
Pov Nayla
Seperti mentari, ada jarak yang harus membatasi. Biar ku rasakan hangatmu dari kejauhan. Sebab, jika aku berani melangkah semakin mendekat, yang ada aku akan terbakar oleh sengatannya. Menjadi abu yang berdebu.
💕💕💕💕💕
Kembali menjalani hari. Bergumul dengan para pedagang di pasar. Memburu kebutuhan untuk jualan hari ini. Sejauh ini, aku mengandalkan makan dan kebutuhan sehari-hari dari berjualan batagor ikan. Uang sisa pemberian dari Mas Devan, sengaja tak kugunakan. Anggap saja itu tabungan pribadi. Kelak, jika aku benar-benar membutuhkan, aku bisa memakainya kembali.
Bagiku, status sosial seseorang itu sangat mempengaruhi. Mereka pedagang di pasar, sudah hafal betul siapa aku, juga seluk beluk tentangku. Kadang masih ada yang mencibir, karena Almarhumah ibuku yang meninggal secara tidak wajar. Sama seperti kebanyakan orang. Ada yang menyukaiku, tapi banyak pula yang membenciku.
Kebanyakan mereka mengenalku karena pamor Almarhumah Ibu juga Almarhum Bapak, yang terkenal dengan pasangan penunggak hutang.
Dan aku, putri semata wayangnya. Harus menanggung beban malu juga hutang-hutang yang ditinggalkan.
Bagaimana mungkin aku bisa mengharap menjadi perempuan yang spesial untuk Mas Devan. Sedangkan kehidupan kami, sungguh sangat jauh dalam hal kesenjangan.
Belum lagi anggapan tetangga nanti. Aku seperti pungguk yang merindukan bulan. Harusnya aku sadar diri, bahwa aku bukan siapa-siapa lagi.
💕💕💕💕💕
Sudah tiga hari, sejak kejadian di hotel malam itu. Mas Devan tak pernah menghubungiku lagi.
Dia benar hanya menjadikanku rekannya. Kenapa, seperti ada benda keras yang ditekan ke dalam hati. Sakit.
Aku bahkan merindukan mamah Mas Devan. Kebaikan dan kehangatannya, memberiku begitu banyak rasa cinta yang sulit untuk ku lupakan.
Kulihat beberapa lembar pakaian yang tergantung. Pakaian yang hanya kupakai saat menemui Mas Devan juga keluarganya.
Seperti dongeng yang sering kudengar waktu kecil. Cinderella, gadis lusuh yang menjadi putri semalam. Pakaian bagus, kendaraan, semua aku menikmatinya.
Hanya saja, saat kaki menapak kembali ke dalam rumah. Rasa bahagia itu, sekejap saja menghilang sirna.
💕💕💕💕💕
Ibu, Bapak, Nayla rindu. Tak punya teman berbagi, tak tau hidup akan berjalan membawa kemana lagi.
__ADS_1
"Allah ..."
Aku memperlama gerakan sujud. Dhuhaku tak boleh terlewat, hari ini harus berjalan penuh dengan restu dari Nya. Inilah jalanku. Inilah peganganku. Nasehat dari Almarhum Bapak. Tidak mengapa jika tidak ada bahu untuk bersandar. Karena selalu ada tempat untuk kita bersujud.
💕💕💕💕💕
Senja sudah mulai menyapa. Semburat merah jingga di cakrawala, mengingatkanku bahwa sudah waktunya mengakhiri jualan hari ini.
Aku tersenyum getir, melihat dan menghitung berapa banyak rupiah yang kudapat hari ini. Dua puluh ribu rupiah, sedih rasanya. Bahkan, untuk modal saja belum ada separuhnya. Tapi, tidak mengapa, inilah rizkiku hari ini. Nanti malam aku akan makan batagor saja. Bersyukur, setidaknya masih ada yang bisa kumakan.
"Teh, mau batagor yah, makan sini." Aku terperanjat. Demi mendengar suara seseorang yang sudah sangat familiar. Aku mendongak, menatap lekat pemilik suara itu. Kedua tangan bergetar, badan terasa panas dingin, bagaimana dia bisa ada di sini?
"Hallo," ucapnya sambil menjentik-jentikkan jari.
