Kepingan Hati

Kepingan Hati
Flashback


__ADS_3

Kehidupan itu terkadang begitu rumit. Harta benda yang melimpah ternyata belum tentu mampu memberikan ketenangan hati. Setiap insan berlomba mengejar materi, meski terkadang melupakan banyak waktu yang teramat berarti. Hiruk pikuk kehidupan menjadi menu keseharian, dan dalam setiap rumah tangga selalu ada drama di dalamnya.


Denting jam menunjukkan pukul enam pagi. Seperti biasa asisten rumah tangga selalu menyiapkan segala kebutuhan tuannya. Mbok Pinah, asisten yang telah lama dipercaya oleh keluarga Afif. Dengan sangat pelan mengetuk pintu kayu dengan ukiran melingkar yang membentuk sebuah nama. Devan.


"Tokk..tokk..!Mas, sudah jam enam mas!" Teriaknya di balik daun pintu.


Lelaki yang bersembunyi di bawah selimut menggeliat pelan. Menajamkan pendengarannya. Ia mengerjap pelan. Menetralkan kedua matanya dengan cahaya matahari yang menyusup ke dalam beningnya jendela kamar.


"Mas!! Tokk...tokk..tokk!!!" Kembali suara itu memekik. Ketukannya menjadi sangat keras.


Yang dipanggil mulai mengumpulkan kesadarannya. Ia lalu bangkit menuruni ranjang dengan tergesa. Ia hafal betul simboknya itu tidak akan menyerah membangunkannya. Sebelum gendang telinga itu sakit, ia bergegas membuka pintu.


"Aaaarrrgh..." ia merentangkan kedua tangannya. Menggeliat khas orang bangun tidur. Matanya masih teramat berat dirasa.


"Jam berapa ini, mbok?" Tanyanya begitu pintu terbuka.


"Jam enam, Mas."


"Jam enam?"


"Iyah,"


"Mas kan mau ada jadwal ke kabupaten sebelah? Mau minta izin knn atau apa itu simbok lupa," terkekeh mbok Pinah menyebutnya.


"Astaga! Iyah mbok," Devan menepuk jidatnya sendiri. Lupa akan janjinya dengan Beni, sahabat di kampusnya. Rencana ia mengunjungi kabupaten sebelah sama sekali tak ia ingat. Hari ini ia yang kebagian tugas meminta izin tempat untuk KKN.


Devan menyembulkan kepalanya keluar pintu kamar. Menoleh kekiri dan kekanan seolah mencari sesuatu.


"Ayah sama mamah udah pergi, mbok?" Tanyanya cemas.


"Udah, mas. Biasa Ibu sama Bapak sudah berangkat pagi-pagi."


"Ehm, kunci mobil dimana?" Tanyanya lagi.


"Ada sama mbok. Ini tadi Bapak nitip, barangkali mas Devan mau pake." Di sodorkannya sebuah kunci bergantung buah anggur ke tangan Devan. Sigap ia menerimanya lalu memberi senyum pada simbok.


"Makasih yah mbok. Saya mau mandi dulu." Ucapnya kemudian menutup pintu.


Hidup di tengah keluarga yang berkecukupan membuat hidupnya sangat mudah. Kedua orang tuanya sibuk bekerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Membuat ia sangat bebas melakukan segala kehendaknya.


Lembaran merah tak pernah sepi dari dompetnya. Rekening yang setiap minggu terisi, membuat ia terlena dalam buaian materi.


Devan, pemuda yang hidup dalam keluarga berkecukupan. Fisik rupawan menjadikannya sangat lihai memainkan gadis-gadis yang ia inginkan. Tak pernah melibatkan hati, karena baginya itu hanya sebuah kesenangan. Karena sejatinya, ia haus akan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.

__ADS_1


Ia juga memiliki banyak teman. Selain ia royal kepada siapapun, ia juga tak pernah memilih dalam berkawan. Meski statusnya di antara teman kuliah sangat berbeda. Ia dikenal sebagai anak orang berada.


[Bro, udah dimana?] Satu pesan terkirim. Centang biru menunjukkan pesan telah dibaca. Tak lama ia melihat dibawah foto profil itu terdapat tulisan 'sedang mengetik'.


[Langsung kelokasi aja, udah mepet nihh waktunya. Anak-anak udah pada kumpul.] Balasan di terima. Ia terbelalak saat membaca.


'Astaga, tempatnya aja nggak tau.' Ia membatin.


[Sharelok] lagi ia mengirim.


Selang beberapa lama sebuah pesan kembali masuk. Terlihat sebuah peta di sana.


[Oke meluncur] ia membalas cepat.


Tak menunggu waktu lama ia mengekor pada setiap tanda sang penunjuk arah. Mobil yang ia kendarai, melesat cepat di atas jalan raya.


