
Untuk sesaat tadi, aku melihat kilat bayangan wajah mas Rahman.
"Maafkan Rani, mas," lirihku tertahan.
Entahlah, keadaan rumah saat ini membuatku sangat tidak nyaman.
Meski sempat ada rasa bahagia yang tercipta saat memandangnya, tapi aku takut. Jika kemudian hatiku tak bisa kukendalikan. Menuntut perasaan lebih. Yang harusnya tak lagi ada.
"Tokk...tokk..tokk,Raniii!!"
Kudengar ia mengetuk pintu kamar.
Aku membekap mulut sendiri, kedua mataku membulat.
Apa...dia...jadi nekat?
"Tokk...tok...Cklak...cklekk..." Ia mengetuk lebih keras seraya memainkan handle pintu kamar.
Aku harus apa?!
Harus apa?!!
Ya Allah mana di rumah sendirian.
Aku menangkupkan kedua tangan di muka. Takut juga panik.
"Maaf, kamu jangan takut." Kudengar ia berbicara dari balik daun pintu.
"Kunci rumah mana? kamu lanjut masak gih, aku mau keluar," Ucapnya lagi.
Bener nggak apa yang dia omongin barusan?
Kalau dia macem-macem bagaimana?
bagaimana?!!
"Raaaannn," teriaknya lagi.
Buka?
Enggak!
Buka?
Enggak!
Buka?
Enggak!
Meski ragu, akhirnya tangan ini meraih kunci kamar dan membukanya.
Ceklek!
"Kamu jangan mikir aneh-aneh, Rani. Aku nggak seburuk itu," ucapnya saat melihatku di celah pintu. Sengaja tak kubuka lebar. Karena rasa takut di hati masih mendominasi.
"Maaf sudah keterlaluan tadi. Kunci rumah mana? aku mau keluar." Ia menadahkan telapak tangan kanannya.
"Tunggu di situ," titahku seraya merogoh saku di gamis rumahan yang kukenakan.
__ADS_1
Sejurus kemudian aku menyodorkan kunci dengan gantungan berbentuk ukiran wayang di tangannya. Dengan masih lewat celah pintu yang terbuka.
"Kamu jangan panik gitu, ntar aku makin greget," Ucapnya kemudian berlalu.
Heeh?!!
* * * * *
Sore hari adalah waktu yang selalu kutunggu. Menanti sosok lelah yang berjalan menghampiri ke arahku. Peluh keringatnya menjadi saksi, betapa ia bertanggung jawab dalam menafkahi. Dia sangat menyayangiku, meski usia kami terpaut cukup jauh. Sepuluh tahun jarak antara usiaku dan dia. Tapi ternyata, jodoh memang tidak memandang umur. Aku mulai terpikat dengannya. Suamiku.
Perhatian-perhatian yang ia berikan, selalu berhasil membuatku melayang. Seperti tadi siang, tiba-tiba saja ia mengirimkanku paket barang.
Setelan gamis hijau muda dengan kerudung motif bunga-bunga. Berkali kuberputar di depan cermin. Mematut diri di sana. Cantik. Sesuai dengan warna kulitku yang putih bersih.
Mas Rahman memang suami yang baik. Aku bersyukur memilikinya.
"Ting Tong!" Bel pintu menjerit-jerit.
Kulirik jam di dinding kamar. Pukul empat sore, pasti mas Rahman yang datang.
"Ting tong ting tong!" Kembali bel pintu menjerit-jerit.
Sekali lagi memajukan muka ke depan cermin. Lipstik udah, celak udah, bedak juga udah. Bau parfum juga udah menempel di badan.
Hari ini aku ingin memberinya kejutan. Jika biasanya aku berdandan di dalam kamar. Kali ini aku ingin berdandan menyambutnya ketika pulang.
Sesekali tak mengapa, toh semua penghuni rumah lagi nggak ada.
Aku berlari kecil menuruni tangga. Karena kamarku letaknya tepat di lantai atas.
Senyum terkembang menghiasi pipiku. Entah mengapa perasaanku mendadak sangat rindu padanya, pada mas Rahman, suamiku.
Sedikit ketakutan juga menjalar di fikiranku. Bagaimana jika mas Rahman tidak menyukai tampilanku. Atau malah dia memuji dan bahagia melihat aku berdandan seperti ini? Entahlah. Yang penting aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya. Semoga saja dia suka.
Aku meringis, tersenyum geli. Tak sabar menanti sang kekasih hati.
Tanganku mulai meraih handle pintu. Membuka kunci dan terus tertunduk malu.
