
"Hey, kenapa setiap melihatku selalu mendelik begini?" protesnya.
Aku masih tak percaya. Kulihat kembali dengan jelas dan seksama. Wajah itu, memang benar dia Mas Devan.
Dia lalu membuka sleting jaketnya. Kemudian menatap lekat ke arahku, yang masih terperangah.
"Mas ngapain kesini?" tanyaku sambil mengusap sisa air mata yang tersisa, tapi kemudian tercekat saat ada tangan lain yang mengusapnya lebih dulu.
"Kamu ... jangan sering-sering nangis begini," lirihnya sambil mengelus lembut. Bisa kurasakan ia mengusapnya pelan. Membuatku nyaman.
Pandangan kami masih saling bertaut. "Maaf," ucapnya lagi sambil kembali menarik tangannya.
Untuk sesaat tadi, seolah ada desiran aneh yang merayap pelan dalam hati.
Mendadak saja mukaku terasa panas. Kulirik dari ekor mataku, pemuda itu mengaruk kepalanya sendiri sambil mengulum senyum di bibir. Mas Devan terlihat salah tingkah. Ia lucu sekali.
"Kamu ngetawain?" hardiknya.
Deg,
Ya Allah, jadi, tadi dia memperhatikan? Tapi, emang lucu, jadi lupa sampai tertawa sendiri.
"Engg, anu Mas ..." kalimatku tertahan saat mencoba berkelit.
Mas Devan mendekatkan mukanya padaku, tatapannya mengunci. Jarak yang sangat dekat seperti ini, membuat jantungku berdegup semakin kencang. Bahkan hidungku, bisa mencium wangi parfum yang melekat di badannya. Aku menelan saliva, gugup.
"Nanti kita nikah di Balikpapan. Awas saja kalau udah di sana," ucapnya setengah berbisik.
💕💕💕💕💕
Pov Devan
Setelah menempuh perjalanan di pesawat selama satu jam lebih. Kami melanjutkan dengan melewati jalan darat memakai jasa travel menuju kampung halaman Nayla. Saat di dalam mobil, aku langsung menghubungi perempuan tuaku di rumah. Tak ingin sedetikpun membuatnya khawatir. Mamah, perempuan yang begitu mengerti dan memahami kondisiku.
"Alhamdulillah, ini lagi di mobil Mah," jawabku setelah ia menanyakan posisi kami.
"Nih calon menantu Mamah, bandel, ngeyel pulang sendiri. Ntar kalo ada yang nyulik, gimana?"
"Makanya cepetan nikahin," celetuk mamah bersuara.
__ADS_1
Aku terkekeh geli. "Kalo masih bandel, kugigit dia!" timpalku sambil melirik ke arah Nayla.
Gadis itu mendelik, sambil menepuk punggungku dengan kipas yang ia pakai di tangannya. Dari seberang sana kudengar mamah tertawa terbahak.
"Coba sini, Mamah mau ngomong sama Nay," ujar mamah.
"Nih, mamah mau ngomong."
Ku serahkan gawai milikku kepada Nayla. Ah, andai dia tahu, segala milikku pun aku rela asal untuknya. Eeeaaaa
Aku memicingkan mata. Menajamkan pendengaran. Gadis itu tak mau me loudspeaker panggilan dari mamah. Aku jadi menebak-nebak, mereka sedang ngomongin apa.
Kulihat jawaban Nayla cuman, tapi, tapi, dan tapi.
Astaga, tidakkah dia memiliki kosakata yang lain? Membuatku semakin penasaran saja.
Selagi gadis itu berbincang di telvon, aku mengedarkan pandangan ke luar kaca mobil. Pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Serba hijau, asri juga masih alami. Rasanya, aku kembali terlempar ke masa lalu. Saat di desa Ambengan, bersama dia, Raniku.
Bahkan sampai detik ini, bayangannya belum benar-benar bisa menghilang.
💕💕💕💕💕
"Mas Devan mabuk?" tanyanya khawatir.
"Enggak," sangkalku.
Kulihat Nayla biasa-biasa saja, mungkin karena dia sudah terbiasa. Tapi tidak denganku. Sungguh, ini sangat menyiksa.
"Ini pakai kresek, sok aja muntah, aku yang megangin," ujarnya sambil membuka kresek di bawah daguku.
"Enggak, Nay," jawabku menolak.
Aku memijit kening sendiri. Pusing sekali rasanya. Ternyata, kesehatan itu tak pernah bisa di prediksi. Tadi masih baik-baik saja. Tapi kini, rasanya sekujur badanku mendadak kebas. Lemas sekali. Lalu tampak semua bayangan berpendar. Meredup dan gelap.
💕💕💕💕💕
Aroma khas tajam mengusik indera penciumanku. Membuatku perlahan, membuka kedua mata yang entah sejak kapan tadi terpejam. Lamat-lamat bisa kudengar suara binatang malam bersahutan. Bunyi jangkrik dengan krik krikannya, bunyi tokek, juga bunyi katak yang berdengung berisik.
"Astaghfirullah!" Aku terhenyak kaget. Kemudian dengan sekejap saja bangun dari tempat pembaringan. Tampak cahaya lampu templok menyinari sebagian ruangan. Punggungku terasa sakit sekali. Kuraba perlahan, tempat yang kutiduri adalah ranjang kayu yang hanya dilapisi anyaman tikar.
__ADS_1
"Uhuk uhukk!" Aku terbatuk, menghirup udara yang kurasa cukup berdebu.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tempat ini sangat asing bagiku.
"Mas, udah bangun?" seseorang muncul dari balik tirai pintu kamar. Nayla.
"Ini dimana?" tanyaku.
"Di desa Nay, Mas."
💕💕💕💕💕
Semua pandangan menatap lekat ke arahku. Menunggu penjelasan, kenapa aku datang kesini bersama Nayla.
Beberapa tetangga sekitar juga tampak hadir, seperti kami sedang hendak di adili. Kutatap calon isteriku itu duduk di sudut ruang tamu. Yah, karena memang ruangan ini seperti kebanyakan rumah jaman dulu. Yang hanya menggunakan tikar sebagai alas untuk duduk.
Aku mengalihkan pandangan. Melihat berbagai kudapan tradisional tersaji, sebagai suguhan para tamu yang juga akan datang kesini.
Aku membetulkan posisi duduk. Dengan bahu tegap, serta kedua tangan yang salin menggengam.
"Saya hendak menikahinya," ucapku mantap penuh percaya diri.
Tetapi, lelaki di depanku ini menunjukkan ekspresi yang sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
💕💕💕💕💕
Pov Nayla
Sudah kubilang, paman dan bibi pasti berpikiran buruk kepada kami. Padahal, aku hanya datang meminta untuk di walikan dalam hal pernikahan. Tapi, masih saja mereka berfikir macam-macam.
"Kamu beneran masih perawan kan?" tanya bibi menginterogasi.
"Astaghfirullah, Nay nggak seperti itu," jawabku perih
"Bukan begitu, cuman kan aneh aja. Masa kesini berdua sama lelaki. Kalian kan belum menikah," tukasnya.
"Karena itu kami kesini. Cuman minta di walikan aja. Nggak papa tanpa resepsi." Aku membela diri.
"Yasudah terserah kamu."
__ADS_1
💕💕💕💕💕