
Entahlah, rasanya kepala ini mendadak pening. Kurang apa coba perjuanganku buat gadis yang bernama Nayla itu. Saat aku sudah bersusah payah sampai akhirnya ia menerima lamaranku, kenapa harus muncul lagi kendala baru. Berapa lama lagi aku harus menunggu.
Kuraih gawai di atas nakas. Membaca kembali pesannya satu jam yang lalu. Pesan yang membuat perasaanku tidak nyaman, juga sangat kepikiran.
[Aku berangkat sendiri aja Mas]
Huh! Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu. Tidakkah dia tau, betapa aku sangat mengkhawatirkannya. Apalagi perjalanan jauh ke Balikpapan. Seorang diri?
Kepalaku rasanya mau pecah. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan.
Dirumah masih ada Mas Rahman dan keluarganya. Kalau mamah ku ajak ke Balikpapan, bagaimana dengan mereka disini? masa iyah ditinggalin?
Kalau menunggu sampai mereka balik ke Surabaya dulu, berarti tambah lama lagi aku harus menunggu. Sebenernya, bukannya nggak mau nunggu. Cuman, takut kehilangan untuk yang kedua kali itu selalu terngiang di telinga.
Belum lagi si Eryn yang sering gentayangan di toko. Meski ada Bagas yang berusaha mengalihkan perhatiannya, tetap saja, dia masih sangat terobsesi terhadapku. Buktinya, dia sesumbar ke seluruh karyawan toko, kalau dia adalah calonku. Ck, dasar gadis aneh!
💕💕💕💕💕
So i say a little prayer
And hope my dream will Take me there
Where the skies are blue
To see you once again
My love ...
Kudengarkan tembang lawas milik weslife dari earphone yang terselip di kedua telinga, sambil sesekali menyesap secangkir kecil espresso, rasanya yang tajam membantu menghilangkan sedikit penat yang akhir-akhir ini datang mendera.
Kulihat arah pintu masuk cafe. Dimana di bagian atasnya terdapat gantungan sejenis lonceng kecil yang akan berbunyi saat ada yang membuka pintu masuk ataupun keluar.
Kulirik jam di layar gawai. Sudah hampir setengah lima sore. Gadis yang kutunggu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Tak sabar, ingin ku ketik pesan lewat aplikasi hijau saja. Tapi melihat pesan yang baru kukirim lima menit yang lalu masih centang satu, aku jadi ragu. Dia sepertinya sedang tidak aktiv.
"Krincing krincing!"
Aku mendongak. Menatap lurus ke arah pintu masuk. Ah, dia sudah datang. Calon istriku itu semakin hari tampak semakin cantik saja, wajah bersemu merahnya itu selalu membuatku rindu. Ish!
"Mas!" sapanya sambil tersenyum. Kemudian menarik kursi di depanku untuk duduk.
"Kenapa lama?" tanyaku.
__ADS_1
"Maaf," jawabnya.
"Mau pesen es cream?" tanyaku menawarkan. Sudah sangat hafal dengan pesanannya setiap kami bertemu di sini.
Nayla menggeleng."Yang anget-anget aja," jawabnya.
Heh?apa?anget-anget? Sekelebat kemudian muncul bayangan di depan mata. Astaga! Segera saja ku tepis! Kok pikiranku menjurus yang enggak-enggak gini, hadeeeh.
"Kenapa, Mas?" tanyanya.
"Enggak," jawabku sontak. Bisa bahaya kalau dia tau apa yang kupikirkan.
"Lemon tea?" tawarku lagi.
Dia mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, dengan memberi kode berupa satu tangan terangkat ke atas. Pelayanpun datang. Mencatat pesanan.
💕💕💕💕💕
"Jadi gimana kesimpulannya?" tanyaku tak sabar.
"Nay berangkat sendiri aja," jawabnya dengan mimik muka sedih.
"Aku ikut yah?"
"Mas, mengertilah. Ini nggak mudah," jawabnya lagi.
Aku menangkap kekalutan di wajahnya. Dia juga seperti sedang tidak nyaman.