"Mas Devan?" Tanyaku terkejut.
"Hmm," ia menyahut. Memandangku dengan tatapan menggoda. Iyah, aku tertangkap basah.
Aku bingung, juga sangat malu. Penampilanku, ya Allah. Semoga ini mimpi. Atau, ini khayalan semata. Aku kalut, kututup mukaku dengan kedua telapak tangan. Sungguh, aku malu luar biasa.
"Buruan, laper nih," ia kembali bersuara.
"Teh, bungkus dua yah," terdengar lagi suara orang berbicara. Pembeli baru, tetangga dekat rumah.
"Punten yah, udah habis." Mas Devan menyahut.
"Eh, tunggu-tunggu," ujarku menyela.
"Udah ku borong, jangan di jual ke yang lain!" Mas Devan menggertak. Ya Allah, apa-apaan dia ini?
💕💕💕💕💕
Dia pemuda yang aneh. Menyuruhku duduk di depannya. Menghitung berapa banyak suapan yang sudah ia masukkan ke dalam mulut sendiri. Ia menikmati batagor buatanku. Padahal, aku belum sempat menggoreng yang baru. Katanya yang sudah ada aja. Biarlah.
Dia tak bicara. Sibuk menyuap batagor di mulutnya. Wajahnya itu, membuatku semakin sering-sering beristighfar.
__ADS_1
"Udah berapa?" Tanyanya.
"Apa?"
"Iyah, udah berapa suapan tadi?" Tanyanya mengoreksi.
Aku bahkan lupa sampai mana tadi hitunganya.
"Tujuh," jawabku asal.
Ia menarik segaris senyuman. Kemudian menatap lekat ke arahku. Deguban di hati semakin menjadi. Kenapa, dia begitu menawan jika sudah seperti ini.
"Kamu ngitungin suapan apa sibuk ngagumin aku sih?" Tanyanya menggoda.
Aku menelan saliva, gawat, ketangkap basah. Sungguh memalukan.
"Udah ah, mau tutup dulu," ucapku sambil berdiri.
Sungguh aku tidak nyaman. Takut jika keterusan memandang.
"Nay, tunggu." Mas Devan meraih pergelangan tanganku. Ia menahan agar aku tak beranjak pergi. Ia lalu mengambil sesuatu dan meletakkannya di atas meja.
"Jangan lupa datang yah," ucapnya kemudian.
Kulihat sebuah undangan terlampir di sana. "Mas Devan mau nikah?" Tanyaku memastikan.
Ia tersenyum. Menunjukkan baris giginya yang bergingsul di sebelah kiri. Bukan bahagia yang tercipta saat melihat senyum itu, melainkan rasa sakit yang teramat dalam. Dan lebih sakit lagi, saat aku harus terpaksa membalas senyumannya.
💕💕💕💕💕
Pov Devan
Semalam suntuk aku tak bisa tidur. Kejadian di hotel tadi, membuatku berfikir sangat keras. Betapa bodohnya aku, hingga berbuat jahat seperti itu. Tampak jelas ketakutan di wajah Nayla, dia bukan perempuan seperti yang biasa ia katakan. Ia juga tak pernah genit terhadapku. Bukankah perempuan seperti itu selalu gampangan? Tapi, dia tidak. Kalau saja dia mau, pasti dia sudah menjeratku ke dalam jebakannya. Yah, bukankah banyak yang mengakui, bahkan dia pun berfikiran begitu. Aku termasuk pemuda yang terkategorikan tampan. Juga sebagai pengusaha muda yang sukses. Ish!
Kegalauanku tak sebatas sampai di situ. Ustadz Azzam ternyata tidak main-main. Dia benar menawariku. Ia mengirimkan email biodata gadis yang ditawarkannya. Gadis yang tak lain adalah putrinya sendiri. Tentu sudah terjamin ke shalihannya. Dan tentu saja, ia memenuhi kriteria yang selama ini kucari.
__ADS_1
Aisyah Humairah. Usia dua puluh lima tahun. Lebih muda satu tahun dibawahku. Lulusan S2 IPB. Dari kalangan keluarga terpandang juga terpelajar. Pastilah dia akan menjadi calon isteri yang baik.
💕💕💕💕💕