya manik coklat milik Nayla. Betapa banyak rasa sayang untuknya saat ini.
"Jadi, Mbak Rani peremp ... umhh,"
Kalimat Nayla terpotong. Devan tak memberinya jeda. Suaminya itu sedetikpun tak melepasnya.
"Jangan sebut nama orang lain di antara kita," bisik Devan lirih. Ia lalu memeluk erat Nayla. Cukup Nayla. Bukan yang lain!
💕💕💕💕💕
__ADS_1