
"Kalian mesum yah?" Kedua pasangan itu terperanjat. Nayla gelagapan, ia bingung harus menjawab apa. Sedangkan, Devan justeru menarik segaris senyuman, ia seperti punya ide untuk memanfaatkan keadaan.
"Iyah mesum, makanya mau cepetan nikah aja," jawabnya sambil melepaskan Nayla dari pegangan.
"Mas!" Gadis itu mendelik. Tak menyangka apa yang ia dengar barusan.
"Kalian akad aja dulu, resepsinya bisa nanti, menyusul," ucap mamah Devan setelah melihat tingkah putranya.
"Lho, tapi, ini bukan seperti yang tadi mamah pikirkan," sela Nayla.
"Udah, udah, nggak bagus ditunda-tunda lagi," sergah mamah Devan lagi. Ia lalu Mengajak Nayla pergi, bercengkerama bersama Rani dan Rahman di ruang keluarga. Tak diperhatikannya wajah Nayla yang kebingungan.
Saat di kejauhan, Devan memberi kode ancungan jempol kepada mamahnya. Perempuan tua itu tersenyum menanggapi. "Good job!"
💕💕💕💕💕
Fortuner putih milik Devan telah menepi di depan gang rumah Nayla. Di dalamnya, tampak Nayla tengah terpejam dengan kepala bersandar kaca mobil. Dia ketiduran.
Devan memandangi paras gadis itu. Menikmati pemandangan setiap inci wajah Nayla. Saat tidur, ia tampak begitu damai. Ia yakin, jawaban dari Allah tak pernah salah. Itulah kenapa, ia memilih Nayla daripada Aisyah.
Kita tak pernah tau kesulitan hidup apa yang di alami seseorang, hingga kemudian menilai baik dan buruk dengan hanya melihat dari kaca mata manusia.
Betapa banyak kesulitan hidup yang kau alami Nay, kenapa selalu saja berbohong selama ini? Andai saja kamu mau jujur dari awal, tentu nggak akan serumit ini kisah kita, batin Devan.
Gadis di depannya itu menggeliat. Perlahan mengerjapkan kedua matanya. Seketika ia terhenyak saat melihat kedua mata Devan menatapnya secara intens.
Ia mencoba menahan deguban di dalam dadanya. Kenapa Mas Devan melihatku seperti itu? pikir Nayla.
"Udah tidurnya?" Devan membuka suara. Kemudian membuka kaca mobil secara otomatis.
"Maaf," jawab Nayla sambil membetulkan posisi duduk. Ia lalu tergesa mengelap sekitaran bibirnya. Takut jika ada bekas air liur yang tergenang saat dia tidur tadi.
Hening, keduanya menikmati terpaan angin malam yang membelai lembut pipi. Gadis itu tampak ingin mengutarakan sesuatu.
"Mas, maaf yah, aku nggak bisa lagi," ucap Nayla setelah memendam lama kegelisahannya.
"Maksudnya?" Tanya Devan.
"Iyah, Aku nggak bisa bohong terus kayak gini, Mas. Bukan satu dua orang lho, tapi seluruh keluarga Mas Devan ngira kita beneran mau nikah. Padahal kan cuman pura-pura aja," terang Nayla.
Devan tersenyum, ia memahami kegelisahan gadis itu.
"Terus?" Tanya Devan.
"Kita akhiri saja," lirih Nayla.
Devan lalu menarik nafas. Menetralkan hatinya yang berdegub tak kira-kira.
"Aku memang mau nikahin kamu, Nay," ucapnya Devan.
Gadis itu berfikir sejenak. Terlalu takut untuk mengakui kebenarannya.
"Maksudnya, sandiwaranya sampai nanti kita menikah, Mas?"
Astaga, dia masih tidak ngeh juga? Gemas!
"Bukan sandiwara, tapi nikah beneran. Kita suami isteri gitu, paham?"
Sontak saja pipi Nayla bersemu merah. Ia tampak malu mendengar apa yang di ucap Devan barusan. Apakah ini mimpi? Pikirnya. Ia lalu mencubit paha sendiri. Sakit! Berarti bukan mimpi.
Keduanya lalu saling pandang. Menyelami kesungguhan dalam hati masing-masing. Gadis itu merasa seperti di atas awan, tak menyangka jika pemuda yang dikaguminya mengajak menikah. Tapi kemudian, sekejap ia seperti jatuh terhantam. Mengingat status sosial dirinya dengan Devan yang jelas beda dalam ketimpangan.
"Enggak, Mas, Maaf," tolak Nayla. Ia menggusap punggung tangannya sendiri.
