Kepingan Hati

Kepingan Hati
Gertakan Eryn


__ADS_3

Sebuah garis melengkung tertarik di atas bibir. Berbanding terbalik dengan perasaan yang ada. Tersembunyi dalam hati. Perih, sakit, juga terbakar.


Sebuah kalimat yang kembali menghempaskan perasaan hatinya dalam sekejap. Menyadarkan diri, akan batasannya yang tak boleh dilanggar. Betapa, dia sudah sangat jauh melangkah. Juga berharap pada tingginya langit yang tak mungkin diraih.


💕💕💕💕💕


Suasana terasa panas di dalam mobil. Baju terbuka yang dikenakan ternyata tak cukup memberi ruang untuk hatinya yang gerah. Betapa sudah ia berusaha, tapi pemuda keras kepala di sampingnya itu sedikitpun tak bergeming.


"Silahkan saja maumu apa, Aku tak pernah ambil pusing," Devan mengendikkan bahu. Ia harus terpaksa menunda kepulangannya ke Bandung, membereskan terlebih dahulu perkara yang dibuat Eryna semalam.


"Kamu, semakin terlihat rendahan," sindirnya lagi.


"Jadi, Kamu nggak akan nikahin Aku? Setelah kejadian malam itu?" Eryna memekik. Nanar ia memandang kedua mata Devan.


"Apa yang kulakukan?" Devan menatap nyalang. Ia sudah geram sekali. Bisa-bisanya gadis itu melakukan perbuatan rendahan saat ia tak sadarkan diri.


"Kalau Aku nggak nikahin kamu, emang kenapa?" Devan mengancam. Ia lalu menggelengkan kepala sendiri.


Eryn tersenyum sinis. "Yah bersiaplah, Aku akan menyebarkan video dan foto itu. Kamu nggak takut kalo misal Mamah kamu tahu?" Ancamnya kemudian.


Devan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil, ia terlihat sangat tenang sekali.


"Silahkan saja," jawab Devan sambil tersenyum. "Mamah lebih tau, Aku seperti apa dimatanya," tambahnya lagi. Ia lalu meraih gawai, mengetik sebuah pesan di sana.


"Pekerjaan kamu?" Eryn kembali menakuti Devan. Pemuda itu masih tetap pada pembawaannya, tenang sekali.

__ADS_1


"Oh itu, bisa dibicarakan."


"Gadis kampungan itu?"


"Hey!" Devan geram. Ia menatap nyalang pada Eryn. Paham betul yang dimaksudnya adalah Nayla.


"Justeru Aku yang akan menuntut jika sampai semua itu tersebar. Mau dibawa ke ranah hukum sekalian? Kamu, gadis licik! Rendahan! Tak punya otak! Tak tau malu! Gak mikir gimana nanti Papah Mamahmu tau kenyataannya? Ck!" Teriak Devan meledak-ledak. Ia tersulut emosi saat menyinggung Nayla.


Eryn terkesiap. Kata-kata Devan bukan hanya menyakitinya, tapi juga membuatnya tersadar. Bodohnya ia kenapa tak memikirkan papah juga mamahnya. Ia justeru akan membuat malu mereka. Apalagi Devan sudah bersikukuh tidak akan menikahinya.


💕💕💕💕💕


Decit rem melengking nyaring. Mobil putih milik Devan berputar tepat di depan Nayla yang baru saja pulang dari pasar. Ia masih dengan belanjaan di kedua tangannya tampak sangat ketakutan. Mengira akan tertabrak dan mati karenanya.


Lelaki yang empat hari menghilang itu kemudian turun. Memandang lekat ke arah Nayla yang masih terpaku di tempatnya.


"Enggak!" Jawab Nayla tak kalah tinggi.


"Cepet masuk!" Titahnya lagi.


"Enggak, terima kasih," jawab Nayla sambil melenggang pergi. Ia lalu melangkahkan kakinya. Berjalan cepat meninggalkan Devan.


Sebuah tarikan membuat belanjaannya nyaris jatuh. Sigap, Devan meraih semuanya dan memasukkan ke dalam mobil.


"Mas, sudahlah, tolong jangan ganggu saya lagi," lirih Nayla bersuara. Ia hendak mengambil kembali belanjaannya tapi tertahan saat Devan justru menarik tanganya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Undangannya, sudah di isi?" Devan membuka suara. Tak diliriknya sama sekali Nayla yang tidak nyaman di dalam mobil bersamanya.


"Mas, sudahlah, saya tidak tertarik lagi."


Oh, apa? Dia mulai meng saya-saya? Devan mendadak gemas.


"Saya sadar diri, saya tau betul siapa saya, saya juga punya perasaan, jangan di sakitin gini, bukannya Mas Devan sendiri yang bilang mau nikah sama kekasihnya Mas," papar Nayla pada Devan.


Seketika ia teringat pada Eryn. Ah, gadis itu memang keterlaluan. Devan lalu menarik senyum ke atas, masih tak menjawab segala penuturan Nayla.


"Kamu, sudah salah faham Nay," lirih Devan kemudian. Saat terdengar suara gadis itu semakin parau. Ingin membiarkannya kok yah nggak tega.


"Dia menjebakku," tambahnya lagi.


Nayla mendongak, menatap wajah pemuda yang masih fokus menyetir dengan tatapan memandang lurus ke jalan raya.


"Sepertinya Aku nggak perlu nunggu lagi jawaban dari kamu," ujar Devan sambil tersenyum.


"Kamu ... cemburu, kan?" Tanyanya lagi. Dilirinya Nayla yang masih bingung mencerna kalimat Devan.


"Bukankah sudah wajar kalau Mas Devan memilih yang lebih baik dari Nay, yang cantik, kaya, pendidikan tinggi, juga sederajat sama Mas Devan," ucap Nayla dengan suara yang bergetar. Rasa sakit di hati masih sangat terasa, saat ia teringat kembali foto dan video yang ia terima. Detik berikutnya, kedua matanya telah basah oleh air mata. Devan terasa semakin perih.


Dilihatnya gadis itu yang sudah sembab mukanya. Devan kemudian menepi, mencoba kembali meyakinkan bahwa ini semua hanya sebuah salah faham. Di pandanginya kedua manik cokelat milik Nayla, berharap masih ada kepercayaan di sana.


"Nayla, please, mengertilah, kamu tahu bukan aku seperti apa? Bahkan saat di club malam itu, bersamamu..."

__ADS_1


💕💕💕💕💕


__ADS_2