Kepingan Hati

Kepingan Hati
Devan Marah


__ADS_3

Pov Nayla


Aku masih tidak percaya jika lelaki yang berada dalam foto itu adalah Mas Devan. Tapi, video yang berdurasi dua menit itu, menunjukkan dengan jelas bahwa memang dia orangnya. Lalu, gadis yang bersamanya itu? Siapa lagi kalau bukan kekasihnya. Ya Allah, bisa-bisanya dia mempermainkan perasaanku selama ini.


Harusnya aku memang sadar diri, aku bukan siapa-siapa. Tidak pantas untuknya. Tidak berhak atas apapun darinya.


Untuk apa lagi harus mengisi undangan ini jika hanya sekedar bermain-main saja. Buktinya, dia bahkan mengirim pesan agar aku tak berharap apa-apa lagi darinya.


Pertemuan kita, bukankah hanya sebuah kerja sama semata. Dia membutuhkan peranku, dan aku membutuhkan uangnya. Iyah hanya itu, pasti hanya itu! Tidak lebih.


Tapi, kenapa rasanya sakit sekali seperti ini. Ya Allah, perihnya.


💕💕💕💕💕


"Assalamualaykum," suara salam terdengar dari depan pintu. Devan baru saja pulang dari Bogor. Ia lalu menyalami mamahnya yang tengah menunggu di ruang tamu.


"Wa alaykumussalam warahmatullah, anak Mamah udah pulang," jawab mamah Devan sambil merengkuh badan lelaki kecilnya itu. Ah, dia selalu lupa, bahwa putranya sudah sangat dewasa.


"Sepi, pada kemana, Mah?" Tanya Devan sambil mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru rumah.


"Mamah suruh Masmu beli makanan, sekalian lihat-lihat sekitar kompleks. Biar ndak bosen dirumah terus," jawab mamah Devan.


Lalu seperti biasa, pemuda itu merebahkan punggungnya di atas sofa sambil menidurkan kepalanya di pangkuan sang mamah.


"Mah," panggilnya lembut.


"Iyah." Di belainya rambut anaknya itu perlahan. Menyisir dengan jemari tangannya yang keriput.


"Mamah inget sama Eryn?" Tanya Devan kemudian.


Mamah Devan mengernyit. Untuk pertama kalinya anaknya itu menyebut nama gadis lain selain Nayla.


"Yah ingetlah, dia kan yang mau Mamah jodohin sama kamu. Kenapa?" Tanya mamah Devan penasaran.


"Enggak, cuman cara dia berpakaian terlalu terbuka aja. Devan nggak suka," jawab Devan sambil meraih gawai. Membuka aplikasi game cacingnya yang sudah lama tak ia mainkan.


"Kirain kamu suka hehehe," ujar mamah Devan sambil terkekeh geli.


Devan mengernyit, mendongakkan muka, menatap perempuan tuanya itu. Astaga, jadi mamah kira aku selera yang model begitu? Ish!


"Ai Mamah, kenapa mikir Devan suka yang model begitu?" Tanya Devan penasaran. Sambil sesekali memutar gemas gawainya. Cacing miliknya perlahan mulai menggendut.


"Lha, Mamah kan nggak tahu, Devan suka yang gimana, kalo nggak salah ada Dinda juga kan? Sama Rara yang pinter masak itu, ah kirain kamu milih salah satu dari mereka," jelas mamah Devan.


"Enggak, emm bukan kriteria Devan lah, Mah," jawab Devan dengan masih fokus ke layar gawai.


"Makanya Mamah pilihin beda-beda. Yang biasa aja model Dinda, yang pake kerudung juga pinter masak kayak Rara, sama yang kayak anak-anak jaman sekarang gitu, si Eryna," ujar mamah Devan.


'Tapi si Eryn mah kebangetan' sungut Devan dalam hati. Tak sampai ia berucap kepada mamahnya. Karena ia tak ingin membuat beban dan pikiran di wajah perempuan tuanya itu.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Tak terasa sudah satu minggu Rani dan Rahman tinggal di rumah Devan. Artinya satu minggu lagi mereka akan kembali ke tempat asal mereka, kota Surabaya.


Selepas Isya, Rani sedang sibuk membuat pisang goreng juga merebus air untuk membuat teh tawar di dapur. Mamah Devan dan Rahman tengah berada di ruang keluarga, menonton televisi sambil berbincang hangat bersama.