"Kenapa?" Devan mengernyit bingung. Apakah ia salah mengira? Karena sejauh yang ia lihat, Nayla seperti memiliki rasa yang sama dengan apa yang Devan rasa.
"Aku kan udah bilang, aku bukan perempuan baik-baik, aku sakit, aku perempuan penghi-"
"Sssssstttt!" Devan menyimpulkan telunjuk di bibir Nayla. Menyuruh gadis itu diam.
__ADS_1
"Jangan di teruskan lagi," ucapnya sambil menarik kembali telunjuknya.
"Aku tak peduli, kamu mau bagaimanapun harus menikah denganku, titik!" Devan membuang muka. Bisa-bisanya Nayla berbohong seperti itu, demi apa? Demi apa?! Batin Devan kesal.
💕💕💕💕💕
Lamat-lamat terdengar suara adzan subuh berkumandang. Rani beranjak bangun dari tidurnya, ia lalu memijit lembut lengan suaminya.
"Mas, udah adzan," ucapnya mencoba membangunkan.
Lelaki di pinggir ranjang itu menggeliat pelan. Ia lalu merentangkan tangannya. "Mas, awas," ujar Rani sambil menepis tangan kanan Rahman. Suaminya itu, seperti sudah lupa ada putri kecil mereka yang tertidur pulas di tengah.
"Maaf," ucapnya kemudian.
"Iyah," jawab Rani sambil tersenyum. Ia mengambil sisir, mengikat rambutnya ke atas kemudian.
"Di Bandung dingin banget dek, Mas juga lapar ini pagi-pagi," ucap Rahman sambil berdiri menuruni ranjang.
"Iyah, beda banget sama Surabaya. Di sini ngga pake kipas angin aja udah dingin, hehehe." Rani terkekeh geli.
"Udah ini, Mas mau ke mesjid dulu yah, pulangnya mau sekalian nyari sarapan," ujar Rahman.
"Nggih, Mas."
💕💕💕💕💕
Setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Rani dan Rahman yang sudah terbiasa harus sarapan pagi-pagi, menjadi serba sungkan saat berkunjung kerumah saudara seperti ini.
"Pagi cantik," sapa Devan sambil mengelus lembut rambut cinta. Pipinya yang gembul menjadi sasaran selanjutnya. Bocah tiga tahun yang sudah mandi itu tampak begitu menggemaskan.
"Mas Rahman belum balik?" Tanya Rani mencoba bersikap biasa saja.
Devan mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. Ia lalu menarik kursi. Ikut mengoles roti dengan selai di dapur.
"Kamu, apa kabar?" Kembali Rani membuka suara.
"Baik," jawab Devan dingin. Membuat Rani semakin tidak enak. Ia lalu memilih diam saja, menyuapi cinta dengan roti bakar buatannya.
"Alhamdulillah baik juga," jawab Rani. Ia kembali menyuapi cinta.
"Kamu hebat, bisa sesukses ini," ujar Rani mengangkat topik pembicaraan. Bagaimanapun juga, ada hal yang ingin ia sampaikan. Itu juga atas izin dari suaminya, Rahman.
"Alhamdulillah," jawab Devan sambil menumpuk lembaran roti berikutnya.
"Maaf, Van."
"Untuk apa?"
"Aku baru tau semuanya, itupun dari Mas Rahman."
Devan menarik senyum. "Tentang orang tuaku?" Tanyanya kemudian.
Rani mengangguk. Lelaki di depannya itu menatap lembut. "Yang udah terjadi biarlah terjadi, nggak perlu di bahas lagi," jawab Devan kemudian. Ia lalu menyuap roti isi selai ke dalam mulutnya sendiri.
Rani menarik nafas pelan. Ia seperti harus extra hati-hati dalam berucap.
"Kamu, kapan jadi nikah?" Tanya Rani.
"Secepatnya, takut kelamaan nanti di ambil orang, kaya dulu lagi," jawabnya.
Rani menelan saliva. Devan ternyata masih saja mengungkitnya.
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Rani memastikan. Devan kembali tersenyum. Di pandanginya wajah iparnya itu. Ah, masih sakit, tapi berusaha menepis.
"Enggak," sangkalnya. "Lagian, kita sudah berada di jalan masing-masing. Di depan kita sudah ada pasangan masing-masing. Kalau kita kembali ke belakang, berapa banyak hati yang akan patah dan terluka? Tau kan gimana rasanya? Sakit!" Tambahnya.
Devan berdiri, ia lalu memilih beranjak pergi. Luka di hatinya memang perlahan sembuh, tapi saat kembali di buka, ia menunjukkan betapa sakitnya masih terasa.
