Kepingan Hati

Kepingan Hati
Aqiqah Hadziq


__ADS_3

mmDering gawai memekik, membuat kedua mataku seketika mengerjap. Sebuah peringatan dari alarm yang kunyalakan. Sudah hampir jam tiga sore rupanya.


Nayla masih tertidur pulas. Kelelahan, mungkin. Kunaikkan selimut sedikit ke atas, menutupi badannya. Helaian rambut yang menutupi sebagian mukanya, kusibak pelan sambil berbisik, "terima kasih, Sayang."


Aku beringsut menuruni ranjang. Melangkahkan kaki hendak ke kamar mandi, bersuci. Mataku menangkap noda merah di atas seprei. Aku tersenyum geli, senang sekali rasanya. Sudah kubilang bukan, jawaban Allah tak pernah salah. Dia gadis baik-baik.


💕💕💕💕💕


Diruang tamu, masih banyak sekali tamu undangan yang berdatangan. Kebanyakan mereka yang tadi pagi tidak bisa hadir di acara resepsi.


Kulihat Mamah dan Nayla duduk berdampingan. Menyambut para tamu yang mayoritasnya ibu-ibu. Dari tempatku berdiri di dekat pintu, bisa kusaksikan istriku itu tersipu malu. Gamis dan kerudung pemberianku dikenakannya sore ini. Dia, semakin terlihat sangat cantik sekali.


Aku melempar senyum ke arahnya, sesekali memberikan kerlingan genit sebelah mata. Saat itu kulihat kedua pipinya langsung bersemu merah. Membuatku kembali menjadi gemas, ingin, ah, you know lah!


💕💕💕💕💕


Rasanya tak henti seharian ini tamu undangan datang. Tapi tak mengapa, bukankah kabar gembira harus dirayakan penuh suka cita? Kulihat Nayla meski tampak lelah, ia tetap berusaha menikmatinya. Tersenyum kepada semua undangan yang datang.


"Assalamualaykum," suara salam terdengar dari ambang pintu.


Hatiku mendadak bergetar. Suara itu, suara yang tidak asing di kepalaku. Aku menoleh di susul tatapan Mamah yang mulai penuh tanda tanya.


"Ayah?"


Lelaki itu berjalan cepat ke arahku. Memeluk erat dengan suara isak tangis yang ditahan. Aku yang masih terkejut melihat kehadirannya, mendadak menjadi nge blank tak menjawab salamnya.

__ADS_1


"Maafin Ayah, Van. Ayah ... Ayah," kalimatnya terbata. Tangisannya lebih mendominasi. Lelaki yang telah mengkhianatiku dan Mamah kini datang di pernikahanku.


Aku harus bagaimana? Sakit hati masih jelas terasa, terlebih luka lebam itu, dia pernah membuatnya di mukaku. Tapi ...


"Terima kasih sudah datang," ucapku akhirnya sambil menepuk punggung Ayah. Meski sekuat apapun rasa benci ini. Tetap, dia Ayahku sendiri.


"Ayah tidak lama, kalian semoga hidup berbahagia," lirihnya. Jelas sekali suara itu bergetar, entah tulus dalam hati atau hanya berpura. Tapi, aku senang mendengarnya.


💕💕💕💕


Satu tahun kemudian.


"Ayo cepetan, haduh!" Mamah memekik. Di pukulnya pundakku berkali-kali. Membuatku sama sekali tak konsen menyetir.


💕💕💕💕💕


"Sakit, Mas, ya Allah, sakiiitt, Allah ..." Berkali Nayla mengerang kesakitan. Kugenggam erat tangannya. Sebentar lagi ia akan melahirkan. Buah hati kami yang pertama.


Ya Allah, betapa kesakitannya ia. Berkali miring ke kiri, ke kanan, terlentang, semua ia lakukan demi mengurangi nyeri pembukaan.


Aku panik. Sungguh tak tega sama sekali melihatnya. Dia tengah berjuang sendiri, melahirkan buah hati. Kuusap punggungnya. Berharap bisa memberinya sedikit rasa lega. Tapi, dia malah berbuat anarkis.


Menggigit tanganku, meremas rambutku, menarik-narik bajuku. Ya Tuhan, dia sungguh sangat kesakitan.


Ingin marah tapi nggak tega. Ingin nangis melihat kondisinya, tapi dia sendiri sedang menangis tanpa jeda.

__ADS_1


Maka benarlah, kenapa Rasulullah mewajibkan mengutamakan Ibu terlebih dahulu daripada orang lain. Seorang Ibu bahkan rela mempertaruhkan nyawa, demi lahirnya sang buah hati tercinta.


Aku hanya bisa membersamai. Sekaligus melangitkan doa. Agar Allah mempermudahkan persalinannya. Memberi keselamatan untuknya juga bayi kami. Genggamannya semakin kuat. Bisa kursasakan ia sedang benar-benar berjuang.


"Ayo Ibu pasti bisa, semangat ayo, dorong dedeknya keluar ..." Bidan yang membantu persalinan menyemangati Nayla.


"Aaaarrrrrggggghhh!" Nayla menjerit. Disusul tangis bayi yang menggema.


"Ooooweeeeeeeee..."


Aku seketika juga bersujud syukur. Mengucap doa atas berhasilnya persalinan Nayla.


💕💕💕💕💕


Semua kerabat serta undangan telah berkumpul. Para emak-emak KBM kembali dilibatkan dalam prosesi masak untuk aqiqah anak kami. Muhammad Hadziq Al-Khawarizmi.


Kulihat ada beberapa juga yang curi-curi pandang. Padahal tugas mereka kan masak di dapur. Tapi, ah, you know lah. Devan mah ngartis! Makanya pas begitu masuk dapur, emak-emak pada jejeritan histeris.


Astaga! Dasar emak-emak KBM! Kalo nggak nguping, ngintip yahh jejeritan.


Tapi Aku suka! Makasih yah, udah ngikutin cerita Devan selama ini.


Salam sayang selalu.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2