
Terik sang surya di siang hari, membuat silau setiap pandangan mata yang memandang. Sejak tengah hari, pemuda berhidung mancung itu telah menunggu sangat lama. Hari ini, ada tuntutan pekerjaan yang membuat ia harus meninggalkan rumah. Pekerjaan untuk bernegosiasi dengan salah satu investor terbesar di kota Bogor.
Dibandingkan Bagas, Devan jelas lebih mahir dalam hal satu ini. Pembawaannya yang mampu mencairkan segala suasana, juga caranya dalam berbicara, membuat ia lebih mudah dipercaya untuk mendapat amanah.
Kali ini, ia merasa bahwa ini adalah proyek terbesar yang pernah ia garap. Jika menjalin kerja sama dengan pabrik-pabrik ia sudah terbiasa, maka kali ini rasanya jauh berbeda. Melobi seorang untuk berinvestasi di perusahaannya, membuat ia harus bersiap dengan segala konsekuensi dan kemungkinan yang tiba-tiba saja ada. Karena jelas saja, bukan nominal rupiah yang sedikit. Ia harus bersiap dengan resiko terburuk di depan.
Berjabatnya kedua tangan menjadi bukti. Bahwa kerja sama telah terjalin dengan sangat baik. Dua lelaki yang terpaut usia sangat jauh itu, sama-sama menarik segaris senyum, lalu saling memeluk layaknya kerabat dekat.
💕💕💕💕💕
Devan tersenyum sambil melangkahkan kakinya keluar kantor Pak Hanan, sang investor. Tadinya, Devan berpikir, bahwa apa yang ia lakukan akan terasa sulit, tapi ternyata tidak. Semua seperti memberinya begitu banyak kemudahan. Ah, lagi-lagi ia harus merasa sangat bersyukur.
Kembali ia melangkah menuruni anak tangga. Lalu sekejap saja, sudah bertengger kaca mata hitam yang di topang hidung mancungnya. Jam dua masih terasa panas, tak ingin silau matahari menyakiti pandangannya.
Masih sambil berjalan, ia lalu meraih gawai dari balik saku celana, mengirim pesan kepada rekan kerjanya, Bagas.
[Sukses, Bro, emot jempol] Pesan terkirim, lalu sebentar saja terlihat kedua centang berwarna biru.
[Good job] Balasan dari Bagas.
💕💕💕💕💕
Fortuner putih milik Devan, perlahan keluar dari tempat parkir kendaraan. Ia lalu menyelipkan earphone di kedua telinga, memutar lagu untuk menghilangkan penatnya. Ia terburu hendak menuju hotel yang di sediakan perusahaan Pak Hanan. Selain sudah gerah ingin mandi, dia juga cukup lapar saat ini.
💕💕💕💕💕
Devan mengecap dan menikmati setiap irisan daging steak yang ia masukkan kedalam mulutnya. Sesekali ia menyelingi dengan baked potato wedges atau aneka sayuran rebus yang di cocol dengan sambal yang tersedia. Wortel dan buncis sebagai pilihan, selain segar di mulut, warnanya yang cantik membuat sensasi makan lebih menarik. Setelah menghabiskan makanan itu, ia meraih segelas air putih, guna menetralkan mulut juga tenggorokannya.
Kala ia meneguk air, pandangannya seakan terusik. Kedua matanyamenangkap seorang gadis,tengah duduk sambil menyilangkan kaki tak jauh dari tempat ia makan, gadis itu memberinya tatapan yang sulit untuk di gambarkan.
Devan kembali meletakkan gelas yang hampir tandas isinya. Lalu memicingkan kedua mata, menatap lebih jelas ke arah subyek yang tak jauh di depannya.
Wajah yang dikenalinya itu kemudian menarik segaris senyuman. Gadis yang dulu sempat di pilihkan Mamahnya itu berdiri dari tempatnya. Rambut lurusnya jatuh di atas kedua bahu yang terbuka. Pakaian berwarna merah menyala itu, terlihat semakin memancarkan kulit putih tubuhnya yang berkilau. Celana pendek di atas lutut, dengan bentuk pinggul yang seksi bak gitar spanyol, membuat Devan seketika harus mengalihkan pandangan ke bawah. Bukannya mendapat ketenangan, lagi-lagi ia harus menelan salivanya sendiri. Saat melihat kaki putih mulus itu semakin terlihat menggoda dengan sepatu berkaki tinggi yang talinya di lilit hingga betis.