Wajah mas Rahman terus saja terbayang. Aku mengulum senyum sendiri menahan malu.
"Klek"
Pintu terbuka. Dan bayangan yang sempat melayang tadi mendadak menjadi kelam. Senyum memudar di iringi tatapan yang menghujam tajam.
"Devan?" Demi melihat apa yang kini berdiri di depanku.
Kedua pandangan kami beradu. Debaran yang harusnya milik mas Rahman terganti sudah dengan debaran yang mulai liar.
Ia masih terpaku di depan pintu. Melihatku dengan seksama. Ekspresi kagetnya sama sepertiku. Sama-sama tidak menyangka.
"Cantik," ucapnya seketika.
Aku membuang muka. Menetralkan hati yang berdendang dengan sangat kurang ajarnya. Harusnya mas Rahman yang melihatku tadi, tapi pujiannya ternyata mampu menarik senyuman di garis bibirku.
Ia berlalu pergi. Menyelinap masuk ke dalam rumah. Membiarkanku mematung sendiri setelah ia berbisik memuji.
Sejenak ada pandangan yang memperhatikanku, berdiam diri mematung di depan pintu.
"Mas Rahman?"
__ADS_1
Lidahku seakan kelu. Nanar ia memandang, dengan ekspresi ragu kepadaku.
Apakah dia salah faham?
* * * * *
"Maaf, mas," ucapku lirih setelah kami berdua masuk kedalam kamar.
Ia masih dengan pakaian kerjanya mulai membuka dasinya sendiri.
"Rani cuman pingin bikin mas senang," ujarku lagi tanpa berani memandang.
"Mas nggak suka Rani dandan?" Tanyaku mencari jawaban atas diam dan kesalnya.
Kulihat ia menghela nafas berat.
Diraihnya jemari tanganku dan dipilin di sela jemarinya.
"Mas nggak suka Rani dandan di luar, cukup mas yang lihat. Mengerti?" Ucapnya lembut.
Syukurlah dia tidak curiga atau berfikir macam-macam.
"Rani tau? Allah tidak melarang setiap muslimah untuk berdandan dan merias diri. Hanya saja ada tempat dimana seorang muslimah itu boleh berhias. Coba lihat sekarang wajah Rani." Ia mendekatkan mukanya padaku. Mencermati apa saja yang tergambar disana.
"Bulu mata lentik, eyeliner, pipi merona, belum lagi bibir yang berlipstik basah." Dia mengoreksi satu persatu.
"Cantik, sungguh sangat cantik. Dan bau wangi ini." Ia mengendus-ngendus lucu.
"Kalau ada yang bernafsu sama Rani gimana?" Ada gurat kecemasan di wajahnya. Sesaat ia mengecup keningku.
Lalu kemudian berbisik, "Mengapa bidadari itu istimewa? karena dia terjaga, tidak liar pandangannya.Tidak melirik laki-laki selain suaminya."
Nyesss...
Ada yang meleleh di dalam sini, di hatiku. Dia selain baik, juga lelaki yang solih.
"Jadi, Rani dandannya di depan mas aja yah? Mas nggak ridho ada yang ikut menikmati milik Mas." Ucapnya lagi.
Aku mengangguk, mengaku khilaf.
Teringat tentang sebuah hadits bagaimana tuntunan berhias yang sesungguhnya. Hanya untuk dia yang berhak melihatnya, tentu saja untuk sang kekasih halal dalam ikatan yang suci. Terjalin dalam sebuah pernikahan.
"Jadi?" Ia kemudian bertanya. Tentang pertanyaan yang sama sekali tak ku mengerti maksudnya.
"Jadi?" Ia mengerlingkan sebelah matanya, genit.
Sedetik, dua detik, tiga detik. Ia meraihku kedalam pelukan.
Kembali tenggelam dalam samudra cintanya. Memadu kasih, mempererat hubungan yang sudah halal ini.
* * * * *
Di meja makan, seperti biasa kami menikmati makan malam bersama-sama sekeluarga. Mas Rahman curi-curi pandang terhadapku. Aku membalasnya dengan senyum malu-malu. Rasanya dunia milik kami berdua, tak jarang saat yang lain sibuk makan. Suamiku itu dengan tingkah konyolnya mengerling nakal.
"Tringgg," bunyi sendok dan garpu di hentakkan. Semua memandang ke arah Devan. Dia menarik kerah bajunya lalu berdiri mendorong kursinya kasar.
"Kemana, Van?" Ayah mertua bertanya heran.
"Mau mandi, Yah. Gerah!"
__ADS_1