Kepingan Hati

Kepingan Hati
Menuju Ending


__ADS_3

Semua berkas perkara Ayah sudah kuserahkan kepada Beni. Beruntung sekali tak susah menemukan bocah itu. Dia memang selalu bisa diandalkan.


Mas Rahman juga belum ada tanda-tanda siuman. Rani tampak putus asa. Tapi, aku bisa apa? Sudah kubantu semampuku. Jika untuk biaya, itu bukanlah perkara yang sulit bagiku. Tapi jika aku tetap menemaninya di sini, lama-lama Naylaku akan kepikiran yang tidak-tidak. Perasaan istriku jauh lebih penting. Apalagi Mamah juga sudah menelvon berkali-kali. Menyuruh pulang dan memberi nasehat. "Itu urusan keluarga mereka, jangan terlalu ikut campur masuk ke dalam." Begitu katanya.


Well, itu memang benar. Lagian, urusan pekerjaan di Bandung tak mungkin kutinggalkan terus-terusan. Ada masalah juga di gudang utama. Kebakaran.


Aku berjalan kembali ke dalam ruangan Mas Rahman. Dimana saudaraku itu masih terbujur dengan dua mata terpejam. Kulihat keluarga Rani sudah ada yang datang. Orang tuanya juga sepupunya.


Eh, tunggu! Malika juga ada disitu rupanya. Ia melihat ke arahku sambil tersenyum menyapa, "Hai."


Aku mendekat. Menyalami satu persatu. Berbincang sebentar lalu berpamitan. "Maaf, saya harus pamit dulu. Tolong jaga saudara saya," kataku.


Maaf ... kita punya urusan masing-masing. Dan urusanku juga sama-sama penting.


***


Sengaja tak kuhubungi Nayla ataupun Mamah. Memberi kejutan bagi mereka. Tak lupa kubelikan oleh-oleh. Selain pesanan Mamah dan Nayla, ini jug untuk penggemar setia yang nagih oleh-oleh katanya. Hahahaha ada-ada aja.


"Drrrrrrrrtttttttt," getar gawai mengagetkanku. Gegas meraih dan membukanya.


"Hallo, assalamualaykum," sapaku memulai pembicaraan.


"Wa alaykumussalam, Van, lagi di mana?" Suara Bagas menyahut dari seberang.


"Otewe!"

__ADS_1


"Kemana?"


"Balik lah, ada apa?" tanyaku penasaran.


"Teh Euis meninggal!" Bagas berseru. Ya Allah, kenapa bisa secepat ini. Aku bahkan belum bertemu dengannya. Mendadak jantungku sakit, terbayang wajah-wajah orang yang ditinggalkannya. Belum lagi Teh Euis sedang hamil pula. "Van! Hallo!" Bagas memanggil lagi.


"Berikan yang terbaik, nanti aku segera ke sana, kamu tungguin aja, ya. Aku ambil penerbangan tercepat." Mengembus napas pelan. Sesak dalam dada tak bisa diajak kompromi. Bagaimana bisa ada kebakaran besar terjadi, jika mengenai barang-barang produksi itu tidak masalah. Mungkin biaya saja yang akan kami tanggung. Tapi, jika urusan nyawa. Speechless.


***


Melesat tinggi. Mengambang di antara awan. Menukik tajam lalu kembali berjejak di atas tanah. Aku telah tiba.


Gegas kuhubungi Bagas.


"Kamu di mana?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Tunggu di bagian kedatangan!"


"Oke!"


Tanpa berpikir apa-apa lagi, aku langsung mencari wajah Bagas di antara desakan orang-orang. Urusan ini penting. Sangat penting.


Sebuah telapak tangan menyembul ke atas. Melambai kepadaku. Pemiliknya tak asing adalah ia, lelaki yang memang sedang kucari keberadaannya.


"Bagas!"

__ADS_1


Ia tersenyum. Segera kuhampiri dan langsung bergegas menuju mobil. Kusimpan semua barang bawaan juga koper yang berisi penuh oleh-oleh untuk keluarga. Aku tak ingin langsung pulang. Tapi, mengunjungi rumah teh Euis untuk berbela sungkawa.


***


Rumah berpagar bambu, dinding cat putih dengan bendera kuning yang terpasang di tiang depan rumahnya. Kabar duka.


"Adakah anak yang di tinggalkan?" tanyaku. Bagas mengangguk. "Kita besarkan ia," ucapku mantap.


"Maksudnya? Mau kita asuh, gitu?" Bagas bertanya.


"Iya. Jadikan anak asuh, tapi tidak tinggal bersama. Ia masih punya Ayah, bukan?" tanyaku balik.


"Iya."


"Kita santuni setiap bulan. Ini masalah nyawa, tak bisa diganti dengan apapun." Aku menghela napas pelan. Sesak rasanya. Tiba-tiba wajah Nayla hadir dalam bayangan. Bagaimana jika ia yang mengalaminya. Astaghfirullah.


"Oke. Aku setuju."


Kami masuk ke dalam rumah Teh Euis setelah sebelumnya mengucapkan salam. Suasana duka masih sangat kental terasa.


Kami menyampaikan bela sungkawa. Mengutarakan niat kami untuk bertanggung jawab penuh atas perihal yang menimpa Teh Euis. Keluarga menerima. Mengerti bahwa ini bagian dari musibah. Syukurlah, tidak ada buntut masalah setelahnya.


***


Pulang daru rumah almarhumah Teh Euis. Aku langsung bergegas menuju rumah. Bagas sedang ada urusan katanya.

__ADS_1


Tak sabar ingin memberi kejutan pada Nayla. Istriku itu, pasti terkejut setelah melihatku di rumah.


__ADS_2