
"Bruaaakh! Bugh! Bugh!" Berkali bogem mentah mendarat di muka Devan.
"Brengsek juga lu ternyata!" Bagas kesetanan, ia menendang perut Devan dan mengumpat berkali-kali.
"Brruaaaakkkh!" Devan mendorong kasar tubuh Bagas hingga tersungkur ke belakang. Cepat ia lalu menarik kerah kemejanya. Membuat Bagas terangkat tinggi-tinggi.
"Berpikirlah jernih, bodoh!" tukas Devan tajam. Kemudian sekejap saja menghempas kasar pegangannya. Devan muak sekali.
Dipandangnya dengan tatapan nyalang sepupunya itu. "Kau ada berapa lama mengenalku daripada gadis murahan itu?" cecar Devan lagi sambil menunjuk-nunjuk muka Eryn.
Gadis itu ketakutan. Bagaimana jika Bagas tau kebenarannya? Bagaimana jika Bagas lebih percaya Devan daripada dirinya? Bagaimana? Bagaimana?! Eryn memekik dalam hati.
Bagas hanya diam. Mencerna kata-kata Devan perlahan. Ia lalu mengalihkan pandang pada Eryn, menatap tajam pada gadis yang sekujur badannya terbalut dengan selimut itu.
"Beri aku penjelasan!"
💕💕💕💕💕
Perih di muka bisa di tahan. Tapi perih di hati tak lagi bisa di ajak kompromi. 'Bagaimana mungkin Bagas bisa berpikir demikian. Tidakkah dia mengenalku lebih dari siapapun?' pikir Devan dalam-dalam.
Ia memilih merebahkan punggungnya saja di atas kasur. Saat ini, bukan hanya pikirannya yang berkecamuk. Bahkan hatinya menuntut untuk menahan gelisah lebih lama.
Memikirkan betapa sialannya Eryn karena menjebaknya, membuat pertikaian dan kesalah pahaman besar diantara dia dengan sepupunya sendiri. Devan menggeleng-gelengkan kepala. Gadis tak waras! umpatnya dalam hati.
💕💕💕💕💕
Rasa tenang timbul kala rintik air hangat dari shower menimpa tubuh atletis milik Bagas. Rasanya seperti sedang meluruhkan segala beban juga pikiran. Ia menghabiskan beberapa menit di kamar mandi. Meski detak jam dinding menunjukkan bahwa ini telah malam.
Bayangan wajah Eryn tergambar jelas. Gadis yang membuat dirinya, harus berkelahi dengan sahabat yang juga sepupunya sendiri, Devan.
"Aaaaaaaargh!" Berkali ia meninju dinding kamar mandi. Dia dengan segudang rasa sakit hatinya mencoba berpikir jernih. Benar-benar berpikir tanpa melibatkan hatinya. Kesimpulannya hanya satu, dan memang ia telah berpikir dari tadi tentang itu.
"Kamu sakit, Eryn," ujar Bagas lirih.
💕💕💕💕💕
Muka sembab. Mata bengkak sebab lama ia menangis. Menyesal tiada guna. Kepercayaan tak lagi bisa ia dapatkan. Dari seseorang yang selama ini berusaha ia manfaatkan.
Bagas tak lagi mendengarnya. Tuduhan demi tuduhan yang ia katakan untuk memfitnah Devan, tak di sambut baik oleh Bagas.
"Bagaimana mungkin dia melakukan itu, Ryn. Kau lihat bukan? bahkan ia masih berpakaian lengkap," ujar Bagas sambil menggelengkan kepala.
"Jadi, kau masih menginginkannya?" tanya Bagas lagi.
Diam, Eryn tak menjawab. Ia sudah tak tau harus berkata apa. Bagas sedikitpun tak percaya dengan ucapannya. Bahkan tatapan sayang itu, tak lagi ia dapatkan dari pemuda yang telah menggila kepadanya.
__ADS_1
Hanya satu malam. Eryn berhasil meruntuhkan segala kepercayaan juga hubungan yang telah Bagas bangun.
"Kita akhiri saja, kau tak benar menginginkanku."
💕💕💕💕💕
Pandangan mata bisa menipu. Kesalah pahaman bisa terjadi jika kita tak pernah berpikir jernih. Menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu kebenarannya dulu merupakan sebuah tindakan bodoh yang akan berkali-kali di sesali.
Drama kehidupan memang kejam. Jika tak pandai menempatkan diri, juga tak pandai mengatur hati dan emosi. Pikiran yang tak sinkron, bisa membuat kacau berantakan sebuah hubungan.
"Sorry!" Bagas mengulurkan tangan.
"Sudahlah," jawab Devan singkat. Egonya berkata agar tak lagi berbicara dengan Bagas. Sakit hatinya masih terasa membekas.