* * * * *


[Bro, dimana? Kayaknya nyasar nihh.] Devan mengirim pesan kepada Beni.


[Posisi dimana sekarang?] Ia juga mengirim pesan pada Vinri.


Dilihatnya sekali lagi layar gawai di tangan. Centang dua dan sama-sama berwarna biru.


Sedetik,


Dua detik,


Tersambung.


"Kalian pada dimana sih? Nggak salah ngirim lokasi?" Cerocos Devan begitu panggilan tersambung.


"Bener bro disini tempatnya. Emang posisi dimana sekarang?" Dari seberang suara Beni menyahut.


"Pom bensin nih, mobil gak bisa masuk!"


"Emang gak ada askes buat mobil masuk kesini."


'Sial! Udah jauh dari jalan raya, askes untuk mobil masuk kedalam pun nggak ada.' Devan membatin.


"Trus kedalemnya gimana dong?" Devan kembali bertanya. Frustasi memikirkan nasib KKN nya kedepan.


"Ada jalan tembusan, tapi ngelewatin jalan kampung penghubung."

__ADS_1


Lebih ribet lagi, pikir Devan.


"Cari lokasi lain napa, kenapa musti di tempat udik kaya gini sih." Dengkusnya kesal.


"Udah di acc nih sama kepala desanya. Kita ini tim, saling menghargai lah kerja keras yang lain. Vinri udah susah payah nihh ngelobi beberapa warga tadi. Nyari tempat buat KKN gak gampang, Bro! Lagian salah sendiri kenapa pake telat. Ini desa, bukan kota." Beni setengah berteriak, ia sedikit kesal bercampur emosi.


Temannya itu jika sudah mulai meledak, rasanya males meladeni.


"Oke, tunggu disana."


Devan mengakhiri percakapan. Ia lalu menutup telvon dan kembali mengikuti arahan yang diberikan.


"Pengabdian sih pengabdian, tapi kenapa musti lokasi yang seperti ini," gumam Devan sendiri.


Ia hanya tidak tau, jika kelak hatinya akan tertambat disana.


* * * * *


Sebenarnya jarak menuju desa yang dituju Devan tidaklah jauh. Ia hanya harus berputar arah, masuk ke desa lain, yang terdapat jalan penghubung menuju kesana.


Desa tujuannya bernama desa Ambengan. Yang jika ingin menempuh masuk ke Desa itu, ia harus melalui desa sebelahnya yaitu desa Ambeng-Ambeng. Desa di dalam Desa, begitulah warga menyebutnya.


Sesaat setelah ia menjumpai sebuah masjid berkubah biru, ia menepikan mobilnya di sana. Melihat-lihat sekeliling lalu merangsek masuk ke halaman untuk parkir.


Dilihatnya sesebapak berpawakan kurus dengan kulit yang hitam tengah menyapu pelataran masjid. Ia pun mematikan mesin dan turun menghampirinya. Meminta izin kepada pria itu, yang ia kira sebagai marbot masjid, untuk menitipkan mobilnya barang sebentar.


Tak lupa ia menunjukkan alamat di layar gawainya, meminta info sekiranya bapak itu tau lokasi yang Devan tuju.


Pria itu mengangguk sembari menunjuk-nunjuk memberi arah kemana Devan harus berjalan. Tak butuh lama bagi Devan untuk menyerap informasi, ia lalu paham dan berpamitan setelah sebelumnya berterima kasih lebih dahulu.


Ia menjejakkan kakinya keluar halaman masjid. Mantap melangkahkan kakinya setelah terlebih dahulu menyambar jaket berwarna biru muda yang berlogo universitas dimana ia menimba ilmu.


Sepanjang jalan ia memperhatikan, nuansa alam di desa Ambengan terasa jauh berbeda, tak seperti biasa saat ia tinggal di kota. Berjalan santai dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku. Kedua headset telah terpasang di kedua lubang telinganya. Sesekali ia bersiul dan berdendang mengikuti lagu yang ia putar.


Ia mengamati sekeliling, jalan yang dikiri kanannya itu berjajar pohon-pohon besar. Begitu subur dan rindang. Sejauh pandangan matanya menyisir, tampak hamparan sawah luas terbentang.


Tak jarang ia berpapasan dengan para gadis yang berjalan berlawanan, lalu kemudian berbisik-bisik sembari terus memperhatikan.


Maka semakin pede lah Devan. Melihat kekaguman para gadis-gadis yang di anggapnya kampungan.


Ia lalu melemparkan senyum menggodanya kepada gadis-gadis itu guna tebar pesona. Ia sadar, paras menawannya mampu memikat hati siapapun yang melihat. Dan baginya, itu hanya sebuah kesenangan semata.


Dengan sombong dalam hati ia berbisik, "Bukan selevel."

__ADS_1


__ADS_2