"Hai, A," panggilnya saat sudah dekat dengan Devan. Suaranya sengaja di buat sedemikian lembut untuk menarik perhatian lelaki di depannya itu.
"Boleh gabung?" tanyanya sambil tersenyum. Belum juga Devan menjawab, gadis itu telah menarik kursi kemudian duduk rapi dengan kembali menyilangkan kaki. Rasanya, Devan tak perlu menjawab lagi.
"Kamu, ngapain di sini?" tanya Devan sambil menatap heran.
"Eryn, lagi main aja," jawab gadis itu dengan tetap fokus memandang lekat pada Devan. Tatapan mendamba pada sang pemuda. Penuh harap, juga bergairah.
Eryn menggigit bibir bawah sendiri sambil memainkan jemari tangannya yang lentik di atas gelas air minum bekas milik Devan. Sedetikpun ia tak ingin melepas pandangan, dari menatap pemuda yang telah membuatnya sangat tertantang.
Rasa sakit hatinya atas penolakan Devan kala itu. Membuatnya justeru bersemangat ingin memiliki. Mau bagaimanapun juga dengan cara apapun, ia tak peduli.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar dulu," ujar Devan seraya bangkit dari tempat duduk. Risih melihat Eryn yang masih saja agresif seperti saat pertama bertemu.
"Bareng, yah," Eryn beringsut ikut berdiri. Sekejap saja, tangannya sudah melingkar di lengan kanan Devan.
"Kamu apaan sih!" Di tepisnya kasar tangan Eryn. Membuat gadis itu tak percaya, juga merasa sakit hatinya.
"Aa' ihh, kenapa kasar sekali," lirih Eryn bersuara.
Devan menarik nafas pelan. "Kamu nggak sopan," desisnya kemudian.
💕💕💕💕💕
"Mamah baik-baik aja, kan? Kalau bosen, jalan-jalan aja sama Rani," ucap Devan di depan layar gawai. Ia sedang melakukan videocall bersama perempuan tuanya di rumah.
Mamahnya menggeleng. Sejujurnya, ia sedang merindukan seseorang selain putranya sendiri.
"Mamah kenapa? Mau oleh-oleh apa nanti pas Devan pulang?" Tanya Devan lagi setelah ia melihat gurat kesedihan wajah sang mamah.
"Mamah kangen Nayla," ujar perempuan tua itu.
"Ihh mamah!" Devan tersenyum geli. Ia lalu mengulum senyum di bibir. Sejujurnya, ia juga ingin berkata demikian.
"Kalian cepatlah menikah, mamah sudah sangat menginginkannya," ujar mamah Devan lagi.
Pemuda itu lalu terkekeh. Ia tidak menyangka, bahkan mamahnya sendiri turut serta mendukungnya. Devan mengira mamahnya akan menjadi benci, saat ia dan Nayla hanya berpura-pura saja selama ini. Ternyata pikiran Devan salah. Mamahnya itu sudah sangat sayang kepada mereka berdua.
Terlihat senyum terkembang di sana. Milik perempuan tua, yang pernah depresi dalam urusan cinta. Ia dan senyumnya bisa kembali bersama, saat lelaki muda miliknya memberi begitu banyak cinta untuknya. Devan putra semata wayangnya. Bukan hanya kebanggaan tapi juga sumber kekuatannya saat ini.
💕💕💕💕💕
Sudah dua hari Devan berada di kota Bogor. Menjalankan tugas pekerjaannya hingga satu hari lagi ke depan. Hari ini dia ada meeting di perusahaan Pak Hanan.
Selama dua hari juga ia selalu bertemu dengan Eryna. Gadis yang tiba-tiba saja datang, juga agresif setiap kali di dekat Devan. Membuat pemuda itu sangat risih, karena naluri kelelakiannya selalu terpancing setiap memandang Eryna. Gadis itu terlalu terbuka dalam hal penampilan. Juga terlalu menggoda setiap kali berbicara.
Selama ia di Bogor, tak sekalipun ia menghubungi Nayla. Ia ingin sekali membuat gadis itu merindu, seperti dirinya yang semakin tersiksa setiap detik menunggu jawabannya.