"Kamu, carilah gadis lain. Eryn bukan gadis baik-baik," ujar Devan menasehati. Bagaimanapun ia tak ingin sepupunya salah memilih pasangan hidup.
"Kami sudah putus," jawab Bagas mantap.
💕💕💕💕💕
Perjalanan panjang kembali di lalui. Menuju kota kembang dengan moda transportasi darat. Ketiga hati sedang menyimpan beban sendiri-sendiri.
Hubungan yang retak selama satu malam berhasil di atasi. Kecuali satu, hubungan Eryn juga Bagas. Yang tak lagi terjalin erat alias kandas. Keduanya saling diam. Tak ada pegangan mesra. Tak ada kata manja. Tak ada lagi tawa bersama. Benar-benar pupus.
Di satu sisi, Devan dengan berbagai pikiran-pikirannya. Tentang Nayla, istri yang sangat di cintainya.
'Gadisku itu, masihkan ia mau menerima saat keadaanku jatuh di bawah?' batinnya dalam hati.
Masihkah ia mau membersamai saat melihatku jatuh miskin?
Benarkah ia mencintaiku bukan karena harta yang kupunya?
Benarkah ia menyayangiku karena apa adanya, bukan karena ada apanya?
Pikirannya dijejali segudang tanya. Membuat Devan gelisah. Bahkan sampai setiba ia dirumah.
💕💕💕💕💕
Sejak pulang, Devan tampak murung. Dia lebih sering terlihat diam dan termenung.
"Nay," lirihnya memanggil Nayla. Gelisah dalam hatinya seperti tak dapat lagi ia bendung.
"Kenapa, Mas?" Nayla mendongak. Menatap lekat wajah lelaki yang berbaring di sampingnya.
"Jangan tinggalin, Mas, yah?" Devan mengelus lembut pipi Nayla. Ia sudah sangat rindu pada istirnya itu.
__ADS_1
"Kenapa ngomong gitu, Mas?" Nayla mendekap lebih erat.
Diam.
Devan tak lagi bersuara. Pikirannya sungguh sangat terbebani. Ia sendiri tak tau harus memulai dari mana.
"Mas ada masalah sama kerjaan?" Nayla menebak.
"Jika suatu saat Mas jatuh di bawah, Nay masih mau nemenin nggak? Meski kita hidup pas-pasan, atau bahkan, serba kekurangan," ujar Devan terbata. Ia berulang kali harus menahan nafas.
"Ya Allah, apa Nay mencintai Mas Devan hanya karena materi? Mas masih ragu?" Nayla kembali mendongak. Melihat mata Devan yang tampak sayu tak bersemangat.
Kembali dipeluknya Nayla, erat dalam dekapan. Hatinya menjadi lebih tenang sekarang.
💕💕💕💕💕
Pagi-pagi menjadi sangat sibuk bagi Nayla. Seolah harus mengurus dua bayi yang sedang sama-sama membutuhkan perhatiannya.
Devan masih belum bisa menuntaskan rasa rindu. Sebab bayi mungil miliknya baru berusia tiga minggu. Ia hanya ingin merengkuh sang kekasih hati. Lebih dalam hingga ia benar tenggelam, nyaman.
Hadziq pintar sekali. Sejak Ayahnya tiba di rumah, ia jarang rewel tengah malam. Itu semua terjadi karena Devan kembali setia begadang.
Saat buah hatinya terbuai dalam mimpi. Ia baru bisa menikmati masa-masa bersama istrinya. Meneguk kebahagiaan bersama. Rasa yang semakin dalam karena cinta yang telah tertanam.
"Mas," panggil Nayla lirih.
"Iyah?" Dipandangnya wajah cantik istrinya itu. Semakin bersinar saja sejak ia menjadi ibu. Membuat Devan semakin sayang padanya.
"Kenapa nggak ngehubungin sama sekali waktu di Banyumas?" tanya Nayla penasaran. Dia sudah lama sekali ingin menanyakan ini pada Devan.
"Mas nggak mau, Sayang jadi kepikiran," jawab Devan sambil membelai lembut rambut Nayla.
"Kepikiran?"
"Iyah!"
"Kepikiran apa, Mas?" Nayla mengernyit bingung.
"Mas cuman pake nomer kantor. Itu juga seringnya buat degerin musik. Sambil liat foto-foto kita," ujar Devan sambil mendekap semakin dalam. Ia sangat rindu sekali.
"Iyah makanya Nay nanya juga ihhh, emang kenapa?"
Devan menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Ia ingin menyampaikan sejak awal. Hanya saja takut istrinya semakin salah paham.
"Takut banyak emak-emak KBM yang nyamperin Mas di hotel. Kan bahaya! You know lah, penggemar Masmu ini bejibun."
__ADS_1
💕💕💕💕💕