Kepingan Hati

Kepingan Hati
Hasutan Eryn


__ADS_3

Pov Devan


Menyenandungkan lagu. Menikmati hari. Rasanya sudah tak sabar. Sebentar lagi aku akan kembali ke kota kembang. Bertemu kembali dengan jagoan juga bidadari-bidadariku. Ah, bahagianya.


Kulihat Eryn dan Bagas siap berkemas. Mereka akan membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga. Tadinya mereka mengajakku, tapi, aku tak berminat ikut. Ingin sendiri saja. Menghabiskan dua hari terakhir di kota yang terkenal dengan mendoannya.


"Yakin nggak mau ikut, Van?" tanya Bagas.


"Enggak, nitip aja yah, lagi males kemana-mana," jawabku beralasan.


"Oke," sahut Bagas.


💕💕💕💕💕


Kamar nomer 122


"Kau tahu betapa aku sangat menginginkanmu?


Kau tahu betapa aku menjadi gila seperti ini karenamu?


Kau tahu betapa ... Aaaaaargh!" Eryn menunjuk-nunjuk foto Devan yang sengaja ia pasang di dinding kamar.


Frustasi. Semua rencananya tak ada yang berjalan mulus. Lelaki yang di dambanya tak kunjung melirik.


Mengumpat. Memaki. Ia meluapkan semua emosinya di depan foto Devan. Ia sungguh tampak berantakan.


Puas hatinya, ia lalu terduduk di lantai dekat ranjang. Berapa kali ia mencoba untuk bisa berhenti menggilai Devan. Tapi ia tak bisa. Tak pernah bisa karena Devan selalu menjadi obsesinya.


"Menginginkan milik orang lain itu sangat buruk. Tapi melihat orang yang kita sayangi berbahagia bersama orang lain itu, sakit!" Eryn menutup muka dengan dua telapak tangannya sendiri. Ia menangis. Sesenggukan. Menahan gejolak dalam dadanya. Belum pernah ia merasakan rasa seperti ini.

__ADS_1


"Cinta bertepuk sebelah tangan? Oh, Tidak! Tak boleh ada yang menolakku! Tak boleh!!"


💕💕💕💕💕


Detak jam di dinding kamar menunjukkan waktu pukul delapan malam. Devan telah berkemas sejak tadi sore, untuk kepulangannya besok, kembali ke kota Bandung. Ia sedang menikmati lantunan lagu dari earphone yang terselip di kedua telinga. Sambil memejamkan kedua matanya, membayangkan wajah Nayla yang saat ini pasti sedang merindu.


Tiba-tiba saja dering gawai memekik membuat telinganya berdengung sakit. Cepat-cepat ia lepas earphone yang terpasang. Diliriknya benda pipih di tangan. Sebuah panggilan dari nomer tak dikenal. Devan mengernyit. Nomer Asing? Ingin mengangkat, tapi khawatir jika itu nomer istrinya, Nayla. Jika tak di angkat, ia khawatir itu nomer kolega.


Akhirnya ia memilih mengangkat saja.


Untuk sejenak tak ada suara yang menyahut dari seberang. Diam, hanya terdengar suara nafas yang tak teratur.


"A' tolongin Eryn ... A' Bagas, dia," terdengar suara berbisik dari seberang panggilan. Juga suara isakan tangis yang tertahan.


"Hallo, iyah, Eryn? Bagas kenapa?" panik Devan bertanya. Suara Eryn jelas seperti sedang ketakutan.


"Dia ... hiks, A cepetan kesini, Eryn takut, tolong demi kehormatan Eryn, jangan hubungi petugas hotel, ini masalah pribadi kami, tolong ... hikss," isakan semakin jelas terdengar.


'Apa tadi dia bilang? kehormatan? apa? maksudnya apa? apa Bagas berusaha ...,' batin Devan menerka-nerka.


💕💕💕💕💕


Tergesa Devan berjalan menuju kamar yang telah Eryn sebutkan. Tangannya mulai memegang knop pintu. Perlahan gerakannya memutar, membukanya.


Kedua matanya terbelalak mendapati kamar hotel tempat Eryn menginap berantakan dan acak-acakan.


"Eryn!" teriak Devan sambil mencari. Dilihatnya kondisi kasur yang tak lagi beraturan posisinya. Bantal tejatuh di bawah. Juga pakaian yang tercecer di lantai. Membuat Devan semakin tajam menyimpulkan sebuah keadaan.


Pikiran Devan tak lagi bisa di ajak kompromi. Hatinya berkata ragu. Tapi melihat fakta seberantakan ini, dia menjadi percaya. Bahwa mungkin, Bagas telah melakukan sesuatu pada gadis itu.

__ADS_1


Telinga Devan menangkap suara isak tangis yang ia duga milik Eryn. Ia lalu mendekati sumber suara, yang berasal dari kamar mandi.


"Eryn?" Devan mengernyit. Seketika juga ia membuang muka. Panas, wajah putihnya berubah menjadi merah.


Gadis itu hanya bertutupkan selembar kain saja. Meringkuk di sudut kamar mandi. Dengan wajahnya yang pias dan ketakutan.


"Maaf," ucap Devan lirih dengan masih membuang muka. Ia lalu mencari apa saja untuk menutupi tubuh gadis itu. Eryn tak bersuara, ia hanya menatap lekat ke arah Devan. Tangannya sedari tadi masih memgang telvon genggam.


'Bagaimana mungkin Bagas bisa berbuat seperti ini?' Devan membatin.


"Kamu, pakailah baju, Aku akan menggu diluar. Jangan takut, nanti kita selesaikan," ucap Devan menenangkan. Kali ini ia berusaha selembut mungkin. Tak ingin batin Eryn semakin tertekan.


Saat Devan hendak melangkah keluar. Eryn segera berdiri memeluk pemuda itu dari belakang. Ia menangis. Menumpahkan segala rasa yang ada. Dia hanya inginkan Devan. Bukan yang lain.


"Lepaskan Eryn!" Devan menepis kasar. Ia melepaskan diri dari tubuh Eryn yang semakin menempel padanya.


"Jangan begini, tolong, jangan begini A," lirih Eryn berucap.


'Eh apa? emang aku ngapain?' Devan membatin.


Eryn semakin aneh. Gadis itu sesenggukan dan meracau berkali-kali berkata jangan.


"Jangan, A, Jangan lakukan itu. Please, jangan," lirih Eryn berkali.


"Kamu udah gak waras!" Devan mendorong kasar. Belum sempat ia berbalik, terdengar suara teriakan Bagas nyaring melengking.


"Bruaaakkh! Bugh! Bugh!" Berkali bogem mentah mendarat di muka Devan.


"Brengsek juga lu ternyata!" Bagas kesetanan. Ia menendang perut Devan dan mengumpat berkali-kali.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


__ADS_2