💕💕💕💕💕
"Hari terakhir bukan? Ayolah kita bersenang-senang," tawar Eryna menggoda. Memainkan bibir sendiri di atas gelas minumannya. Membuat bibir merah merona itu semakin basah
"Enggak Ryn, makasih," tolak Devan. Di edarkannya pandangan ke sekeliling, beberapa orang yang dikenalnya menyapa dengan mengangkat tangan. Dilihatnya juga beberapa yang lain sedang berjingkrak mengikuti dentuman musik yang meledak-ledak.
"Ayolah, sedikit saja," goda Eryna lagi. Devan menggeleng, mengalihkan pandangan dari leher jenjang Eryn yang selalu terbuka.
Hari terakhir di kota Bogor. Devan sedang mendapat undangan makan-makan bersama teman kantor anak buah Pak Hanan. Makan-makan di cafe? Devan tak habis fikir dengan itu.
__ADS_1
Devan tidak menyangka jika Eryna juga datang dalam undangan. Meski katanya makan-makan, tak jarang pula diselingi dengan apa yang di sebut minuman.
"Malam semakin dingin, cobalah sedikit untuk menghangatkan diri." Di sodorkannya sebuah gelas kepada Devan, berisi minuman yang katanya menghangatkan.
Devan terus saja menolak. Ia ingin segera pergi dari tempat yang membuatnya tidak nyaman ini, tapi ada rasa segan, mengingat ia adalah tamu undangan yang baru datang.
Ia sudah tidak berselera di acara yang campur baur seperti ini. Ditambah ke agresifan Eryna yang harus berkali di hindarinya.
"Jus jeruk, mau?" Tanya Eryn sambil membisik.
"Enggak," sahut Devan lagi.
Tak lama Eryn berlalu pergi. Devan menikmati kesendiriannya. Pikirannya kembali teringat pada Nayla, dia dulu bertemu di tempat seperti ini. Devan senyum-senyum sendiri.
"Hai, Bro!" Seru seseorang dari belakang. Aslan, anak buah Pak Hanan.
Mereka lalu mengobrol santai. Sesekali mencicip snack yang tersaji.
"Nggak minum kan? Jus jeruk mau?" Tawar Aslan sambil menyodorkan gelas pada Devan.
Pemuda itu meraih dan menerimanya. Tanpa berfikir macam-macam, jika jus itu telah bercampur serbuk racikan.
Seteguk, dua teguk, pandangannya kemudian kabur. Sekejap saja, Ia lalu tak sadarkan diri.
💕💕💕💕💕
"Kamu, kenapa sih selalu menolakku," lirih suara Eryna mendesis. Jemari lentik berkutek merah itu membelai pelan wajah Devan yang terlelap.
Di bukanya kancing kemeja milik Devan satu persatu. Pemuda yang tak sadarkan diri itu, terbaring tak berdaya di atas ranjang empuk kamar hotel.
"Kamu, bahkan lebih memilih gadis kampungan itu daripada Aku," ucap Eryn sinis.
"Sejauh ini, tak ada satupun yang menolakku, tapi, Kamu!" Eryna tersulut emosi. Ia meracau mengingat kembali kata-kata Devan juga penolakan pemuda itu padanya. "Membuatku semakin menginginkanmu lebih," ia kembali berbisik di telinga Devan.
Ia lalu mengacak rambut sendiri hingga tampak kusut dan berantakan. Kemudian menanggalkan pakaian atasnya. Hingga tampak hanya pakaian dalam yang membalut kulit. Diraihnya gawai milik dirinya sendiri, melakukan selfi berkali kali bersama Devan yang sedang tidur terpejam. Juga merekam video, bibirnya menelusuri setiap inci muka milik Devan.
Ia terkekeh geli. Pikirannya membayangkan ekspresi Nayla saat melihat foto dan video Devan bersama dirinya.
"Kau tau jika namamu dan namaku sudah tercemar? Kau juga harus berfikir berkali dengan perasaan Mamahmu itu di rumah, apalagi jika mereka sudah menyangkut pautkan aksi kita dengan pekerjaanmu? Hihihi." Eryna kembali tertawa.
Ia lalu meraih gawai milik Devan, kemudian dengan senyum sinis ia mengetik pesan.
[Aku akan menikah dengan kekasihku, kamu jangan berharap apa-apa lagi ] Sekejap saja centang berwarna biru terlihat. Tanda pesan dari nomer Devan telah dibaca di gawai Nayla.
"Sudah kubilang, jangan menolakku bukan?"
__ADS_1
💕💕💕💕💕