Devan baru saja turun dari kamar, ia berjalan menuju ke dapur, hendak mengambil air dingin di kulkas untuk minum.


Dilihatnya iparnya itu sedang sibuk mengangkat gorengan. "Hai, Mbak!" sapa Devan sambil membuka pintu kulkas. Ia memakai 'Mbak' sebagai sapaan, agar sadar diri bahwa dia adalah iparnya.


Rani terperanjat, ia sangat terkaget karena dari tadi fokus sendiri dengan pekerjaan. Hingga tanpa sadar menjatuhkan kembali pisang yang telah digoreng ke dalam minyak.


"Aduh!" Tanpa sengaja cipratan minyak melukai jemari tangannya.


"Astaga! Rani!" Devan berseru. Ia lalu bergegas meraih salep yang tersedia di kotak obat dekat dapur. Ia hafal betul tempatnya, karena sebagai penjagaan disaat terjadi kejadian seperti ini.


Dia tanpa meminta izin langsung mengoles di permukaan yang terciprat minyak. "Ini kalau di diamkan bisa melepuh, jangan ceroboh lagi," tutur Devan menasehati.


Rani memandang pemuda yang kini menjadi iparnya itu. "Sudah, saya bisa sendiri!" Tukas Rani sambil menarik kembali tangannya.


"Oops, sorry." Devan lalu mengangkat kedua tangannya. Sadar diri dengan siapa ia berbicara.


Sesaat sebelum ia berbalik, Rani kembali memanggilnya.


"Ini." Di serahkannya sebuah kotak kecil kepada Devan. "Saya tidak berhak atas ini lagi," ujar Rani kemudian.


💕💕💕💕💕


Sudah berkali-kali Devan menjelaskan kepada Nayla, tentang Eryn dan semua kesalah pahamannya. Rasanya sudah banyak ia berbicara, tapi Nayla masih saja acuh tak mau mendengar. Ia bingung harus bagaimana lagi.


Ditambah lagi ini salah faham yang diperparah dengan bukti berupa foto dan video gila itu. Arrrgh! Awas kau Eryn!


Apakah aku harus menggendong Nayla ke KUA seperti saran emak-emak di KBM?! Hooh tidak!


You know lah, its not me. I mean, bukan gayaku!


💕💕💕💕💕


Nayla masih sibuk dengan adonan batagornya. Beberapa pembeli sudah tampak memadati gerobak, yang kebanyakan adalah anak-anak kecil tetangga tempat ia tinggal.


Ia lalu berhenti, saat kedua matanya menangkap sebuah mobil cantik berwarna merah berhenti tepat di depan gang. Tampak seorang gadis turun dari dalamnya. Perlahan berjalan mendekat ke arah Nayla sambil berlenggak lenggok bak model di atas karpet merah.


Pakaian yang kurang bahan membuat daya tarik tersendiri bagi anak-anak kecil yang sedang mengantri untuk membeli.


"Teteh, bajunya kekecilan yah?" celetuk Naina, gadis kecil tetangga Nayla yang juga adalah pembelinya.


"Ihh kamu mah, ini tuh model baru," sahut Eryn dengan muka memerah padam. Betapa, ia tidak suka meski diledek anak kecil seperti Naina.


Nayla memandang lekat pada gadis itu, gadis yang dilihatnya di dalam foto dan video bersama Devan. Mendadak hati Nayla kembali sakit.


Eryn sengaja datang pagi-pagi, karena yakin bahwa Devan tak mungkin menemui Nayla di saat jam kerja begini. Ingin sekali ia mencaci gadis kampung itu sampai puas. Gadis yang membuatnya di tolak mentah-mentah oleh Devan.


Eryn kemudian menarik nafas, lalu dengan sekali hembusan, ia mulai mengeluarkan kata-katanya, "Teh dengerin yah, awas kalau masih ganggu hubungan saya dengan A Devan! Kamu tahu enggak siapa saya?! Calon isterinya yang resmi! Kita juga udah tidur bareng, jadi, please yah! Pergi jauh-jauh!" Eryn menunjuk-nunjuk muka Nayla. Tepat di depan anak-anak yang sedang mengantri batagornya.

__ADS_1


"Satu lagi! Awas kalo Aa sampe tahu Aku dateng kesini nyamperin kamu!" Eryn kembali mengancam. Ia lalu berbalik sambil berjalan dengan angkuh. Tanpa sedikitpun menoleh kepada muka Nayla yang pias.