"Mas Devan belum tau keluarga Nay di sana seperti apa. Mas Devan juga kan harus kerja? Belum lagi ada saudaranya Mas masih di sini," paparnya sambil memilin jemari sendiri. Dia, bahkan sudah berfikir tentang semua itu.
Padahal aku sama sekali tak memberitahunya. Bahwa itu juga menjadi beban fikiranku akhir-akhir ini.
"Pakai wali hakim aja, yah?" tawarku ragu.
"Mas, Nay masih ada yang bisa mewalikan. Bukankah harus mengutamakan yang ada dulu?"
Aku menghela nafas berat. Rasanya, aku nggak bisa jika harus menunggu lebih lama lagi. Duhai, kenapa cintaku begitu rumit begini.
💕💕💕💕💕
Jika pandangan mata bisa dijaga. Jaga jarak bisa di kendalikan. Tapi, bagaimana dengan hati? Dia bahkan mulai bertingkah liar. Berapa lama lagi harus menunggu? Akankah jalan cinta ini berakhir kandas seperti dulu?
Dia, dimanapun berada.
__ADS_1
Jagalah,
Hanya untukku.
Karena memang hanya untukku.
💕💕💕💕💕
Kulihat jadwal penerbangan di layar besar bandara Hussein Sastranegara. Hatiku mendadak perih, sebentar lagi, dia akan segera lepas landas. Mengambil doa restu, juga penuh dengan harap bahwa ia tak akan kesulitan saat di sana.
"Jaga diri baik-baik yah," ucapku padanya sebelum ia melenggang pergi.
Kulihat tak banyak barang yang ia bawa. Aku sengaja membekali uang untuknya. Mengingat, pasti dia tidak memiliki perbekalan. Belum lagi, saudara di kampungnya yang lumayan banyak. Setidaknya ada oleh-oleh yang harus ia bawa.
Bisa kutangkap, kedua mata miliknya mulai berembun, menatapku sedih. Ia lalu merunduk, menumpahkan rasa dalam diam tangisnya. Dagu lancipnya itu, mendadak saja mengalirkan tetes-tetes air dari kelopak matanya.
💕💕💕💕💕
Pov Nayla
Kenapa, ada lelaki sebaik Mas Devan di dunia ini? Dia, telah melakukan begitu banyak hal untukku. Bahkan, selembar tiket yang kini bersamaku, semua atas pemberiannya. Barang-barang di dalam koperku ini. Semua juga atas pembeliannya.
Rasanya, tak ada lagi yang bisa ku sampaikan untuk sekadar memberinya terima kasih.
Ya Allah, aku sangat menyayanginya. Rasa ini memang telah lama ada, tapi, kenapa untuk meneguk bersama harus ada saja ujian yang mendera.
Aku, bahkan tidak yakin jika Paman mau ikut ke Bandung. Lalu, jawaban apa yang akan kuberikan pada Mas Devan nanti saat aku tiba di sana?
Aku tak tau, apakah keluarga bibi masih mau menerimaku. Mengingat, terakhir kesana Ibu dan Bapak di usirnya.
Ya Allah, semoga saja ini berjalan sesuai harapan kami.
Hatiku mendadak perih. Kembali teringat wajah Mas Devan. Dia sudah seperti menjadi orang yang sangat berarti dalam hidupku.
Tak terasa kedua mata mulai mengalirkan begitu banyak bulir-bulir bening dari sana. Aku menangis sendiri, terisak dalam diam. Aku bingung, tapi tak tau harus seperti apa ke depan.
"Transit dimana?" Terdengar suara seseorang bertanya.
Aku menoleh pada penumpang yang baru saja duduk di sampingku. Dari tadi aku tak memperhatikan saat dia meletakkan barang-barang di bagasi atas.
Aku terbelalak. Bahkan, air mata yang masih menetes belum sempat kuhapus. Lelaki ini, mas Devan?
"Hey, kenapa setiap melihatku selalau mendelik begini?" Protesnya.
__ADS_1
Jadi, dia ikut ke Balikpapan?
💕💕💕💕💕