
Pov Devan
Kadang aku sendiri merasa aneh, melihat perlakuan Paman dan Bibi Nayla selama kami di sini. Seperti nggak ada seneng-senengnya. Padahal, Nayla keponakan mereka sendiri. Selalu aja menekuk muka atau menatap kami dengan pandangan tak suka.
"Kami pamit," ujar Nayla kepada Paman dan Bibinya. Mereka lalu bersalaman sebentar kemudian dengan segera menutup kasar pintu rumah.
"Apa setiap kamu pulang, mereka selalu begitu, Nay?" tanyaku heran.
Gadis itu mengangguk. Bisa kulihat raut muka kesedihan milik Nayla. Ia seperti tidak diinginkan.
"Udahlah, jangan cemberut gitu. Ntar aku gelitikin hayo," godaku sambil mencolek perutnya.
Dia tertawa, ah cantik sekali istriku ini. Membuatku tidak sabar, ingin segera kembali ke Bandung.
Aku dan Nayla melangkah bersama. Jika kemarin kami datang dengan jalan saling berjauhan. Tidak dengan sekarang, kedua tangan kami, bahkan saling menggenggam satu sama lain.
"I love you, Sayang," bisikku sambil mengerlingkan sebelah mata padanya.
Astaga! Sepertinya penyakit lamaku kambuh lagi. Tebar pesona pada istri sendiri!
💕💕💕💕💕
Dari banyaknya kerumunan para pengunjung Bandara Hussein Sastranegara. Tampak seorang gadis dengan celana jeans, dan jaket tebal yang menutupi tubuhnya. Gadis itu memakai sepatu boot mahal. Berlapis kulit yang mengkilap. Ia berdiri tepat di dekat pintu kedatangan penumpang. Pandangannya yang nyalang tertutup dengan kaca mata hitam. Sehitam hatinya yang terbakar.
Dadanya naik turun menahan emosi. Dalam benaknya, sudah terbayang aksi apa yang harus ia lakukan. Mencakar? menjambak? atau mencekik pada gadis yang tengah menggelayut manja di lengan lelaki yang sudah membuatnya frustasi. Ia meremas selebaran kertas yang tadinya ia baca. Penuh amarah, cemburu juga sakit hati.
"Hey, Beb udah keliatan mereka belum?" suara disampingnya mengejutkan. Ia lalu memasang senyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Tuh, ada di sana." Tunjuknya dengan satu jemari tangan.
Lelaki itu kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk. Ia lalu celingukan, mencari di antara kerumunan orang yang baru saja datang.
"Devan!" serunya memanggil.
Yang dipanggil seketika menatapnya. Kemudian memberi senyum terkembang sambil berjalan menuju tempat suara datang.
"Selamet Bro! Ahahahah, kawin juga akhirnya," celetuk Bagas sambil memeluk Devan.
"Ish! Kamu mah!" Devan menepuk punggung Bagas sambil membalas pelukannya. Ia terkejut saat mendapati Eryn tengah menaikkan kaca mata ke atas kepala. Gadis itu menarik senyum ke samping. Sambil menatap tajam ke arah Devan.
"Itu ada Eryn, ngapain dia?" bisik Devan pada Bagas. Ia lalu melepas pelukannya.
"Dia udah jinak." Bagas nyengir.
💕💕💕💕💕
Kedatangan Devan dan Nayla di rumah disambut penuh haru dan suka cita. Rani, Mas Rahman juga Mamah Devan memberi ucapan doa dan selamat pada keduanya.
"Kalian mandilah dulu terus makan siang. Nanti sore ada WO yang mau kesini. Mamah udah siapin semuanya, kalian tinggal diskusi aja," ujar Mamah Devan.
Setelah meminta izin. Keduanya kemudian berlalu menuju kamar atas. Tempat dimana Devan terbiasa menghilangkan rasa kantuk juga lelahnya.
Saat melewati lemari besar pembatas ruang keluarga. Devan teringat kejadian konyol yang dipergoki mamahnya kala itu. Ia lalu tersenyum geli.
"Kenapa, Mas?" Nayla bertanya. Heran melihat suaminya senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Grab!"
Dipeluknya gadis itu dalam rengkuhan. Nayla terkejut, ia panik. Ingin berontak karena khawatir ada yang melihat mereka. Tapi kemudian gerakan tiba-tiba di bibirnya membuat ia tercekat. Juga mendelik.
"Hey! Bisa nggak kalo nggak mendelik," ujar Devan setelah menarik kembali bibirnya. Senang sekali melihat ekspresi Nayla yang terkejut. Ia lalu mengusap bibirnya yang masih basah.
"Ini kan di tempat umum, Mas," lirih Nayla sambil tersenyum malu.
"Yasudah kita ke kamar aja!" Devan membisik. Sambil kemudian meraih istrinya itu kedalam gendongan.
"Mas!" Nayla terkejut. Ia memeluk erat karena takut terjatuh.
"Ringan sekali, Sayang," ujar Devan sambil melangkah menaiki anak tangga.
"Klek." Pintu terbuka. Dipandanginya istrinya itu yang masih bersandar erat di dadanya. Berkali Devan mengecup puncak hijab Nayla. Ia sangat menyayanginya.
Pelan, ia lalu merebahkan gadis itu di atas ranjang.
"Mas," panggil Nayla. Kedua matanya terkunci dengan manik hitam yang jernih milik Devan.
"Iyah kenapa?" tanya Devan sambil mengusap lembut pipi Nayla. Sedetikpun ia tak ingin mengalihkan pandangan dari paras cantik istrinya.
"Aku ... ke air dulu yah," ucap Nayla gusar. Devan tersenyum, ia lalu mengangguk sambil menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal.
"Jangan lama-lama yah," ujar Devan. "Mas juga mau ngunci pintu dulu, takut di grebek sama emak-emak KBM."
💕💕💕💕💕
__ADS_1