
Pagi hari tiba. Semalam, aku memilih tidur di mushalla rumah sakit. Pagi-paginya badan terasa sakit sekali. Mungkin karena hanya beralaskan lantai saja. Tanpa selimut ataupun bantal sebagai penopang kepala.
Usai menjalankan shalat subuh, sejenak kuluangkan waktu untuk membaca Al Qur'an. Bacaan terbaik sepanjang masa. Tak pernah berubah dalam keadaan apapun. Senantiasa menemani hari-hariku. Sama seperti dulu. Saat dalam pesakitan, juga luka diri yang dalam.
Teringat kembali istriku, Nayla. Saat ia hamil dulu, selalu saja senang dengan bacaan surat Ar-rahman yang kulantunkan. Lagi-lagi aku rindu padanya.
***
[Selamat pagi, sayang] Kukirim sebaris pesan padanya. Beserta foto selfie yang kuambil di depan mushalla. Masih tetap ganteng sih, hanya saja muncul bulu-bulu halus di dagu.
"Tring!"
Satu pesan balasan kuterima.
[Pagi juga Sayang] Balasnya sambil mengirim emotikon menjulurkan lidah.
[Kirim foto] Balasku cepat.
[Dih, masih pagi gini ihh. Belum mandi Nay, mah.] Ia membalas tak kalah cepat. Ish! Dia tidak tahu apa betapa aku sangat merindukannya.
[Nay, Mas kangen] Kembali kukirimkan pesan. Belum sempat ia membalas. Kupencet segera tombol videocall untuknya. Rindu sekali. Apalagi pada jagoan kecilku.
__ADS_1
Nayla langsung mengangkatnya.
"Kamu pakai selimut?" tanyaku begitu gambar wajahnya terlihat jelas.
"Iya atuh. Kan Mas lagi diluar, kalau ada yang liat Nay ga pake kerudung, bagaimana?" sahutnya sambil menjulurkan lidah. Aih, dia meledekku.
Kulirik ke kiri dan kanan. Masih sangat sepi dan tak ada satupun orang.
"Gak ada orang sayang," ucapku sambil mengedipkan sebelah mata.
"Ish, Mas Devan mah!" ucapnya menimpali. Tampak kedua pipinya memerah. Ia sedang tersipu malu sepertinya. Istriku itu, meski hampir dua tahun menikah, sifat pemalunya masih tetap sama. Tak banyak berubah.
"Masih tidur, Mas. Ih, masih juga setengah enam." Nayla menimpali. Ia lalu bergerak menuruni ranjang. Menuju kasur bayi milik Hadziq.
Kulihat dengan seksama. Wajah putraku itu. Kedua matanya terpejam sempurna. Wajahnya mirip sekali denganku. Garis wajahnya, ah ... dia, juga mirip dengan Ayahku.
Hari ini aku ada janji. Akan segera ku urus semua berkas untuk mengeluarkannya. Baktiku untuk Ayah. Meski kejadian menyakitkan, pernah ia torehkan cukup dalam.
***
Aku berjalan membawa sebungkus makanan. Sudah kupastikan, iparku itu belum makan sejak tadi pagi. Beruntung di sini banyak pedagang makanan. Tak harus jauh-jauh untuk mengisi perut yang kelaparan.
__ADS_1
Langkah kaki menuntunku berjalan masuk kedalam ruangan. Kulihat Rani sedang terdiam memandangi Mas Rahman. Kasihan sekali dia. Gadis yang tak tahu apa-apa.
"Makanlah, aku yang jaga. Kita gantian," kataku sambil menyodorkan sebungkus nasi untuk Rani. Ini sudah hampir jam tujuh, dia pasti belum makan.
Rani menerimanya, sambil menatap lekat ia berucap terima kasih.
"Belum ada pergerakan?" tanyaku memastikan keadaan Mas Rahman. Rani menggeleng pelan. Ia lalu berdiri kemudian berjalan hendak meninggalkan ruangan.
"Nitip Mas Rahman ya, mau ke kamar mandi dulu," ucapnya sambil tersenyum.
"Sekalian ke kantin. Kamu mungkin butuh snack untuk berjaga di sini. Nanti jam sembilan, aku ada perlu." Kujelaskan rencanaku sekalian.
"Kemana?" tanyanya.
"Ke tempat Ayah. Ibu Mas Rahman, dimana?" tanyaku sebelum Rani benar-benar pergi.
"Ibu, terseret dengan kasus yang sama," ucap Rani lagi. Kulihat raut wajahnya semakin sedih.
"Ah sudahlah, kamu makanlah dulu."
***
__ADS_1