"Da saya mah bukan siapa-siapa," lirih Nayla bersuara. Anak-anak yang melihat tadi mulai berbisik-bisik. Antara kasihan kepada Nayla karena di omelin, juga penasaran apa itu maksud tidur bareng. Bukankah itu hal yang biasa seperti saat mereka tidur bersama ibu dan bapaknya. Kenapa gadis itu meledak-ledak waktu berbicara itu?


💕💕💕💕💕


Sudah dua hari Devan selalu pulang kerja menjelang maghrib. Pekerjaan di kantornya lumayan menumpuk. Sejak ia pulang dari Bogor, banyak berkas perijinan yang terbengkalai. Ia benar-benar lelah, baik tenaga maupun fikiran. Ditambah, Nayla tak pernah sekalipun membalas pesan atau mengangkat telvonnya. Ia seperti menghindar. Dan itu membuat Devan semakin frustasi. Ingin sekali menemuinya langsung di rumah, tapi waktu seperti tidak mendukung.


Diliriknya jam di dinding kamar. Sudah hampir pukul sembilan malam. Dilihatnya pesan yang ia kirim pada Nayla, hanya centang biru tanpa ada balasan di sana.


Ia lalu beringsut menuruni ranjang. Menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu. Sekejap kemudian melaju cepat dengan motor menuju rumah Nayla.


"Tok tok tok! Nayla!" Devan berteriak sambil mengetuk pintu.


Dari dalam rumah Nayla mendengar, ia lalu beringsut meraih kerudung dan berjalan mendekati pintu. Sesaat ingin membuka selot kunci, tapi kemudian gerakan tangannya tertahan. Ia ragu sendiri.


"Nayla, buka pintunya!"


Suara Devan terdengar jelas dari balik pintu. "Atau, mau kudobrak sekalian!" ucapnya lagi.


Ya Allah, ini orang, nggak tau udah malam apa yah. Tapi, kenapa dia datang malam-malam begini?


Gemetar tangan Nayla membuka slot kunci. Detik berikutnya, suara yang sedari tadi menggedor pintu itu menghilang. Berganti dengan pemiliknya yang nyelonong masuk ke dalam rumah.


Devan mendapati Nayla masih berdiri menempel dinding, tampak sekali muka gadis itu sembab seperti habis menangis.


Nayla balik memandang dengan ekspresi sarat kesedihan. Pemuda di depannya itu tampak kusut dan berantakan. Juga terlihat sangat kelelahan. Sama sekali bukan gaya Devan yang biasa ia lihat.


"Kamu kenapa nggak balas pesan?" tanya Devan. Nayla diam tak menjawab.


"Kenapa juga nggak angkat telvon?" kembali ia mencecar pertanyaan. Nayla masih saja diam tak sedikitpun membuka suara.


"Kamu masih salah faham sama Aku? Please, ngomong dong, jangan diem aja gini," ujar Devan frustasi. Ini sudah kesekian kalinya gadis itu tak mau bersuara. Sengaja mendiamkannya.


"Dengerin yah, Aku sama Eryn nggak pernah ada hubungan apapun! Jadi, cukup, jangan salah faham terus Nayla," terang Devan lagi.


"Tapi, foto dan video itu," lirih Nayla sambil perlahan menitihkan air di kedua matanya. Hatinya seolah kembali teriris sakit setiap mengingat hal itu.


Devan mengacak rambut sendiri dengan kasar.


"Kamar kamu dimana?" tanyanya dengan menatap tajam ke arah Nayla.


"Apa?" Nayla mendongak, di dapatinya mata elang milik Devan menghujam ke arahnya.


"Kamu pikir Aku pria seperti itu bukan?" Langkah kaki Devan mendekat. Selangkah saja ia sudah berdiri tepat di depan gadis itu.


"Bagaimana kalau sekarang kita buktikan dengan pendapat masing-masing, Kamu perempuan penghibur, dan Aku pria hidung belang?" bisiknya lagi pada Nayla.


Gadis itu mendadak pias. Kedua tangan Devan seketika mengunci tubuhnya di dinding. Ia sedikitpun tidak bisa berkutik. Kedua mata pemuda itu masih menatapnya dengan tatapan tajam. Menelusuri setiap inci wajah Nayla dengan manik hitam yang mencekam.


"Jangan begini, Mas, Aku takut ..." lirih Nayla tertahan.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


__ADS_2