Rani dan Devan tak menyadari. Jika dari tadi ada sepasang telinga yang mencuri dengar. Perempuan tua itu, mamah Devan, ikut perih mendengar keluhan putranya. Perlahan muncul titik air di kedua sudut matanya. Anakku, sedalam apa rasa cintamu? Batinnya getir.
__ADS_1
💕💕💕💕💕
Ada banyak hal yang ingin di bedah. Ada banyak cerita yang ingin di bagi. Perasaan bersalah terus saja mengejarnya, meski ia tak pernah terlibat dalam hal itu. Namun apa hendak dikata, perbuatan keji itu, tak lain tak bukan dilakukan ibunya sendiri.
"Rahman nggak punya salah sama Ibu, Nak," ujar mamah Devan.
"Toh, Rahman taunya setelah menikah, Bapak yang salah, tapi, sudahlah, ndak perlu di bahas lagi," tambahnya kemudian.
Rahman menatap lembut perempuan di depannya itu. Perempuan yang telah terenggut kebahagiaannya, oleh Ibunya sendiri.
Sedari kecil, ia tinggal bersama kakek neneknya. Ia tak pernah tau bahwa Ibunya merebut suami orang. Saat mereka menikah, yang Rahman tahu, Bapak tirinya itu mengaku berstatus duda.
"Devan sama Rahman dipersatukan dalam ikatan keluarga. Meski hanya sebatas saudara tiri, tapi Ibu bersyukur, kalian bisa akur seperti ini," nasehatnya lagi.
Devan serius mendengarkan. Ia tak tau lagi harus berkata apa. Sesekali Rahman melirik adiknya itu, melempar senyum kepadanya.
"Kalian, teruslah seperti ini, jangan terhasut meski oleh keluarga sendiri."
"Nggih, Ibu."
"Iyah, Mah."
Sahut Devan dan Rahman bersamaan.
💕💕💕💕💕
Devan menginjakkan kakinya. Berdiri tepat di depan rumah kecil milik Nayla. Di edarkannya pandangan ke sekeliling. Tampak jauh berbeda dengan deretan rumah yang lainnya.
Bangunan sederhana semi permanen. Sebagian bata, sebagian seng, sebagian kayu. Membuatnya harus menahan rasa perih berkali-kali.
"Tok, tokk!" Ia mengetuk pintu.
"Assalamualaykum," teriaknya.
"Wa alaykumussalam warahmatullah," sahut Nayla dari dalam. Ia tergesa membuka pintu.
"Krrieeeet," pintu terbuka. Kepala Nayla tampak menyembul dari sana. Ia kaget, melihat siapa yang berdiri di depan rumahnya. Shock, ia lalu menutup pintu kasar.
"Braakkkk!" Nayla menutup pintu kembali.
"Hey, nggak sopan!" teriak Devan gemas.
"Mas Devan ngapain kesini? Kenapa kemari ihh!" teriaknya dari balik pintu.
"Hey, buka!" Devan kembali berteriak. Sambil sesekali menggedor pintu. Membuat gaduh juga berisik.
"Ngapain ihh? Mas Devan pergi gih," ucap Nayla masih dari balik pintu.
"Kamu ngusir, Aku?"
"Enggak, tapi jangan di sini," tolak Nayla halus.
"Kenapa?"
Mereka masih saling menjawab dari balik pintu.
"Rumahku jelek, berdebu," lirih Nayla bersuara. Meski begitu, Devan masih bisa jelas mendengarnya.
Devan tak peduli. Ia lalu mendorong sekuat tenaga, pintu kayu yang tak bergagang itu. Tubuh Nayla yang kecil tak cukup kuat untuk menahan dorongan dari luar. Ia lalu beringsut kepinggir. Di susul langkah kaki Devan yang nyelonong masuk ke dalam rumah.
Pemuda itu kemudian duduk di bawah tanah yang beralaskan tikar. Hatinya kembali teriris perih, Nayla pantas saja menghindarinya seperti tadi. Pastilah ia minder sekali.
"Mas Devan, ngapain kesini?" Nayla bingung. Ia masih berdiri di dinding rumah sambil terus memperhatikan.
"Nengokin calon Isteri," jawabnya sambil membuka sepatu. Kemudian melepas jaket karena gerah.
"Mas ngapain?!" Pias muka Nayla. Ia sudah berfikir yang tidak-tidak.
Devan semakin menggoda. Ia tersenyum melihat ekspresi Nayla yang ketakutan.
__ADS_1
Astaga, baru juga jaket dia sudah setakut begini. Gimana nanti kalo udah nikah? Ia semakin gemas.
💕💕💕💕💕